OYE

18 4 1
                                        

Pagi itu seperti biasa Retina selalu bangun setelah mendengar suara lengkingan khas yang menggetarkan seluruh rumah. Ya, siapa lagi kalo bukan ibunya.

Nama aslinya sih Retina Nugrahayu Widyastuti tapi da pnya banyak panggilan, resminya sih Rere (elah kayak kantor urusan agama aja, diresmiin). Orang rumah atau lebih tepatnya  ibunya sering manggil ayu, katanya sih biar ayu atau cantik, berhubung Rere Cuma anak tunggal dan perempuan, tapi kebanyakan temennya selalu ketawa tiap Retina dipanggil ayu, gacocok sama sekali sama kelakuannya. Nah panggilan gawlnya sih oye, biar gampang diinget katanya.

“Yu, ayo bangun, yakali sih telat mulu” teriakan ibunya yang mampu membangunkan macan yang sedang hibernasi (eh gading, macan gaada yang hibernasi).

“Iya ibuku sayang, bentar ya rere masih mager” rayu Retina, berusaha untuk memeruskan mimpinya yang terganggu.

“Kamu tu lho, udah kelas 12 juga, ibu udah bosen yu, dipanggil BK mulu, malu ibu” teriak ibunya dari dapur yang makin bergemuruh membuat tetangga sebelah pasti juga mendengar omelan ibunya.

“Kalo kamu ngga bangun, yaudahlah besok ibu kawinin aja” tambah ibunya.

“Bagus deh kalo langsung dikawinin gaperlu sekolah lagi, gaperlu bangun pagi lagi, gaperlu diomelin ibu lagi” jawab Retina ketus. Ya gimana ngga bete, udah mimpi keganggu, eh malah ditambah omelan ibunya yang selalu bikin kuping panas minta dikorek.

“Udah to, udah, re, ayo bangun, kasian ibumu lagi sibuk didapur kamunya malah masih enak-enak ngebo” akhirnya ayahnya Retina bersuara. Berusaha menengahi perbedatan yang setiap pagi menjadi agenda wajib keluarga ini.

“Ya.. ya.. ya” jawab Retina ogah-ogahan.

Namun mau tak mau ya dia harus bangun. Mencoba menjalani rutinitasnya yang (sangat) membosankan. Tidak jauh-jauh dari sekolah yang isinya ya tugaslah, ulanganlah, sama sekali ngga ada menariknya. Capek hayati kalo digininiin mulu. Sumpah deh, mending dia langsung minta kawin. Tapi yah, siapa juga yang mau sama anak yang ijazah SMA aja belum dapet.

Setelah mandi, ganti baju, makan, Retina besiap-siap pergi kesekolah. Dulu sebelum dia mendapatkan SIM, biasanya Retina naik angkot atau kalo ada temennya yang baik ya nebeng, tapi ya, ngga enak kali tiap hati nebeng mulu, kesannya kek benalu gitu. Makanya dia cepet-cepet pengen punya SIM, bosen tiap hari ketemu bapak-bapak angkot sama tukang sayur yang genit.

Ketika sudah menstater motornya bersiap meluncur kesekolah (dikira naik skateboard) tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat amat nyaring dari dalam rumah.

“Yu salim dulu to sama bu, ngga mau didoain selamet sampe sekolah?” suaranya menurun begitu sudah dekat dengan anak satu-satunya ini.

“Oiya lupa bu, doain rere ngga telat ya, bosen disuruh lari-lari mulu”

“Noh, udah tau telat ngga enak, siapa suruh bangun mesti siang”

Duh kayaknya Retina salah ngomong nih, kalo ini diterus terusin ia yakin sampe bel pulang sekolah nanti ngga bakal selesai.

“Iya bu, berangkat dulu”

Kemudian badan Retinapun semakin mengecil kemudian menghilang setelah tikungan.

Di perjalanan Retina bergumam sendiri.

“Pengen deh punya rutinitas yang lain, yang engga monoton, ngga melulu soal tugas dan ulangan”

“Tapi apa ya…” kata Retina juga bingung akan pikirannya sendiri
Bukan, bukan Retina pengen melakukan hal negative atau lain-lainnya yang buruk. Ia sadar betul kalo sekarang udah kelas 12. Tinggal sebentar lagi akan melepas seragam putih abu-abu. Retina hanya merasa, bosan.

Ya bosan. Makanya Retina harus mencari partner untuk melakukan kegiatan baru.

------------------------
Halo ini cerita baru ku, semoga kalian bisa menikmati ya:)
Jangan lupa kasih bintang yaaa
Untuk kritik dan saran bisa melalui komen ;))
Terima kasih ^^

OASUStories to obsess over. Discover now