Prolog.

539 86 123
                                        

Namanya Venuz, siswi yang kini tengah merengek diantara kelima sahabatnya yang berkumpul di pojokan kelas. Sudah hampir sepuluh menit gadis berkuncir kuda itu merengek, mengajak pergi kekantin karena perutnya sudah demo minta sembako.

"Ayo dong, hayati gak tahan. Udah lapar.." rengek Venuz yang kesekian kalinya.

"Bentar Ven, nanggung yeu." ujar Fira yang tengah fokus pada layar ponselnya, sedangkan kedua ibu jarinya tengah lincah menyentuh layar benda persegi itu. Yang sudah Venuz duga, temannya itu pasti sedang bermain game.

Venuz mendengus, lalu tangannya bergerak menggoyangkan bahu Amanda yang duduk di sebelahnya. "Kantin yuk! Gue lapar parahh!"

"Sabar Ven, gue nyisir dulu."

Venuz berdecak, "Gi.." panggilnya kepada Inggi yang tengah asik membaca novelnya, namun apa daya ia hanya melirik Venuz sekilas.

"Bit.." Kali ini Ibitza, temannya yang sedang melakukan hal yang sama seperti Fira, bedanya siswi itu tak merespon sama sekali.

"Z--" dan terakhir Zia, belum selesai Venuz memanggilnya, siswi itu telah menjawabya duluan.

"Gue belum selesai nyatet yang di papan tulis."

Dan dengan kesal, Venuz menendang meja didepannya kencang. Membuat kelima temannya itu berhasil melirik Venuz. Sampai akhirnya, Zia yang pertama kali berdiri dan angkat bicara.

"Kantin yuk! Laper." dan semuanya pun mengangguk dan bangkit menuju kantin, meninggalkan Venuz yang melongo melihat tingkah kelima temannya itu.

Hey, kenapa giliran Zia yang mengajak kekantin semua temannya menurut?

Sampai akhirnya ia bersorak seraya mengikuti kelima temannya dari belakang, "Iya, tinggalin Venuz aja! Tinggalin!"

Teman ee. Dasar.

***

Kini mereka berenam berada dikantin, tepatnya dimeja yang terletak ditengah keramaian kantin itu. Semuanya tampak sibuk dengan makanan masing-masing, terutama Venuz yang sudah menghabiskan sepiring batagornya dan semangkuk pempek milik Amanda.

"Anjay pedes." ucap Venuz setelah meneguk segelas es teh manis disebelah mangkuknya sampai tandas.

"Enak mba?" tanya Amanda.

"Enak teh." jawab Venuz sambil tersenyum sok manis.

Amanda mendecih, "Untung gue baik ya ngasih tuh pempek, sedangkan guenya cuman makan basreng empat."

Venuz menyengir, "Itu juga gara-gara lo semua, gue ga akan selapar ini kalau cepet kekantin."

"Halah, mau cepet atau enggak. Yang namanya Venuz ya ga cukup sepiring." nyinyir Fira mengundang kekehan dari keempat sahabat venuz lainnya.

"Bodo lah, yang penting perut gue kenyang hati pun senang!" ucap Venuz sambil merentangkan kedua tangannya bahagia, namun aksinya itu malah mengenai kepala Inggi dan amanda yang duduk disebelahnya.

"Sejak kapan perut lo kenyang? dan sejak kapan lo bahagia sedangkan beberapa hari ini lo ngegalau mulu?" tanya Ibit sedikit sarkas.

Venuz melengkungkan bibirnya kebawah, "Berisik deh. Man, anter gue yuk!"

"Kemana?" tanya Amanda.

"Beli susu." dan setelah itu Venuz pun pergi dengan Amanda yang diseretnya.

Sementara Inggi yang baru saja selesai dengan acara makannya bertanya, "Es teh manis gue mana ya?"

"Hah?"

Dissolved [HIATUS]Where stories live. Discover now