"WOY BANG, TUNGGUIN. GUE BELOM NAIK. OM STOP OM" teriak seorang gadis sambil berlari cepat untuk menyusul bus tersebut.
"STOP DONG. MENTANG-MENTANG GUE JAGO LARI. LO GAK MAU STOP BUS NYA" teriaknya lagi sambil berlari tergopoh-gopoh. Sesekali Ia menyeka keringatnya yang mulai merembas ke tubuhnya. Semua yang sedang berada di trotoar pagi itu, menatap gadis tersebut aneh.
Sang kenek yang melihatnya, langsung mengetuk koin dikaca pintu belakang. Mengkode supaya bus berhenti. Bus itu akhirnya berhenti dengan pelan-pelan.
Gadis tersebut mensyukuri keberhentian bus tersebut. Lari disaat seperti ini sangat konyol baginya, walau Ia sangat menyukai lari. Tapi tidak untuk saat ini, pakaiannya yang tadi sangat rapi dan wangi. Sekarang telah pudar digantikan oleh keringat dan rambutnya yang berantakan. Sial, rutuknya.
Gadis itu segera masuk kedalam bus tersebut, keringatnya bercucuran, rambutnya yang lepek efek keringat, dan nafasnya yang terengah-engah. Lengkap sudah penderitaannya. Setelah itu, kenek itu mengetuk pintu lagi dengan menggunakan koinnya, mengkode untuk melanjutkan perjalanan.
___________________________
5 menit yang lalu, bel telah berdering. Menandakan seluruh penghuni sekolah untuk melakukan aktifitas, mengajar atau belajar. Contohnya.
Gerbang sudah ditutup tetapi belum begitu rapat. Memberi celah sedikit yang sepertinya Ia telah perhitungkan bahwa celah tersebut muat untuk Ia lewati. Gadis itu berlari, dan yes..perhitungannya selalu tepat.
Kemudian Ia melihat satpam yang sedang asik mengobrol dengan temannya sedikit kaget melihat kehadirannya. Mungkin lupa, kalo gerbangnya masih kebuka dikit. Keasikan ngobrol sih, gumamnya.
Si satpam menengok kearah gerbang, dan mukanya langsung panik. Kemudian Satpam tersebut langsung menutup gerbangnya rapat-rapat.
Gadis tersebut berlari ditengah koridor yang sepi. Pikirannya sekarang terfokus pada toilet perempuan.
Senyumnya merekah ketika Ia berhasil menemukan apa yang Ia tuju sekarang. Kemudian Ia masuk kedalam toilet tersebut, lalu beberapa menit kemudian. Ia keluar dengan tampilannya yang begitu rapi dan tidak urakan seperti sebelumnya.
Ia bingung harus kemana Ia sekarang, Ia tidak tau seluk beluk sekolah ini. Satu-satunya cara yaitu menuju ke kantin. Siapa tau ada orang yang begitu dermawan, baik hati dan tidak sombong yang sedia mengantarkan ke ruangan kepala sekolah.
"Sumpah, demi sempak si gundul dari goa hantu. Ini hari pertama yang sial buat anak baru kayak gue" gerutunya. Ia berjalan dan duduk di bangku pojok. Ia ingin menghela nafas sebentar, Ia capek harus lari-larian ngejar bus. Sama seperti doi, yang dikejar tapi tak kunjung peka.
Lagi-lagi helaan nafas kasar keluar dari mulutnya. Gadis itu melihat jam yang melingkar cantik dipergelangan tangannya.
Jam setengah delapan. Mending gue tanya mbak-mbak kantin aja kali yaa. Siapa tau, dia sudi nganter gue. Mudah-mudahan. Gumamnya.
Gadis tersebut berjalan ke mbak-mbak penjual bakso.
"Misi mbak, saya boleh minta bantuan gak?" Tanya Gadis itu.
"Oh tentu, ada apa?"
"Saya anak baru disekolah ini. Mbak bisa gak nganterin saya ke ruangan Kepsek?"
"Yasudah ayo"
Mereka akhirnya berjalan memuju ruangan Kepsek yang berada dilantai 3.
"Makasih mbak....--"
"Panggil aja Mpok Zani" kata Mpok Zani dengan suara medok betawi.
"Oh oke, makasih Mpok Zani"
"Iya sama-sama. Kalau begitu saya permisi" katanya Mpok Zani. Lalu pergi dari tempat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANNARDAN
Teen Fiction"Kenapa lo suka banget ngerjain gue dengan angka-angka yang jelas-jelas gue gak ngerti?!" Tanya Anna. "Karena gue suka ngeliat lo tersiksa dengan angka-angka yang menawan" jawab Ardan. . . "GUE BENCI LO" . . "Gue juga cinta sama lo"
