Mutiara

17 0 0
                                        

             Aku menemaninya lagi. Selalu. Pada siang yang terik atau pada malam yang gerimis. Pada bulan sabit atau bulan purnama. Saat aku sedang luang atau sibuk bukan kepalang. Di kafe kecil sudut jalan raya yang menyuguhkan pemandangan riuhnya jalanan, aku mendengarkan keluh kesal yang meluncur dari bibirnya. Selalu di tempat ini, di sisi ini. Di tepi jendela kaca yang besar, menghadap langsung ke persimpangan jalan.
Seperti sore ini, ia menginginkanku untuk sekedar duduk mendengarnya bercerita. Sesibuk apapun aku, aku akan selalu memiliki waktu untuknya. Entah aku sibuk bermain futsal, atau sedang bermain video game, atau saat aku dikejar deadline mengedit video. Yah, aku memang belum memiliki pekerjaan tetap. Hanya saja, gaji per-event di Photo Studio tempatku bekerja bisa dibilang lumayan untukku yang masih mahasiswa.
             Kami tiba hampir bersamaan. Aku memarkir motorku disamping motornya. Ia melayangkan senyum. Senyum yang membuatku merasa damai. Ia mengisyaratkan untuk masuk ke kafe. Aku selalu memesan kopi susu. Sedangkan ia, tak selalu. Terkadang milk tea, hot chocolate, kopi hitam, atau pernah sewaktu-waktu kami memesan dua kopi susu. Belakangan kubaca, minuman yang ia pesan tergantung mood yang ia rasakan. Namun hal ini belum pernah kuutarakan padanya, benar atau salah.
“ Milk tea satu, kopi susu satu.”, serunya pada pelayan kafe di meja pelayanan. Aku berjalan mendahuluinya menuju meja tempat biasa kami duduk. Pengunjung kafe belum begitu ramai. Pukul 16:35. Memang baru setengah jam kafe ini buka. Tak lama ia menyusul dan duduk di hadapanku. Ia tampak segar dan sedikit rapi. Kubilang rapi, sebab ia memakai blouse biru muda tanpa lengan yang ia tutup dengan cardigan hitamnya, celana jeans dan tas selempang perempuan. Rambutnya yang sebahu ia gerai begitu saja. Hanya ada satu jepit rambut yang terselip di atas telinganya. Kesimpulannya, sore ini ia cantik. Biasanya, ia hanya menggunakan jaket jumper, atau kaos lengan panjang yang tampak kebesaran di badannya yang tidak gemuk, dan mengikat rambutnya seperti ekor kuda.
“ Well. kelihatannya lagi happy, nih?”, kubuka percakapan sore ini dengan menebak perasaannya.
“ Kok, tau, sih?”, ia bertanya balik dengan senyum yang tak bisa ditahan, bahwa ia sedang bahagia dan aku mengerti. Kubilang juga apa. Milk Tea adalah tanda perasaannya sedang manis, dan ia senang menambah kadar kemanisan dengan makan atau minum yang manis-manis. Lain halnya jika ia sedang patah hati, ia akan memesan kopi hitam.
“ Jelas. Apa yang bikin kamu berbunga-bunga hari ini?”, tembakku langsung. Saat itu juga pesanan kami datang.
“ Terimakasih, mas.”, katanya, ia mencicipi sedikit Milk-Tea hangatnya. “Well, dia ngajakin aku nonton malam ini.”
Hanya itu kalimat yang keluar darinya. Dengan mata berbinar yang menandakan ia sedang bahagia. Aku masih menatapnya, menunggu dan mungkin alisku menunjukkan bahwa aku keheranan. Maksudku, malam kemarin ia duduk di sini bersamaku, mengutuk kekasihnya macam-macam, menangis sambil tangannya dalam genggamanku. Ia sakit hati dan seperti tak ingin lagi meladeni kekasihnya. Ia baru saja diremehkan dan merasa tidak dihargai. Ia baru saja dianggap tak ada dan ia putus asa meyakinkan kekasihnya. Itu malam kemarin. Tapi…
