"Siapa namamu ?", terdengar suara dari mulut seorang pria berperawakan tinggi, berisi, sepertinya seorang yang normal, tidak terlalu sering berolahraga. Aku juga belum jelas bisa melihatnya, masih kabur karena..., tidak, sudahlah.
"Namamu siapa, dek ?" aku mengedipkan mataku berkali-kali agar mataku terkena cairan yang berada di kelopak mata agar dapat melihatnya dengan jelas. Dia terus bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja ?"
"Ekh, maaf, aku sekarang berada di mana ?"
"Kamu baik-baik saja ?" dia ternyata tidak menjawab pertanyaanku, terus bertanya dengan pertanyaan yang serupa.
"Aku baik-baik saja," aku tahu, sebelum dia menanyakan namaku, aku lalu memberitahunya, "Namaku, Deviana, Deviana Ananda Putri, panggil saja Devi,"
"Ohhh, aku Erin, salam kenal, apa yang kamu lakukan tadi, adalah salah satu hal yang paling bodoh yang pernah kulihat selama ini,"
"Eh, maaf, aku menyusahkanmu yah, tampaknya kamu kerepotan membuatmu seperti ini,"
"Tidak apa-apa, aku ini laki-laki, hal semacam itu, bukanlah masalah besar," Dia mengatakan itu dengan muka yang berbeda dari sebelumnya, "Tapi, mengapa kamu melakukan itu ?"
Mendengar dia bertanya seperti itu, aku tertunduk, menangis. Aku tidak bisa melupakannya, kejadian yang amat sangat pedih di hatiku. Sungguh menyakitkan. Teganya dia. Dia lalu memberiku sebuah cokelat panas untuk menghangatkanku. "Devi ?, kamu mau menceritakannya tidak ?, mungkin jika kamu menceritakannya, hatimu akan tenang,"
Aku begitu gugup, pikiranku kosong, aku tidak bisa apa-apa, aku membeku. Di dalam ruangan ini, aku merasa sendiri, terpuruk ke bawah, tidak bisa mencapai cahaya di atas sana. Dilandah kesedihan.
"Devi ?", tiba-tiba suara itu mengagetkanku, membangkitkanku dari imajinasi mengerikan itu. "Yah ?"
Dia lalu memberi isyarat untuk menceritakannya, mungkin dia benar, mungkin saja ini bisa meringankan beban pikiranku, "Oke, baiklah, aku mau mulai dari mana ?"
"Dari awallah, semua cerita berawal pasti dari awal ceritanya," sekali lagi dia mengagetkanku, lalu aku memberikannya tatapan muka datar.
Aku memulai ceritanya dari awal. Dari semua yang terjadi, di awal aku memuulai kuliahku. Semuanya berawal disana.
~##~
Aku berjalan menuju ke ruanganku, berlari cepat menuju tempat itu. Dosenku sepertinya sudah tiba di tempat itu, mungkin aku sudah terlambat. Aku ragu dengan ini, apalagi beban tasku sangat berat, mungkin aku tidak akan diikutkan mata pelajaran kali ini.
Dan yah..., sesuai dugaanku, ini terjadi. Aku tidak diperbolehkan sama sekali mengikutinya, tidak boleh sama sekali. Aku sudah memohon daritadi, tidak ingin mengulanginya lagi, sayangnya, dia tidak menerima alasanku.
Aku bete diluar sini, lalu aku pergi ke kantin di kampusku. Di sana, aku mencoba melupakan semua yang telah terjadi barusan. Dan dibantu dengan es the manis favoritku. Akan tetapi, tidak dengan satu peristiwa itu, cukup satu peristiwa yang tidak akan kulupakan itu. Dia melihatku, Refa melihatku. Tiba-tiba, HAH !, ada seseorang dari belakangku, dia mengagetkanku, lalu aku berbalik ke belakang dan ternyata Refa !
Refa lalu melepas tangannya dari pundakku lalu duduk ke kursi yang berada di depanku yang diantarai sebuah meja kecil. "Kenapa kamu terlambat ?", tanpa basa-basi dia langsung menanyakanku tentang apa yang terjadi tadi.
"Hmph, bukan masalah besar, begitulah yang terjadi barusan, aku terlambat dan itulah yang terjadi !" aku menjawabnya dengan rasa tidak semangat, meremehkan yang terjadi di ruangan tadi.
