Aku ingin menceritakan padamu tentang kisah seseorang yang ku kenal dan kagumi. Ia satu-satunya orang yang mampu membuatku bergetar akan maknanya kehidupan. Ia baik, tangguh, kuat namun tak lepas dari sifat kelembutannya. Aku tahu ia sejak pertama kali masuk ke sekolah ini. Senyumnya, rambutnya yang diikat satu, tasnya yang berwarna biru tua serta langkahnya yang tak pernah ragu. Ia adalah sesosok gadis cilik berusia 13 tahun waktu itu, terlihat masih polos memang, namun sebenarnya kadang ia juga menampakkan sisi dewasa dalam dirinya. Itulah sebabnya aku menyukai gadis itu, sangat menyukai. Namanya Kemala, indah bukan? Nama panjangnya, entahlah. Bodohnya aku, sampai sekarangpun aku belum mengetahui nama lengkapnya. Nama Kemala saja, aku mengetahuinya dari para siswa lain yang sedang membicarakannya, aku tak sengaja mendengar. Ya itulah aku, hanya bisa mengaguminya dari jauh.
Kemala, gadis manis yang mampu membuatku memperhatikannya. Secara tak sengaja aku dan dia bertemu waktu itu. Kemala duduk di sampingku, ia duduk sendirian di taman sekolah. Selalu dan jelas menjadi ciri khas Kemala adalah buku kecil yang selalu dibawanya ketika ia duduk di bangku taman sendirian. Aku suka sekali memperhatikan keseriusannya dalam menulis di buku itu. Apa itu diary? Sepertinya sangat pribadi, sampai aku mengintip tulisannya pun sulit. Ah sepertinya keberuntungan memihak padaku. Kau tahu mengapa? Karena setiap kali Kemala menyelesaikan tulisannya, ia akan membacanya. Suaranya begitu merdu dan lembut, bagaikan kemerisik bunyi ranting tertiup angin. Damai, ya satu kataku untuknya adalah damai. Kemala selalu tersenyum setelah selesai membaca tulisannya. Kalimat-kalimat yang terucap dari bibirnya bagai syair surga tertiup angin. Ya Tuhan, gadis ini begitu mirip seorang malaikat kecil. Selama aku mengenalnya, aku tak pernah menemukan keburukan Kemala yang sengaja ataupun tak sengaja dilakukannya.
Kemala, si gadis pembawa kedamaian. Ia selalu menjadi penengah ketika ada perselisihan. Bukan karena ia sok ikut campur, namun ia lebih memikirkan akibat yang akan ditimbulkan dari perselisihan itu. Ada yang suka, ada pula yang tidak pada sikap Kemala. Syukurlah, banyak yang memihak gadis kecil ini. Sikap dewasanya kadang membuat orang-orang di sekitarnya cukup tercengang. Kemala bagai peri penabur serbuk damai.
Suatu hari, di kantin sekolah yang berada di timur taman ada dua siswi yang bertengkar. Mereka ribut-ribut sampai suaranya terdengar ke lapangan basket yang berada di selatan taman. Semua anak basket yang sedang bermain serta para penontonnya langsung berlari menuju kantin tanpa menghiraukan bola basket yang tergelincir di lapangan. Seketika kantin menjadi ramai karena para siswa berbondong-bondong berkumpul di kantin. Mereka ingin melihat, ada kejadian apa di kantin, sampai suara teriakannya terdengar di lapangan basket. Padahal, menurutku jarak lapangan dengan kantin cukup jauh.
Setelah kutelisik ternyata ada dua orang siswi yang sedang bertengkar hanya karena berebut makanan. Ya Tuhan, berapa umur mereka? Bukankah mereka sudah memasuki fase remaja? Aku tak habis pikir dengan kelakuan dua siswi yang sedang bertengkar itu. Dari pendengaranku, suara yang kutangkap adalah seorang siswi yang tidak terima makan siangnya dijatuhkan. Sedangkan siswi yang satunya -yang menjatuhkan makan siang- sudah berulang kali minta maaf. Itu atas dasar ketidak sengajaan, ia juga mengaku salah dan minta maaf lagi karena tak bisa mengganti makan siangnya, dikarenakan uang sakunya sudah habis lagipula makan siang miliknya juga tumpah. Mengapa gadis itu tak terima? Itulah sebabnya terjadi pertengkaran, kalimat makian keluar begitu saja dari mulut gadis yang merasa dirugikan itu. Gadis yang tak sengaja menjatuhkan makan siangnya pun tersulut api amarahnya. Ia juga tak terima kalau dimaki secara keterlaluan sedang dirinya sudah minta maaf. Mungkin aku harus maklum, mereka remaja labil bukan?
Dan tak kusangka, di antara kerumunan siswa, di sana ada Kemala. Gadis itu melangkah ke depan, menghampiri kedua temannya yang sedang bertengkar. Apa yang akan Kemala lakukan? Aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri. Dia sosok yang berbeda. Di saat mereka hanya bisa menonton pertengkaran itu layaknya sinetron menarik, Kemala dengan berani melerai kedua temannya yang bertengkar. Si gadis malaikat berdiri di tengah mereka, merentangkan kedua tangannya untuk menciptakan jarak.
"Kumohon jangan bertengkar. Makan siangku cukup banyak, berbagilah untuk kalian. Ayolah. Apa kalian tak malu menjadi tontonan semua orang? Berdamailah, bukankah damai itu indah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Kaki Berkilau
Fiksi UmumKumpulan cerita pendek karyaku yang 'terpilih' dari awal suka menulis sampai sekarang. Boleh dibilang cerita-cerita yang ada di sini dibuat melalui banyak riset dan kelana. Awal-awal mungkin masih amburadul, tapi selanjutnya bisa dijamin... ya masih...
