Di luar sangatlah dingin. Kania dengan menggunakan sweater rajut tebal memegang telepon genggam yang baru dikeluarkan dari kantong celana jeans hitamnya. Ia menuju ke kafe di ujung jalan yang terlihat sangat elegan dari kejauhan.
Bangunan tua itu dihiasi lampu kuning yang memberikan kehangatan kepada pengunjung toko. Desain yang sangat eksotis nan mewah di dalamnya membuat beberapa pengunjung bertahan lebih lama. Ketika Kania melangkahkan kaki kanan nya memasuki cafe tersebut, seorang perempuan menyambutnya.
"Welcome!" Pelayan toko memberikan senyum yang hangat dan sedikit menunduk kepada Kania.
Sambil tersenyum dengan sedikit terpaksa, Kania berkata, "Thank you."
Kania langsung menuju tempat duduk yang letaknya di ujung, dekat dengan salah satu lukisan dari pelukis yang cukup terkenal. Ia mengangkat tangan dan memesan segelas kopi hitam.
Dalam suasana kafe yang sepi, tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan duduk di samping tempat duduk Kania. Ia memesan segelas capucino dan juga roti isi. Tak lama bagi Kania untuk mengingat bahwa orang yang ia lihat itu tak asing baginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kania
RomanceDuduk di pojok sambil mengaduk minuman, Kania melihat seseorang yang tak asing lagi baginya, saat bertanya tentang perkenalan, orang itu menjawab tidak kenal. Kania yakin mengenalnya. Seiring berjalan waktu, orang itu mengelabuhi pikiran Kania denga...
