Hope

74 6 0
                                        

Dapat ia rasakan dinginnya air hujan yang menimpa wajahnya sembari mendengar lelaki itu berteriak. Alex memang selalu berisik seperti yang biasanya.

“aku muak dengan semua yang kau lakukan, pelacur sialan! Kau hanya punya satu pekerjaan dan kau bahkan tidak mampu untuk mengerjakannya?!  jika lain kali kau melakukannya lagi, akan ku tendang kau keluar dari sini! Apa itu yang kau inginkan! Ha...apa kau ingin aku menelantarkanmu untuk menghidupi dirimu sendiri untuk selamanya! Hm...apa itu yang kau mau?!”

Dia tidak langsung menjawabnya. Ia hanya ingin istirahat atas semuanya. Mereka saat ini berada dicelah antar dua bangunan besar. Perempuan itu  duduk ditanah dengan kakinya yang dijulur dan punggungnya yang menyandar beton.

Lelaki itu berdiri dihadapannya dengan tatapan marahnya. Perempuan itu melirik sedikit kepada Alex kemudian menatap langit kota, mengabaikan pria itu.

Gedung pencakar langit yang menjulang tinggi menyentuh langit membuatnya selalu suka untuk memandangnya. Rintik hujan membersihkan wajah penuh memarnya. Ia memang sangat menyukai hujan, tapi tidak hari ini. Hujan kali ini begitu dingin dan kotor, seperti yang kadang-kadang bisa ia rasakan di kota ini. Ia sangat mencintai dan membanci kota ini.

Ada kenangan indah dan mimpi buruk yang terukir di ingatannya. Salah satu mimpi buruknya adalah Alex dan dirinya sendiri yang kotor.  Kata-kata Alex tidak lagi berarti apa-apa baginya. Ia sudah begitu lelah. Lelah dengan segala pukulan itu. Lelah dengan segala teriakan itu. Lelah dengan segala ancaman itu. Ia tidak lagi merasakan takut bahkan tidak lagi merasakan marah. Ia telah di lecuti dan di marahi oleh Alex tapi ia tidak merasakan apa-apa. Hampa! Yang ia rasakan hanyalah kelelahan. Terlalu lelah, meskipun begitu ia tidak bisa mengatakannya pada Alex, itu hanya akan memperburuk keadaan.

Ia akhirnya mengarahkan atensinya kembali kepada Alex. Ia telah mengambil banyak waktu untuk kmenjawab pertanyaan retoris Alex dan dapat ia rasakan hal itu membuat Alex bertambah marah.

“tidak,  Alex. Maafkan aku!” gumamnya lemah.
Alex tidak bisa menyembunyikan seringainya. Ia tau bagaimana menangani pelacur ini. Ia menjadi germo tersukses di kota ini bukan tanpa alasan.

Perempuan itu adalah miliknya yang paling populer, tapi ia selalu melawan balik pelanggan atau meninggalkan pekerjaannya tidak selesai. Alex tau ia tidak bisa begitu saja membiarkan perempuan itu pergi dan mungkin perempuan itu tidak menyadarinya. Pada akhirnya perempuan itu hanyalah pelacur yang bodoh menurutnya.

Perempuan itu sebenarnya tau. Ia menyadari dengan jelas kalau Alex tidak akan mungkin menelantarkannya. Ia adalah sumber uangnya pada akhirnya. Walaupun begitu, Ia akan berpura-pura tidak tau jika di sekitar Alex. Ia tau jika ia bisa saja mengakali Alex selama Alex masih meremehkannya.

“ bagus. Sekarang berdiri disitu. Aku punya pelanggan berpotensi yang menanyakannmu!” kata Alex.

Alex kemudian berjalan kearah pria tinggi berkulit gelap dibelakangnya. Pria itu sebenarnya tidak terlalu tinggi, hanya saja ia lebih tinggi dari Alex.

Alex pendek dan gemuk dengan rambut yang di cukur sebagian dan mata yang berpernak-pernik. Mata itu begitu ditakuti dan dibenci oleh hampir setiap wanita yang berpapasan mata dengannya. Setidaknya, itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri. Pria kulit gelap itu tinggi dan tegak, tapi Alex orang yang keras dan suka memaksa.

“ Maaf untuk ini. Maaf juga karena melakukan ini ditengah hujan. Saya harap ia bisa melayanimu dan memuaskanmu!” kata Alex menyeringai malu-malu.

“ jangan khawatir dengan itu. Aku hanya perlu menikmati wajah imutnya itu...oh sial. Dia begitu manis, aku tidak sabar menikmatinya. Berapa harganya?!” tanya pria itu.
Alex kemudian menunjukan isyarat dengan jarinya yang bisa dimengerti oleh pria gelap itu kemudian pria gelap itu menyerahkan sejumlah uang tunai kepada Alex.

Open Your HeartWhere stories live. Discover now