Dua

38 5 0
                                        

2. | Goodbye

Jakarta, 2005

Musim hujan kali ini datang lebih cepat dari tahun sebelumnya. Hampir setiap hari, kota di guyur hujan, padahal sekarang baru memasuki bulan Juli.

Seperti pagi ini, hujan turun sangat deras. Mungkin waktu saat ini sangat cocok di pakai untuk meringkuk di tempat tidur, dengan selimut tebal atau meminum coklat panas di sertai makanan pelengkap, apapun itu asalkan suhu tubuh tetap dalam keadaan hangat.

Tapi nyata nya, hal itu hanya di lakukan oleh beberapa orang saja. Karena sekarang adalah hari senin. Hari dimana sebagian orang mulai sibuk dengan pekerjaannya, atau juga pelajar yang memasuki hari pertama di awal semester.

Kayla dan ayahnya baru saja pindah dari Bogor. Seminggu di Jakarta, membuatnya bosan. Sebab, Ia belum mendapat teman satupun. Lingkungan di sekitar rumahnya yang sekarang, beda jauh dengan rumahnya yang di Bogor. Bukannya Kayla ingin membandingkan, tapi ia masih belum bisa 'Move on' dari kota asalnya.

Saat ini, Kayla dalam perjalanan menuju sekolah barunya. Ayahnya mendaftarkan nya di SMPN 106, yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Semua keperluan Kayla memang di urus oleh ayahnya. Ibunya sudah meninggal setelah melahirkannya. Jadi ia akan mengikuti kemanapun ayahnya pergi.

Daripada di antar Ayahnya, Kayla memilih untuk naik bus. Ia ingin belajar mandiri mulai sekarang. Kayla telah memantapkan hatinya, bahwa ia akan memulai kehidupan yang baru di sini.

Begitu bus berhenti, Kayla segera turun dan berlari ke halte, ia mengeluarkan payung dalam tasnya.

Saat Kayla berniat melangkahkan kakinya menuju sekolah, tiba-tiba siswa yang berdiri di sebelahnya menarik lengannya. Kayla menoleh.

"Dik, boleh nebeng ga?".

Kayla terdiam sesaat, sebelum akhirnya menganggukan kepalanya.

**

Dennis terkejut saat bu Ratih--wali kelasnya--memperkenalkan murid baru di depan kelas. Dan murid baru itu, cewek yang tadi ditemuinya di halte.

'Dia bukan adik kelas?'

Dennis meringis, ia jadi malu sendiri.


Tapi kalau boleh jujur, menurutnya gadis bernama Kayla tersebut cukup membuatnya tertarik hanya dengan sekali melihatnya.

Saat tadi Dennis berada di halte menunggu hujan reda, ia melirik setiap murid yang turun dari bus. Berharap ada seseorang yang ia kenal. Tapi yang ada waktu semakin siang, dan hujan belum juga berhenti. Akhirnya, ia memutuskan untuk numpang pada siapa saja yang berada di dekatnya dan tentunya, yang membawa payung.

'Toh, satu sekolahan ini'. Pikir Dennis meyakinkan.

Ia menarik lengan gadis di depannya. Sebenarnya, Dennis juga bingung harus apa. Kalau panggil? Tidak tahu namanya, berteriak 'hey' di kira tidak sopan. Jadi ia memilih untuk menarik lengan gadis itu, meskipun sedikit ragu.

Entah kenapa, tepat saat Dennis menatap mata gadis itu. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

Konyol memang, baru pertama bertemu sudah membuat hatinya berdebar. Tapi Dennis juga tidak terlalu memikirkannya saat itu.

Goodbye, Hello!Where stories live. Discover now