His Life

57 3 0
                                        

 NEW YORK


"Aku taruhan dua ribu dolar kalau Rinaldo akan menang." Jeremy meletakkan lembaran dua ribu dolar di atas meja dengan penuh percaya diri. Sedangkan tiga laki-laki yang sejak tadi duduk bersama Jeremy menatapnya dengan wajah mengejek.

"Kau tahu kan laki-laki macam apa Jordan itu." ujar seorang lelaki bertubuh kekar dengan tato pada seluruh lengannya. Suaranya penuh dengan ancaman, namun Jeremy sama sekali tidak bergeming.

Ia percaya seratus persen dengan sobatnya bernama Rinaldo itu.

"Kita lihat saja siapa yang akan menang." Jeremy kembali berkata membuat laki-laki di hadapannya mengernyitkan dahi.

"Percaya diri sekali. Bocah tengik macam Rinaldo tidak akan bisa menyaingi Jordan." Laki-laki dengan badan paling tinggi di antara gerombolan itu mendekatkan diri kepada Jeremy berusaha mengintimidasinya. Jeremy merasa agak sedikit gugup, tetapi ia berusaha menutupinya dengan mengendus. Lagipula kalau dia sampai kalah kali ini maka ia tidak akan bisa membayar uang sewanya bulan ini.

"Tentu saja!" Jeremy menjawab terlalu keras sampai-sampai semua orang melototinya.

Seketika orang yang diharap-harapkan oleh Jeremy pun datang dengan masuk ke dalam ruangan sempit itu bersama dengan seorang lelaki yang bertubuh kurus, berambut pirang dan kacamat tebal bertengger pada hidungnya yang kemancungan. Wajah lelaki kurus itu terlalu tirus dan agak sedikit menonjol pada bagian mulutnya.

Sedangkan lelaki yang telah ditunggu oleh Jeremy berbeda seratus delapan puluh derajat. Wajahnya sangat proposional, mata coklat gelap dan rambut jigrak, tubuhnya juga tinggi serta cukup berisi. Gayanya biasa saja, hanya mengenakan kaos dan celana panjang. Tetapi lelaki itu terlihat mencolok di antara yang lain.

"Jordan." Tiga orang lelaki itu segera mendekati lelaki kurus itu, membuatnya tambah terlihat leibh kecil lagi. Di antara lelaki berbadan kekar, Jordan hanya menundukkan kepalanya dan
mengangguk-angguk. Rinaldo memperhatikan lawannya untuk hari itu dengan tersenyum kecil dan keduanya pun mulai duduk.

Ketegangan di dalam garasi mulai terasa. Ditambah dengan panas dan lembabnya ruangan itu, serta mata-mata yang tertuju kepada dua pesaing yang sedang bersiap-siap.

Rinaldo menarik nafas dalam-dalam dan mulai merenggangkan otot tangannya. Ia memutar lehernya dan terdenger bunyi krek yang sangat keras. Lalu setelah itu, ia pun kembali menggerak-gerakkan jarinya sambil menatap tombol serta joystick di hadapannya dengan mata memangsa. Tanpa berbicara keduanya menunggu aba-aba dari angka yang menghitung mundur di depan layar.

Tiga.

Dua.

Satu.

Dengan kecepatan secepat kilat, tangan dari kedua orang itu segera memegang joystick dan memencet tombol berwarna merah tanpa berhenti. Rinaldo tidak dapat melepaskan matanya dari avatar pesawatnya yang bergerak dengan lugas sambil menembakkan musuhnya tepat sasaran. Namun musuh-musuh semakin banyak bermunculan dari berbagai arah membuat Rinaldo mulai berhati-hati, apalagi ketika pesawat itu menembakkan peluru ke arah Rinaldo tanpa ampun. Tidak sekalipun Rinaldo dibiarkan diam, karena tangan lelaki itu bergerak tiga kali lebih cepat dari awalnya, berusaha menaikkan skor pada ujung layarnya.

Tidak jauh berbeda dengan Jordan yang juga tidak dapat melepaskan tatapannya dari pesawat kecil miliknya yang terus menerus diserang. Membuat keringat mengalir deras pada dahi Jordan ketika ia melihat pesawat musuh semakin mendekat dan mendekat, hendak menjatuhkan pesawatnya. Namun Jordan berusaha sebisa mungkin untuk menghancurkan dan menghindari pesawat tersebut. Semakin ia berusaha, semakin banyak juga yang berusaha membunuhnya.

Orang-orang yang memperhatikan mereka berdua menahan nafas saat melihat kedua pemain itu bersaing habis-habisan.

Tidak ada yang dapat menebak siapa yang akan memenangkan babak ini, tanpa terluka dan membawa pulang kebanggaan.

Angka di ujung layar terus bertambah dan tantangan yang dihadapi oleh mereka semakin sulit saja.

Jeremy dalam hatinya berdoa dengan sepenuh hatinya. Jantungnya berdegup ketika melihat pesawat kecil milik Rinaldo melemah. Lelaki itu mulai keletihan untuk bertarung.

Senyuman kemenangan mulai tersirat pada wajah orang-orang yang mendukung Jordan. Mereka meremas pundak Jeremy dengan keras seperti tahu kalau kemenangan akan segera jatuh di tangan mereka.

Tetapi Jeremy tidak ingin menyerah. Ia masih percaya.

Ia percaya kepada lelaki itu.

Apapun yang terjadi.

"Keparat!" Terdengar teriakkan memekik yang membuat semua orang melongo.

Siapapun yang mengatakan kata-kata mematikan itu, berarti sudah dapat dipastikan kalau pesawat mereka lah yang gugur dalam peperangan sengit ini.

Baru saat itulah Jeremy melihatnya.

Jordan telah memukul layar komputer yang bertuliskan:

YOU LOSE


Finding YouWhere stories live. Discover now