Pagi yang cerah menyambut seorang gadis yang terbangun dari mimpi indahnya, tetapi ia masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Matanya belum terbuka, tapi tangannya sudah bergerak kesana-kemari mencari sesuatu. Ponsel. Tak kunjung menemukannya, gadis itu bangun dan terduduk di tempat tidurnya selama beberapa detik, hingga akhirnya ia perlahan membuka mata dan melirik meja nakas di samping kasurnya.
"Di situ kau rupanya," tangannya meraih ponsel putih berlayar 5" yang dilindungi casing berwarna merah muda dengan garis merah membujur di atas meja nakas tersebut. Gadis itu membuka kunci layar ponselnya dengan satu gerakan ke atas, dia melihat dua pesan masuk dan tiga belas panggilan tak terjawab dari satu orang yang sama. Mama❤. Gadis itu hanya mengernyit setelah melihat nama Mama❤ bertebaran di layar ponselnya. Dengan gerakan cepat, gadis itu membuka pesan pertama.
2017-01-22 6:17
| Mama hari Sabtu pagi akan terbang ke California. Mungkin akan tiba di dormmu siang hari.|
Masih dua hari lagi, pikirnya. Lalu dengan cepat dia membuka pesan kedua dari mama tercintanya, dan sukses membuatnya membelalakkan mata, sepenuhnya sadar dari kantuk yang masih menyerangnya.
2017-01-22 6:45
| Jangan kaget. Mama terbang hari ini dan akan sampai California siang nanti. Mungkin pukul 1 siang. Jemput Mama, ya.|
Gadis itu melihat jam yang ada di ponselnya dan menjerit kecil sambil menutup mulutnya rapat. Pukul 10:20. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamarnya. Ini tidak baik, batinnya.
Kapal pecah, kamarnya pantas mendapat panggilan tersebut. Baju kotor tersampir di mana-mana. Baju bersih pun belum sempat ia lipat dan belum dimasukkan ke lemari. Kertas tugas berserakan di lantai dan kasur bagian ujung. Buku-buku kuliah juga tergeletak di lantai dengan kondisi terbuka. Yang paling parah, sampah dari seminggu lalu masih bertengger di dekat kamar mandinya.
"Tenang Lily... tenang..." gadis itu berusaha menenangkan dirinya sendiri, tapi sepertinya gagal karena panik mulai menyerangnya. Mamanya adalah seorang yang perfeksionis, semua harus tertata rapi, sesuai pada tempatnya, dan yang jelas ia sangat benci dengan segala sesuatu yang berantakan apalagi hal-hal yang menjijikkan seperti sampah-sampah itu.
Masih ada sekitar dua jam untuk membereskan kehancuran kapal ini, pikirnya. Dia segera beranjak dari kasur dengan gerakan melompat ala atlet lompat tinggi yang baru belajar dan meraih seluruh baju kotor yang tersampir di kasur dan kursi dekat meja belajarnya. Baju-baju kotor itu ia bawa ke keranjang baju yang ada di balik pintu penghubung kamarnya dengan teras belakang. Baju-baju bersih yang belum terlipat langsung ia masukkan ke lemari dan menutupinya dengan baju-baju yang terlihat rapi, kamuflase, batinnya lagi.
Lily menumpuk buku kuliah dan kertas tugas yang tercecer di lantai menjadi satu, tanpa peduli ada bagian yang terlipat atau tidak, kemudian ia meletakkan tumpukan itu di dalam laci meja belajar dan menutupnya dengan serapat mungkin. Dia juga memastikan tidak ada kertas yang mencuat ke luar dari laci tempat persembunyiannya.
Ia menahan napas saat membereskan sampah yang ada di dalam keranjang sampah yang sudah terlihat penuh, menjadikannya satu plastik dan membawanya ke pintu masuk. Dia akan membuangnya di luar saat keluar nanti, sekalian menjemput mamanya, dia terlalu malas untuk keluar sekarang.
"Beres!" ucapnya girang. Lily melihat jam yang menggantung di kamarnya, ternyata hanya butuh 30 menit untuk melakukannya. Kenapa harus panik?
Lily berjalan ke dapur yang menyatu dengan kamarnya. Ada meja yang membatasi keduanya. Tangannya menarik gagang lemari pendingin kecil yang ada di sudut dapur dan mengambil sebotol air dingin. Ia menegak air itu sambil berjalan ke arah wastafel.
"Uhuk!" dia tersedak, "Parah!!!!!"
Piring kotor, gelas kotor, sendok kotor, dan panci rice-cooker kotor, itu yang ditangkap oleh sepasang matanya. Ia merutuki diri karena kegirangan terlalu cepat dan menaruh botol air yang digenggamnya di samping wastafel dan mulai mencuci barang-barang kotor itu.
