RESTRAIN (Part 1)

721 42 5
                                        


The story begin...

"Sudah berapa kali ku bilang, aku tidak menyukainya" ujarku tanpa mengalihkan pandangan dari buku. Dan seperti biasa, Hyohee-sahabatu- tak akan percaya dengan omonganku, ia masih terus menatap dengan penuh keraguan.

"Kau masih tidak percaya?"

Hyohee menggeleng. Aku menghela nafas panjang, ku letakkan buku sastra Inggrisku.

"Haruskah ku tulis dimading atau membuat pengumuman lewat radio sekolah bahwa AKU TIDAK MENYUKAI PARK JIMIN?"

Hyohee berdecak kemudian membenarkan posisi duduknya.

"Mustahil sekali Yoon Aerin. Kau ini suka padanya. Bisa kulihat dari kedua matamu kalau kau ini-"

"Aku yang merasakan , kau tidak tahu apa-apa. Lebih baik kau diam" ujarku kemudian bangkit dan melangkah keluar kelas. Bisa kulihat Hyohee geleng-geleng kepala. Ada apa dengannya? Kenapa dia terus mengatakan kalau aku menyukai Park Jimin si ketua klub bola? Memangnya bagaimana sikapku padanya sampai dia bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Hah dasar aneh.

Aku melangkah menuju toilet dan bisa kulihat beberapa meter didepanku, sekumpulan siswi tampak bersemangat menunggu kedatangan seseorang.Ya siapa lagi kalau bukan Park Jimin? Pemandangan seperti ini sering kulihat dipagi hari, atau memang hampir setiap hari? Entahlah yang jelas mereka sangat menggilai Park Jimin.

Dan teriakan yang menggelegar itu terdengar saat Jimin datang dengan kharisma-nya yang begitu kuat, membelah lautan siswi dan sesekali menyapa mereka. Ya, memang begitulah dia. Sosoknya ramah dan mudah bergaul, baik dan ummm tampan? Hei, sadarlah Yoon Aerin! Dia hanya manusia biasa sepertimu!

"Selamat pagi Jimin^^"

"Ya, selamat pagi^^" jawab Jimin. Dan lihatlah gadis yang dijawab olehnya tadi. Ia langsung menggila dan melompat-lompat. Kejiwaannya bermasalah.

Aku melanjutkan langkahku ketika kerumunan itu perlahan bubar karena Jimin sudah masuk ke kelasnya.
.
.
.
Bel tanda istirahat siang berbunyi. Aku segera membuka ponselku setelah Guru Kang mengakhiri pelajaran Matematikanya yang membosankan. Ku ketikkan sebuah pesan disana.

To : Mr. J
Aku sudah membawa makan siangnya. Temui aku didekat ruang musik.

Send.

"Ahhh~ Makan siang untuk Park Jimin ya?"

Aku langsung melirik Hyohee yang diam diam membaca pesanku. Ia tampak menaik-turunkan alisnya, menggodaku.

"Apa yang istimewa dari makan siang? Toh hanya kimbab" ujarku sambil mengantongi ponsel. Hyohee menumpukan dagunya dengan kedua tangannya, menatapku lekat, membuatku sedikit risih.

"Apa lagi yang kau pikirkan kali ini?" tanyaku. Hyohee menggelengkan kepalanya.

"Sudahlah akui saja, kau menyukai Park Jimin"

"TIDAK" jawabku lantang yang langsung menarik perhatian siswa lain. Aku mendengus kesal kemudian menyambar kotak makan yang akan kuberikan padanya. Ya, dia. Park Jimin.
.
.
.
Mungkin kalian bertanya-tanya sebenarnya apa hubunganku dengan si bocah tenar Park Jimin. Kami tidak ada hubungan apa-apa selain hanya teman biasa. Aku dan dia satu ekstrakulikuler, fotografi. Sudah itu saja. Dan mungkin kalian penasaran juga mengapa aku membawakan ia makanan.

Jadi beberapa waktu lalu, saat anak-anak ekstra fotografi berkumpul dan mengeluarkan makan siangnya, ia tampak diam dipojok ruangan tanpa makan apapun. Mungkin itu efek karena ia tinggal sendirian dan orang tuanya bekerja diluar negeri maka dari itu tak ada yang membuatkannya makan siang. Dan rasa kasihanku muncul, sejak saat itu aku berkeinginan membawakannya makanan, setiap hari. Sialnya, Hyohee melihat itu dari sisi lain sehingga ia berpikiran bahwa aku menyukainya, itulah alasan mengapa dia sering mengolok-olokku. Hei, apa aku salah? Aku hanya kasihan padanya.

RESTRAIN [COMPLETED]Where stories live. Discover now