SATU

264 50 60
                                        

Dea sigap melompat turun dari bus, bahkan sebelum bus itu benar-benar berhenti. Membuat kondektur yang berdiri di ambang pintu bus menggelengkan kepala melihat tingkah cewek berseragam putih abu-abu itu.

Sepasang mata hitam yang sedari tadi bersandar di pos satpam reflek menegakkan badannya dan ikut menggeleng. "Kebiasaan!" desisnya. Ditatapnya cewek yang setiap harinya selalu terlihat biru itu. Dari mulai tas, sepatu, jam tangan, gelang, dan segala aksesoris biru yg melekat di tubuhnya. Bahkan hari ini dia menambahkan bando biru yang menghiasi rambut panjang sebahunya.

Melihat cowok jangkung berdiri sambil berkacak pinggang di depan gerbang sekolahnya, Dea setengah berlari menghampiri.

"Lo tuh ya, kalo belum jatuh nyungsep belum mau hati-hati ya?"
Tuh kan bener! batin Dea. Cewek itu hanya meringis geli.

"Sori ya De, mobil gue belum kelar tuh di bengkel. Jadi belum bisa jemput lo." kata Nathan, tangannya terulur mengambil sehelai daun kering yang jatuh di atas rambut Dea.

"Gak papa kali, Nat. Seenggaknya dua hari ini gue ada alesan buat bangun pagi."

"Wah kalo gitu gue biarin aja kali ya itu mobil nginep di bengkel ampe taun depan."

"Yah jangan dong, masa lo tega liat gue kurang tidur gara-gara tiap hari kudu bangun pagi. Kalo lo jemput kan, seenggaknya gue punya tambahan setengah jam buat tidur lagi. Dan itu sangat amat berharga buat gue."

Nathan hanya mendengus mendengar alasan basi cewek di sampingnya. Gemas, dia acak-acak rambut Dea, lalu merangkulnya masuk kedalam sekolah.


Nathanial Putra Dinata dan Faradea Adhisti atau Nathan dan Dea, adalah dua orang yang tidak bisa dipisahkan. Siapa yang tidak kenal mereka? dua orang yang sudah seperti anak kembar, kemana-mana selalu terlihat bersama. Meski tidak selalu kompak, malah lebih banyak nggak kompaknya ketimbang kompaknya.

Contohnya soal warna, Nathan lebih suka warna merah dari pada warna biru yang notabene adalah warna yang digilai Dea. Alasanya "Biru tuh kalem, De. Gue kan cowok, ganteng pula. Jadi cocokan warna merah kalo gak item." Pengakuan yang selalu diikuti Dea dengan menjulurkan lidah mengikuti gaya orang muntah. Walaupun memang Dea akui kalo Nathan itu emang ganteng. Dengan kulit kecoklatan, hidung mancung, alis tebal, dan mata setajam elang.

Nathan juga tinggi. Tinggi banget malah menurut Dea. Kalau dibandingkan dengan dia yang puncak kepalanya saja hanya sebatas dada Nathan. Dan Dea sangat benci kenyataan ini, karena dia selalu disangka adik Nathan tiap kali mereka jalan berdua. Yang langsung membuat Dea badmood seharian tapi justru membuat Nathan terpingkal-pingkal.
Oiya, Nathan juga termasuk salah satu atlet basket di sekolah. Yang sebentar lagi mau tidak mau harus pensiun karena dia sudah kelas dua belas.

Mereka juga nggak pernah kompak soal olahraga, karena Dea benar-benar buta dengan kegiatan-kegiatan yang berbau olahraga, seperti basket, voli, renang, dan sebagainya.
Olah raga yang benar-benar dikuasainya hanya lari. Setidaknya itu modal buat dia untuk menghindari kejaran Nathan atau teman-temanya yang kebetulan kena sasaran keisengannya.
Kalo ditanya kenapa dia bego banget sama olah raga, dia selalu bilang "Lagian badan gue kan udah kurus. Olahraga itu cuma buat mereka yang mau ngurusin badan." Yang langsung dihadiahi jitakan oleh Nathan dan Fisna, teman sebangkunya.

Nathan ini sebenarnya kakak kelas Dea. Nathan lebih tua satu tahun diatas Dea. Tapi dari mulai SD sampai SMA mereka selalu satu sekolah. Nathan hanya perlu menunggu satu tahun tidak bersama Dea saat dia kelas 7 dan kelas 10, untuk kemudian mereka akan kembali bersama dua tahun kedepan.

Memeluk SenjaStories to obsess over. Discover now