"Yeobo[1], jangan lakukan itu ku mohon! Yeobo!!" suara seorang wanita menggema di ruangan dengan pencahayaan yang minim. Dia terus memohon pada seorang laki-laki di hadapannya yang berjalan makin mendekat ke arahnya.
"Istriku sayang, sudah berapa kali aku bilang padamu untuk tidak bertemu lagi dengannya. Kau benar-benar membuatku sakit hati. Selamat tinggal, sayang." Seketika itu juga jeritan langsung memenuhi ruangan gelap itu diikuti dengan suara tusukan. Laki-laki itu tersenyum miring, mungkin merasa puas dengan perbuatannya barusan. Lalu laki-laki itu berjalan pergi dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa beberapa saat yang lalu.
"Eomma!!" teriakan seorang laki-laki sanggup memekakan telinga orang yang mendengarnya. Laki-laki itu baru saja terbangun dari mimpi buruknya dengan tubuh penuh dengan keringat. Tak terasa olehnya bulir-bulir air mata juga jatuh ke pipinya yang mulus.
BRAK!!
"Nak Yeol baik-baik saja?" Seorang ahjumma buru-buru membuka pintu dan berjalan mendekati tempat tidur laki-laki itu.
Dia tidak berkata apa-apa dan langsung memeluk tubuh kecil ahjumma itu dan menumpahkan tangisannya disana. Ahjumma itu hanya bisa mengelus-ngelus pundak laki-laki itu untuk mengalirkan kekuatan padanya.
...
"Selamat pagi, eomma," sapa seorang anak perempuan yang menghadiahi ciuman di pipi pada eommanya.
"Selamat pagi, Sang Hee," kata Lee Rae Jin–eomma Sang Hee–yang sedang mengolesi roti dengan selai kacang. "Hari ini hari pertamamu kuliah kan?" kata Rae Jin yang sudah mengalihkan perhatiannya kepada anak semata wayangnya.
"Iya, eomma. Aku sudah tidak sabar sekali, tapi aku juga takut," katanya sambil mengambil roti yang sudah selesai diolesi selai kacang dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Apa yang kau takutkan?" Rae Jin sudah duduk di samping Sang Hee.
"Banyak hal. Aku takut tidak akan mendapat teman yang baik, takut dengan dosen yang akan mengajar, takut dengan pelajaran yang akan aku hadapi. Begitu banyak yang aku takutkan, eomma."
Rae Jin bergerak mengelus pundak putrinya dengan sikap keibuan. "Tidak ada hal yang harus kau takutkan, sayang. Ketakutan itu berasal dari dirimu sendiri. Kau harus percaya diri kalau kau dapat menaklukan dirimu sendiri," kata-kata seorang ibu yang berusaha membuat putrinya menjadi percaya diri.
Sang Hee tersenyum mendengar perkataan eommanya. "Eomma memang paling bisa membuatku percaya diri. Saranghae eomma." Sang Hee membiarkan dirinya berada di dalam pelukan orang yang telah melahirkannya. Rasa hangat dekapan eomma menjalar sampai ke seluruh tubuhnya.
Sang Hee hanya tinggal berdua dengan Rae Jin, karena appanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena penyakit. Sang Hee begitu menyayangi Rae Jin, karena dia hanya mempunyai Rae Jin di dunia ini. Begitupun dengan Rae Jin, dia sangat menyayangi putri tunggalnya.
"Sudah, sekarang kau habiskan rotinya lalu berangkat ke kampus. Nanti kau bisa telat," kata Rae Jin melepaskan pelukan Sang Hee dan perhatiannya kembali teralih pada pekerjaan dapurnya.
Sang Hee cepat-cepat menghabiskan roti yang tersisa satu suap lagi. Dia melihat jamnya dan terlonjak kaget. "Eomma, ternyata aku hampir telat. Aku pergi dulu ya," kata Sang Hee sambil mencium pipi eommanya dengan cepat dan menghambur keluar rumah dengan berlari. Rae Jin hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku anak kesayangannya itu.
"Baekhyun!" Sang Hee melihat sahabatnya yang bernama Baekhyun sedang berjalan di lorong kampusnya. Sesaat setelah mendengar namanya dipanggil, Baekhyun membalikkan badannya dan tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE TRUTH
Fiksi PenggemarPark Chanyeol yang berusaha mencari tahu kebenaran di balik kematian ibunya yang ternyata berhubungan dengan ayahnya. Menyakitkan. Tidak terduga. Mengecewakan. Tetapi kebenaran tetaplah kebenaran. Kim Sang Hee yang kehilangan ayahnya dan hidup berd...
