PART 1

603 47 6
                                        

Kebanyakan orang berfikir kalau anak yang cerdas akan duduk di bangku deretan depan, tidak bisa bersosialisasi, atau pecinta buku. Tapi tidak dengan syifa, dia memang pecinta buku, lebih lebih novel, duduk di deretan belakang, dan pandai bersosialisasi, karena sifatnya yang selalu welcome dengan orang baru, hampir semua siswa di sekolahnya mengenalnya dengan baik.

"Bunga yang sama lagi fa?" Tanya uut sahabatnya sejak SMP yang baru saja meletakkan tasnya di mejanya, Syifa hanya mengangguk dan memandang setangkai bunga kertas seakan memandang nasi ayam buatan bundanya.

"Siapa sih? Gak modal banget, masak iya bunga kertas, sekali sekali kan bisa bunga beneran gitu." Timpal puput yang juga baru bergabung di meja syifa. Syifa hanya mengedikkan bahunya, gak ambil pusing hanya karna bunga terbuat dari kertas.

"Lo tau fa siapa pengirimnya? Hampir 3 tahun lho." Syifa hanya mengangguk anggukkan kepalanya, syifa melirik cowok bermuka melempem di seberang mejanya yang sedang ngobrol dengan azka.

"Siapa?" Teriak mereka barengan.

Syifa menutup telinganya yang berdenging. "Gue belum yakin sih, cowok ini paling melempem yang pernah gue kenal." Syifa memelankan suaranya.

"Yaaahhhhhh, kecewa penonton" Seru mereka barengan. Syifa hanya cengengesan memandang ke empat sahabatnya.

"Sumpeh ye, ni cowok gak modal banget, ini syifa lhoh, syifa. Kembarannya my future husband azka, dapetnya bunga kertas?? Oh my goodness, kok ngenes banget yaaahhh." Kali ini ulya bersuara, cewek paling gak tau ngerem dan gak punya saringan kalau ngomong dan penggemar berat azka.

"Bunga mawar setangkai berapa sih??? Bukannya dua rebu doang, masak seh gak bisa beli. Apa diaa..... hmm." Syifa menutup mulut ulya, takut cowok di seberang mejanya mendengar hal yang syifa yakin pasti gak enak banget.

"Yaaakkkkkkk..... jijik banget lo." Syifa menghapus telapak tangannya yang di jilat ulya. Ulya hanya cengengesan, entah ngidam apa mamanya sampe punya anak seunik ini. "Sudah deh, gue aja fine fine aja yang nerima kok kalian yang ribet, gue suka. Ini termasuk romantis lhoohh, gak harus bunga asli, bunga kertas cukup menyentuh." Lanjut syifaa. Ia kembali milirik bangku di seberangnya.

"Iyuuuhhhh." Ujar ke empat sahabatnya. Syifa hanya bisa tertawa, sebenarnya dia sedang mengetes reaksi sang pemberi bunga, tapi gak ada reaksi apapu. Kecewa?? Tidak juga hanya saja.... entahlahh dia bingung sendiri, dengan cowok satu ini. Dia hanya tau kalau cowok ini sahabat azka, selebihnya? Tidak ada.

"Heii.... kalian berlima, bisa diem gak." Syifa menaikkan alisnya, menatap azka. "Berisik banget."

Syifa berdecak kesal, dia melipat tangannya di depan, menatap memperhatikan azka, menunggu saudara kembarnya melanjutkan kalimatnya.

"Terserah lo deh." Syifa menahan tawanya, melihat azka yang terlihat salah tingkah.

"Oh my honey bunny sweety baby azka, kok tambah ganteng sihhhhh." Syifa dan yang lainnya langsung mau muntah mendengar apa yang di katakan ulya.

"Azka bukannya suka, dia malah takut kalau kamu kayak gitu." Kali ini wulan yang biasanya hanya pendengar setia dan paling kalem di antara sahabat syifa.

"Sumpah yahh, ngomong sama lo kayak orang pacaran, pake aku -kamu." Wulan hanya tersenyum mendengar protes uut.

"Make aku-kamu juga bukan harus karena pacaran juga keles, bagus dong kayak wulan gitu, sopan. Gue kalau di suruh milih wulau atau si ulya buat jadi ipar gue, gue milih si wulan." Ulya mencebikkan bibirnya, langsung di sambut tawa yang lainnya.

********

"Azmi.." panggil wulan.

"Apa?"

"Ke kantor gih, pak haris ada gak? Siapa tau ada tugas kalau beliau gak dateng."

HOLD ME CLOSERWhere stories live. Discover now