Ladeva Azzquenna (Deva)
Karena aku adalah rumah kamu dan akan selalu seperti itu, selamanya. Sejauh apa pun kamu pergi, sesibuk apa pun kamu, selama apapun aku nunggu kamu. Aku akan tetap menjadi rumah kamu. Sampai kapan pun, bahkan saat aku bukan milik kamu lagi, saat kamu melepas aku, aku masih mau menjadi rumah kamu. Tempat kamu singgah. Tujuan kamu. Takdir kamu. Walau pada akhirnya, kita hanya betatapan, bukan bergandengan.
Kai Feradiano (Kai)
Aku gak pernah ngerasa sehancur ini sebelumnya. Gak pernah. Aku selalu jaga harga diri aku di depan semua orang termasuk kamu. Awalnya aku fikir kamu akan hubungin aku lebih dulu saat kita marahan, seperti biasanya. Tapi aku salah. Kamu pergi. Kamu pergi saat aku mau ngerubah diri aku pelan pelan. Aku hancur dan aku gak pernah ngerasa sehancur ini. Saat aku gak punya tujuan lagi di hidup aku, dan kamu udah punya tujuan lain.
Rama Daniswara (Rama)
Izinin aku egois sekali aja, aku pengen milikin kamu seutuhnya. Aku pengen cuma aku yang ada di mata kamu. Cuma aku. Karena entah kenapa, hati aku selalu panas setiap ngeliat kamu mandang dia kaya mandang lukisan yang Indah. Sedangkan cara kamu mandang aku? Kamu anggap sebagai candaan. Gak salah sih, emang aku yang sengaja nanemin image itu, supaya kamu ga akan tau perasaan aku yang sebenarnya.
Maria Richiana (Hana)
Kadang aku suka sedih deh, kenapa yah Tuhan jadiin aku pemeran antagonis di kisah cinta aku sendiri? Kenapa semua marah sama aku? Kenapa seakan akan aku yang jahat? Kenapa kalian gak pernah mau lihat dari sisi aku? Aku cuma mau dia, cinta aku. Aku lebih dulu kenal dia. Kebetulan aja dia pacarannya sama orang lain. So, jadi maaf yah, aku gak ngerasa sama sekali jahat. Egois lebih tepatnya, karena aku cuma mau ambil punya aku balik lagi.
