[A] Series 1 - A Hat.
Word : 1185
A HAT
Suara angin begitu jelas di telingaku. Aku berjalan sekuat tenaga bersama dengan payung yang aku pegang. Bersama kami melawan air hujan yang turun begitu deras.
Sepatu, rok, hingga Blouse milikku basah terkena air. Aku melihat ke kanan dan ke kiri, sepertinya mereka semua senasib denganku.
Hari Rabu adalah hari yang paling aku benci, karena setiap hari itu.. ada saja pegawai yang tidak hadir sehingga membuatku menanggung semua pekerjaan mereka bertumpuk, sehingga aku pulang larut.
Langit mulai tidak bersahabat denganku. Perlahan, ia menutup langit birunya menggunakan awan yang telah menggelap itu. Ia mungkin overdosis air sehingga memberikan kami kesedihannya.
Di saat-saat seperti ini aku berhenti berjalan kemudian berlari di salah satu halte, meskipun banyak orang yang berteduh di sana, sepertinya akulah yang paling membutuhkan.
Sesampai di tempat itu, aku menutup payungku kemudian berdiri mulai berteduh. Kulihat langit itu, mereka sepertinya sedang mengeluh kesakitan karena menampung begitu banyak air sehingga ia melampiaskannya kepada manusia yang bersalah.
Termasuk diriku.
Mulailah aku kembali ke masa indah nan pahit itu. Dimana semuanya baru bermulai.
Saat dimana aku baru saja membeli topi baru, kemudian...
[*]
"Cantiknya.. aku punya uang berapa ya??" gumamku seorang diri di depan toko yang menjual segala aksesoris yang dibutuhkan gadis-gadis remaja seperti diriku ini.
Saat melihat kantung bajuku, aku tak melihat uang sepersen pun di dalam sana. Jadi aku akan tetap melihat topi cantik itu dari balik kaca ini saja?
Tidak mungkin!
Tapi setelah kupikir kembali.. sepertinya itu mungkin. Harga topinya juga ke mahalan, mending aku membeli nasi kuning yang dijual nenekku sehingga uang yang di berikannya padaku kembali pada tangannya yang telah berkeriput.
Nenekku, hanya dirinyalah yang masih bertahan menemaniku di dunia yang fana ini. Dia benar-benar seorang ibu sekaligus nenek yang sangat hebat. Di usianya yang memasuki 71 tahun, tidak membuatnya berhenti untuk menghidupiku.
Ia berkata bahwa, "Cucuku adalah segalanya, dan segalanya adalah cucuku."
Di usianya yang seperti itu bahkan, ia masih bisa menggombalku sebagai cucunya yang pertama.
Dan aku sangat membenci ketika wajahnya menyiratkan kesakitan.
Seperti hari ini. Sesampainya aku di rumah, aku melihat nenek yang tertidur di atas sebuah sarung yang menjadi perantara antara dirinya dengan lantai semen yang begitu dingin.
Aku tidak bisa melihat nenekku menderita seperti ini. Beliaulah yang membuatku dapat dewasa dan bersekolah hingga saat ini. Danaku sangat menyayangi dan menghormati beliau.
Dengan jalan yang pelan, aku memasuki rumahku yang berukuran kecil ini namun dapat menampungku dan nenek.
Setidaknya, itulah yang dibutuhkan sekarang ini.
Setelah mengunci pintu, aku mengambil sarung kemudian meletakkannya di samping nenek dan mulai terbawa alam mimpi, bersama dengannya.
"Aku menyayangi nenek," itulah ucapanku yang selalu aku ucapkan pada nenek, namun sepertinya ia tidak mendengarnya.
YOU ARE READING
A HAT [1/1] END
Short StoryAku bahagia dan menyesal karena sebuah topi yang terbang di musim gugur itu. #DRAFTNYA 2018 #PUBLISHNYA 2021 LMAO Makasih udah baca!
![A HAT [1/1] END](https://img.wattpad.com/cover/96149661-64-k942219.jpg)