Iseng bikin ini setelah mendengar cerita seorang teman yang di kembangkan dan di tambahi bumbu penyedap (?) haha
Happy Reading 😁
***
"Satu.. Dua.. Tiga.. Angkaaatt"
Terlihat seorang gadis kecil sedang bermain main dengan kedua orang tuanya, terukir senyum manis bahagia di wajahnya seperti tak ada beban.
Ya, gadis itu adalah aku semasa kecil. Kalian bisa memanggilku Mia.
Itu tadi adalah sepenggal memory indah yang selalu ku kenang, memory indah yang mungkin tak kan pernah bisa kurasakan lagi.
Sepertinya hanya itu kenangan indah yang bisa kuingat bersama orang tuaku semasa kecil. Sisanya, kenangan kenangan bersama teman masa kecil dan saudara-saudara.
Aku anak tunggal, jadi berasa lah sepinya kalo lagi ga ada temen, apalagi dengan orang tuaku yang sibuk dengan urusan masing-masing, tapi bukan berarti aku di telantarkan atau tak diurus, aku hanya merasa kesepian ~
Aku bukan tipe anak manja yang apa apa harus di layanin, apa apa harus diturutin, karena didikan orang tuaku yang memang tak mengajarkan ku menjadi manja dan aku yang memang terbiasa apa apa "sendiri".
Bahkan saat TK sampai SD pun aku tak pernah diantar oleh orang tuaku, aku berangkat sendiri.
Jangan kira masa kecilku seperti anak-anak yg lainnya. Bukan. Bukan aku tak bahagia dengan masa kecilku, aku bahagia, tapi kehidupan masa kecilku mungkin bisa dibilang keras, dengan usia dini aku sudah merasakan kerasnya sebuah kehidupan.
Mungkin ada yang lebih parah dari padaku, dan "kerasnya" hidupku tidak ada apa-apa nya dari yang lainnya. Entahlah yang jelas ini hanya dari sudut pandangku saja. Terserah orang lain mau berpendapat seperti apa, aku hanya bercerita dari sisiku saja, sisi yang ku tau saja. Jadi jangan banyak bicara jika tak merasakannya (?) mengerti? Ku tekankan sekali lagi, ini hanya dari sudut pandang dan sisi ku saja.
Dan, inilah kisahku.
Pendidikan ku saat SD? Hmm biasa-biasa saja, aku bukan seorang murid yang pintar, bukan juga murid yang bodoh. Aku hanya murid yang sering dihukum karna tak mengerjakan PR, suka berkelahi, suka malakin anak, badung sekali aku dulu. Dan orang tuaku tak pernah tau itu. Bagus.
Aku dulu mengikuti perguruan pencak silat, jadi wajar kalau sering berkelahi dan kadang sok jagoan, geli sendiri kalau mengingat itu.
Eh ada satu yang terlewatkan, aku termasuk murid yang sering tidak bisa membayar SPP dan orang tuaku selalu menghadap kepala sekolah untuk meminta keringanan setiap aku akan menghadapi ujian semester.
Oh aku belum cerita ya kalau aku bukan anak orang kaya? Yaah aku memang tidak terlahir di tengah-tengah keluarga yang bergelimang harta, kehidupanku sederhana, cukuplah.
Pada saat itu ibuku terjerat hutang. Gali lubang tutup lubang, dikejar kejar rentenir bermuka garang yang suka marah marah ketika ibuku tak bisa membayar hutang.
Aku sudah terbiasa menghadapi para rentenir itu. Mungkin ini juga menjadi alasan kenapa orang tuaku sering bertengkar, dan apa yang ku lakukan ketika mereka seperti itu? Aku hanya bisa membesarkan volume tv agar tak mendengar suara bentakan dan cacian yang keluar dari mulut kedua orang tuaku.
Suatu hari ayahku membawa pulang seorang wanita kerumah dan memperkenalkannya padaku dan juga ibuku. Aku hanya memanggilnya dengan sebutan "tante" yang kukira hanya rekan kerja ayahku saja. Sampai akhirnya ku ketahui bahwa wanita yang kusebut "tante" itu adalah selingkuhan ayahku. Ya dia memang pantas kusebut tante, tante girang mungkin?
Bayangkan, dia adalah selingkuhan ayahku dan dia di perkenalkan padaku dan pada ibuku? Bahkan kami menjamunya dengan ramah! Jika dari awal aku tau dia adalah wanita penggoda, mungkin akan sedikit ku campur obat serangga pada minumannya agar dia tau rasa! Dan aku tak kan sudi mau jalan-jalan dengannya dan memakai barang pemberiannya!
Jika mengingat wajah "sok" baiknya, ingin sekali rasanya aku menjambak wajahnya itu!
Kok aku terdengar sadis ya? Ah bodo amat! Aku sedang kesal!
Setelah mengetahui hal itu, ibuku seperti orang stres, sepulang sekolah kudapati dia sedang tertidur dengan wajah yang ditutupi bantal, saat ku buka betapa terkejutnya aku yang melihat rambutnya menjadi pendek karna di potong dengan frustasi oleh ibuku. Aku tak bisa berbicara apapun, yang bisa kulakukan hanya menatapnya dalam diam. Ibuku pun jadi sering menghabiskan ber pack-pack rokok.
Coba kalau kalian jadi aku bagaimana perasaan kalian? Apa yang akan kalian lakukan?
Sakit. Itu yang kurasakan. Namun tak banyak yang bisa ku lakukan mengingat usia ku yang pada saat itu masih menginjak kelas 4 SD.
Suatu hari ayahku memanggilku dan mengajakku berbicara di dalam kamar.
"Mia, kalau ayah sama ibu cerai Mia mau ikut siapa? Ga usah malu kalau nanti di olok-olok sama teman-temanmu, tidak usah dihiraukan"
WHAT?!. Apalagi ini? Omongan macam apa ini? Leluconkah? Jika ini lelucon, sungguh ini sama sekali tidak lucu! Perceraian tidak sebercanda itu! Dan lagi aku hanya bisa diam, tak bisa berkata apa-apa walau sebenarnya di lubuk hatiku ingin menjawab ikut ibu. Namun aku tak kuasa, kalau bisa aku tak ingin memilih siapa-siapa, aku ingin kita tetap bersama menjadi satu keluarga.
Tapi syukurlah perceraian itu tidak terjadi. Mereka memutuskan untuk rujuk dan ayahku pergi ke sebuah pondok pesantren, mungkin untuk merenungi apa yang sudah dia lakukan.
***
Tbc~