Tidak hanya sampai di situ, dia juga ingat jika cuciannya belum dijemur, teras belakang belum disapu, seluruh ruangan belum disapu!
Satu setengah jam berlalu. Lily mengerjakan semuanya dengan panik dan terburu-buru, tak sempat ia mengeceknya dua kali yang dilakukannya sudah benar atau belum, tak terpikirkan. Setelah dia menganggap semuanya selesai, dia langsung beranjak ke kamar mandi untuk mandi dan sebagainya, mengenakan pakaian secantik mungkin, memakai wewangian hingga harumnya dapat tercium hinggga ke luar dorm.
Tepat pukul 14:00 Lily dan mamanya sampai di dorm. Mamanya sempat menunggu selama 10 menit di bandara dan Lily mendapat cubitan kecil di lengan kanannya karena hal itu, tapi dia hanya meringis memamerkan giginya sambil menunjukkan wajah tanpa dosa. Lily sedang melepas sepatu ketsnya saat mamanya mulai bertanya seputar kuliahnya di Caltech.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya wanita itu pada anak perempuan satu-satunya.
"Biasa saja. Masih membosankan seperti semester-semester sebelumnya." jawab Lily sambil berjalan ke arah dapur, mengambil minum untuk mamanya.
"Kalau laki-laki? Ada?" mamanya melirik ke arah Lily yang sibuk menuangkan air putih dingin ke gelas kaca bertuliskan California Institute of Technology (Caltech) dan logo universitas tersebut.
"Tidak ada, Ma." mamanya menghela napas setelah mendengar jawaban anaknya. Dia sudah cukup khawatir anaknya akan menjadi perawan tua, padahal tahun ini Lily masih berusia 21 tahun.
Lily menyodorkan gelas kepada mamanya yang tadinya masih berdiri di dekat ranjang dan sekarang sudah terduduk di tepi ranjang sambil melihat Lily. Lily sedikit tak enak dengan pandangan mamanya.
"Nanti, Ma. Aku akan cari. Setelah lulus pascasarjana. Tenang aja." kata Lily enteng.
"Ketuaan," jawab mamanya, "mana ada yang mau?"
"Isshhh Mama. Aku sedang tidak memikirkan laki-laki sekarang. Aku ingin cepat-cepat lulus dan menyusul Mama ke Cambridge, baru setelah itu aku akan memikirkannya," ucapnya sambil tersenyum.
"Ketuaan," kata Mrs. Woods, mamanya, kemudian meminum minumannya sampai habis. Lily hanya merengut mendengar perkataan mamanya, sejurus kemudian dia mengganti topik pembicaraan.
"Mama ngapain ke California, lagi?"
"Kan kemarin belum sempat ke sini. Jadi sebelum Mama mengurus pekerjaan, Mama sempatin ke sini dulu."
"Oh," jawab Lily sekenanya.
"Lily, Mama punya teman..." ucap Mrs. Woods perlahan-lahan. Lily hanya memutar bola matanya, awal percakapan yang nggak banget untuk seorang yang perfeksionis seperti mamanya.
"Hmm," sahutnya terdengar tidak minat dengan arah pembicaraan mamanya.
"Teman Mama punya anak, laki-laki, sudah mapan, dia sedang melanjutkan kuliah pascasarjana di Caltech. Namanya Luke Wellingston. "
"Mama..." Lily berusaha menghentikan pembicaraan mamanya sebelum berlanjut ke arah yang lebih macam-macam. Tapi Mrs. Woods tetap melanjutkannya tanpa peduli dengan raut wajah anaknya yang tak minat.
"Dia tampan dan tinggi. Mama sudah bertemu dengannya kemarin ketika Mama tidak sempat mengunjungimu. Mama rasa dia laki-laki yang baik dan cocok untukmu."
"Tidak, Ma." jawab Lily acuh. Sungguh Lily merasa tak tertarik dengan percakapan ini.
"Dia juga tinggal di gedung dorm yang sama denganmu, di lantai dua," Mrs. Woods tersenyum pada anaknya, wajahnya memperlihatkan harapan yang lebih, harapan yang tidak dimengerti Lily.
YOU ARE READING
Steps to Change
RomanceUmurku 21 tahun. Banyak hal yang ingin kulakukan di umur yang sudah bisa dibilang beranjak dewasa ini. Aku ingin segera menyelesaikan studi sarjanaku. Setelah itu aku ingin melanjutkan studiku ke Inggris. Bekerja dan menggunakan penghasilanku untuk...