“ Yah, aku mengerti, Kemal. Kau pasti meragukan kewarasanku, perihal aku memaafkannya lagi, perihal aku mau jalan dengannya lagi. Tapi, kurasa, ia pantas mendapatkannya dariku. Walau…”
“ Walau kau tau ia akan menyakitimu lagi?”, potongku.
“ Dan aku tau aku akan memaafkannya lagi, Mal.” Ia meneguk Milk Tea nya lagi. Aku sungguh tak ingin membuatnya sedih dengan kata-kataku. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa betapa bodohnya ia sebagai perempuan. Memaafkan kesalahan yang sama, dari orang yang sama pula, berkali-kali.
Aku meneguk sedikit kopi susuku. Melayangkan pandanganku ke luar jendela. Awan mendung sudah berarak-arak sedari tadi. Milk Tea-nya sudah setengah gelas. Ia mengaduk-aduk gelasnya dengan sedotan. Wajahnya tampak harap-harap cemas menunduk ke gelasnya. Menungguku mengeluarkan kata-kata yang selalu bisa menenangkan hatinya. Yah, menenangkan. Bukan memenangkan.
“ Baiklah, jika itu yang bisa membuatmu bahagia, Ra. Aku pun bahagia.”, adalah kalimat yang pada akhirnya kupilih.
“ Mungkin aku tampak bodoh di matamu, Mal. Tapi kau tak akan pernah mengerti kalau kau belum menemukan orangnya. Orang yang selalu ingin kau buat bahagia dengan kehadiranmu.”, jawabnya.
“ Oh, aku sangat mengerti, Tiara. Sangat paham akan hal seperti itu. Aku mengerti.”, sahutku. Bagaimana tidak? “Hanya saja, jendela rumah yang tidak pernah kau buka, tidak akan mendatangkan suasana baru dalam rumah itu. Suasana menyenangkan yang menyembuhkanmu dari kepengapan dan menjauhkanmu dari penyakit.”
“  Maksudmu? Kok jadi bahas jendela rumah?”, ah, entah ia atau aku yang bodoh.
“ Karena membuka jendela itu penting.”, sahutku. Ia hanya tertawa kecil dan meminum Milk Tea nya lagi, hingga tinggal seperempat gelas. Kopi susuku masih setengah gelas. Aku melihat jendela lagi.
“ Kau benar-benar tak memperhatikan jendela, ya?”, tanyaku kemudian. Ia menatapku dengan raut bingung, lalu menatap jendela, dan menatapku lagi.
“ Di luar akan segera hujan, Tiara. Kau bilang kau akan pergi menonton?”
“ Ah, benar. Iya. Aku harus balapan dengan hujan, ya?”, ia menghabiskan Milk Tea nya sampai bersih. Tanda ia masih bersenang hati. Ia berdiri dan mengalungkan tas selempangnya.
“ Aku duluan, ya, Kemal. Terimakasih, sudah mengingatkanku untuk membuka jendela rumahku. Hahaha”, ia tertawa dan merangkulku cepat. Namun erat. Pelukan seorang sahabat.
“ You’re welcome. Hati-hati di jalan.”, jawabku.
Ia sempat tersenyum padaku sebelum meninggalkan kafe. Dari jendela, di luar kafe, ia masih melambaikan tangannya. Ah, Mutiara. Aku tak bercanda soal pentingnya membuka jendela. Termasuk jendela hati. Yang seharusnya kau buka dan membiarkan aku masuk ke dalamnya, mengganti perasaan-perasaanmu yang telah mengusang bersamanya. Menyegarkan hari-harimu dan menjauhkanmu dari sakit hati dan kecewa. Kesalahanku, selama ini, adalah tidak bisa membuka jendela hati untuk perempuan lainnya.

MutiaraGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt