Prolog

67 4 17
                                        

Dari kejauhan, asap hitam membumbung dengan tinggi hingga menutupi langit. Walaupun malam telah datang dengan diiringi beribu gemerlap bintang di atas sana, namun terangnya bintang tak bisa menyaingi terang api yang sedang berkobar di atas tanah. Membakar bangunan, pohon, tak terkecuali dengan beberapa manusia. 

Aroma daging manusia yang terbakar serta rintihan orang-orang yang tengah sekarat begitu memilukan dan menyayat hati siapapun yang melihat. 

"Apa yang harus kita lakukan? Sihirku akan mencapai batasnya, tidak akan memberikan pengaruh lain jika aku tetap melancarkan serangan"

"Kita akan tetap menyerangnya, sedikit lagi. Bertahanlah teman-teman!!"

"Tidak, aku tidak sanggup lagi!"

"Berhentilah merengek. Kau ingin kita semua mati, hah?!"

Di tengah-tengah lautan api itu, terdapat lima remaja. Empat orang masih berdiri dengan tegak walaupun pakaian mereka telah rusak serta penuh dengan warna merah. Sedangkan satu orang lagi telah tak sadarkan diri di atas tanah dengan kondisi yang cukup mengenaskan. 

Tak jauh di hadapan mereka ada seekor monster besar, jauh melebihi ukuran mereka sendiri. Monster itu berbentuk menyerupai serigala dengan mata putih serta taring dan bulunya yang tajam seperti pisau. 

Walaupun dengan keadaan seperti itu, nyatanya monster itu sendiri lah yang tengah sekarat dan tak bisa bergerak. 

Tak ingin membuang waktu lebih banyak, salah satu pemuda yang memegang tombak lantas dengan sembrononya segera berlari ke arah si monster dengan teriakan yang cukup keras untuk menunjukkan kegigihannya yang tak akan gentar melawan makhluk dihadapannya ini. 

Kemudian di belakangnya, kedua temannya segera menyebar ke sisi kiri dan kanan, sedangkan salah satunya lagi tetap berdiri di tempat dan bersiap untuk merapalkan mantra sihirnya jika ketiga temannya membutuhkan bantuan. 

Kedua remaja yang berada di sisi kiri dan kanan monster itu segera melemparkan bom ke arah monster tersebut. Bukan bom seperti pada umumnya, karena ketika bom itu meledak di tubuh monster itu, efek yang ditimbulkan adalah monster itu akan membeku dalam beberapa detik. 

Lantas, si pemuda dengan tombaknya itu segera melompat tinggi dan mengarahkan ujung tombaknya ke arah sebuah kristal berwarna merah delima yang ada di dahi si monster. 

Dan itulah akhir dari kehidupan monster tersebut. 

Keempat remaja yang masih berdiri dengan tegak tersebut lantas menghela nafas hampir bersamaan. Perjuangan mereka tak berakhir dengan sia-sia. 

Sepertinya.

Pemuda tersebut tersenyum lebar ketika melihat ketiga temannya yang tengah berlari menghampirinya dengan haru. 

Namun, sebelum berhasil mendekati si pemuda, ketiga rekannya itu tumbang di atas tanah. Sang pemuda menatap tak percaya. 

Apa yang terjadi?

"Selamat. Kalian berhasil mengalahkan Berthe"

Sebuah suara yang sangat familiar membuat pemuda tersebut lantas mencari-cari darimana suara tersebut berasal. Rasa sakit yang luar biasa di tubuhnya sejak tadi sepertinya terkalahkan oleh sakit yang menyesakkan dadanya saat ini. Bukan perasaan benci melainkan sesak karena rindu yang mendalam terhadap si pemilik suara. 

Pemuda tersebut menengadah. Akhirnya dia menemukannya. 

Sosok yang selama ini menghilang kini tengah melayang diatas bangkai sang monster. 

Sosok itu kemudian bergerak turun mendekatinya. Pemuda itu hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sosok yang ia cari terlihat sangat berbeda, bahkan ketika jarak mereka sangat dekat dia menyadarinya, sosok itu tak menapak pada tanah. 

"Kau--- apa yang-- kenapa?" dengan gagapnya pemuda itu menatap nanar sosok di hadapannya. 

Sosok tersebut hanya tersenyum dengan samar. Ia semakin bergerak mendekati pemuda tersebut. Dia tahu jika pemuda ini dan juga teman-temannya yang lain pastilah mencari keberadaannya selama ini. 

Mereka anak-anak yang baik dan hanya terjebak dalam keadaan yang cukup rumit karena sebuah kesalahan dari Sang Penguasa. 

Ketika berhadapan dengan si pemuda, sosok itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah penuh luka akibat pertarungan pemuda tersebut. 


"Terima kasih sudah mengingatku. Aku hanya membantu menulis ulang takdir kalian. Tugasku berakhir disini. Ketika kalian bangun nanti, ingatan tentangku akan sepenuhnya terhapus"

ReflectionDonde viven las historias. Descúbrelo ahora