Simpan kenangan masa sekolahmu.
Walaupun itu sudah-sangat-berlalu.
Apa kau pernah berfikir untuk melanjutkannya lagi?
Mungkin sekarang hanya bisa mengingat kembali.
Tapi untuk ke depan, bisa jadi kau masih terus menambah kenangan itu.
Siapa yang t...
Guru itu beranjak dari kursi. Berjalan keluar menenteng tas jinjing dan kipas angin. Aneh. Tiba di ujung pintu, ia berkata "Selamat pagi". Goodgreetings. Salam pembuka istirahat kedua.
" Kau mau coba? Ambil aja" Yaaah, minimal basa-basi di siang hari. "Satu ya.." "Yep.." Ia mengambil keripik dari bungkus yang kugenggam. Sejurus kemudian ia melahapnya.
"Pedas.." Aku menoleh, "memang.."
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Kenalkan, dia itu Yama. Gadis yang kuajak kenalan saat upacara orientasi. Siang ini aku duduk bersamanya. Hanya berdua, di bawah pohon besar sentral sekolah. "Kau nanti sudah ekstra?" -Yama "Sudah.. Kau sendiri?" "He'em" Aku mengangguk, paham.
Hening..
Sampai ada satu hal yang menarik perhatian kami. "Kau kenal mereka? Sepertinya familiar" "Memang. Mereka itu bendahara kelas kita, bukan? Kau ini lupa apa tidak tahu?" "Dua-duanya" "Kau berani menyapa mereka?" "Memang kenapa?" "Sepertinya susah diajak kenalan" Aku melirik Yama. Dia mengangkat bahu. "Aku lupa namanya" Jawabku datar. "Sini.."
Merekamenolehkearahkami.
Tentu saja karena aku memanggil mereka. Namun hanya menoleh. Tanparespon.
YaTuhan, kenapamereka kaku sekali..
Padahal, aku dan Yama sudah melambaikan tangan dan tersenyum ke arah mereka. Tapi? Norespon.
"Ver, mereka itu benar bendahara kelas bukan sih? Jangan-jangan senior" bisik Yama tiba-tiba. Aku menoleh cepat dan melototinya. "Gila kau in—" "Ssst mereka datang. Mereka datang"
Selanjutnya, kami sepakat bahwa mereka itu benar-benar bendahara kelasku. Karena...
"Hai! kalian pitaungujuga ya? Tapi... aku lupa namamu"
Mereka menghampiri kami. Aku berdiri dan mengulurkan tangan.
"Avery, dan ini Yama" "Ooh iya,, aku ingat sekarang. Kalian yang duduk berdua di depan kan?" Yama tersenyum dan mengangguk.
"Aku Virdan, dan ini—hey! Kau jadi pakai nama yang mana?" ia menyenggol gadis yang satunya. "Frenda. Frenda Aisawunni"
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.