Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, sementara Kayla masih duduk di depan layar komputer. Ia masih harus mengedit dan menyempurnakan naskah untuk artikel yang akan diterbitkan minggu depan.
Kayla menyeruput Ice Blend yang baru ia beli di kantin dekat parkiran. Seharusnya, jam segini Kayla sudah selesai dengan semua pekerjaannya dan berbaring di kasur empuknya. Tapi, untuk saat ini, itu hanya ada dalam imajinasi nya saja. Karena pekerjaannya yang masih menumpuk.
Kalau saja pak Purnomo tidak menyuruhnya untuk mengedit naskah yang ternyata harus diselesaikan hari ini. Dengan alasan, ketuanya tersebut akan pergi ke Thailand selama tiga hari kedepan. Di tambah, besok adalah weekend. Jadi, mau tidak mau, pekerjaannya harus selesai hari ini, itu artinya, Kayla harus rela lembur sebentar dikantor.
"Kae, mbak pulang duluan ya". Pamit mbak Ina-seniornya yang bekerja sebagai redaktur.
Kayla meliriknya sekilas. "iya, hati-hati mbak".
"Kae, kerjaan lo masih banyak? semangat ya! Gue balik duluan, bye!". Itu Sofia. Ia menghampiri meja Kayla, menatap temannya tersebut, iba kemudian melambaikan tangannya.
Kayla hanya membalas dengan gumaman singkat, matanya masih fokus pada layar monitor. Kerjaannya harus segera selesai, jadi ia juga bisa pulang seperti yang lainnya.
Tak lama, Lula-rekan kerjanya yang bekerja sebagai Fashion Stylist-juga pamit pulang. Tapi, sebelum Lula berbalik, ia berbisik pelan. "Nanti malem si pemred dateng, lo bakal berduaan disini, ti-ati ya, jangan sampai khilaf".
Di saat semua memanggilnya pak Pur, Lula malah memanggil pak Purnomo dengan sebutan pemred. Sesuai sih, dengan jabatannya. Kalau kata Lula sih, mending manggilnya gitu daripada 'pak Pur'. Habis, namanya sama dengan tukang baso sebelah rumahnya. Tapi ya, kalau didepan orangnya langsung, mana berani dia. Karena pak Pur orangnya, gak bisa di ajak bercanda. Ibarat jalan, pak Pur tuh lurus gak ada belok-beloknya.
"Dih, pake ngusir segala. Pengen cepet-cepet berduaan ya sama si pemred". Ucap Lula genit.
Kayla menatap Lula dengan kesal. "Sableng lo! Yang ada tuh, gue pengen cepet-cepet kelar".
"Ga usah marah-marah dong, nanti cantiknya ilang. Kalo cantiknya ilang, nanti pak pemred nya gamau nemenin".
"LULA!!!". Kayla sudah siap melayangkan pot kecil yang terletak di meja kerjanya. Tapi sebelum itu, Lula buru-buru lari keluar, menyisakan Kayla dan Tyan yang masih berkutat dengan komputer.
**
Waktu terus berjalan, Kayla masih duduk manis di kursinya, jarinya menari-nari di atas keyboard yang setia menemaninya sampai saat ini. Matahari turun perlahan menenggelamkan sinarnya, membuat langit sedikit berwarna jingga. Sesekali Kayla menguap, ia mengunyah permen karet yang sengaja disediakan untuk tiap karyawan.
Dengan cepat, Kayla menengok ke arah Tyan, ia memberikan tatapan horror nya. "Ga bisa! Lo 'kan penulis naskahnya. Jadi, lo juga harus nemenin gue sampe selesai!". Ucapnya tegas.
"Yaah, Kae.. sore ini gue ada janji sama yayang gue. Gue balik ya. Kalo ada apa-apa, lo telpon gue deh". Rengek Tyan.
"Ga! Bentar lagi selese kok".
"Ok. Lima menit". Tyan mengangkat lima jarinya.
"Lima menit, pala lu! Gak nyampe sejam, I swear. Lo duduk cantik aja di situ". Kayla memutar kursinya dan kembali menatap monitor. Beberapa detik kemudian, handphone-nya berdering, tanda pesan masuk.
'Saya tidak bisa datang ke kantor, ada urusan mendadak. Nanti hasilnya kirim lewat e-mail saya.
Satu lagi, berkas yang ada di meja saya, tolong antarkan ke rumah.'
Kayla menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskan nya kasar. "Tau gini, gue kerjain di rumah. Hadeuuh".
Tyan mengangkat satu alisnya. "Kenapa?'.
"Pak Pur sms, katanya kirim lewat e-mail aja. Kan nyebelin. Tadi dia bilang, 'Kayla, saya tunggu di sini sampai selesai. Hari ini juga!' tau gitu dari tadi gue pulang". Kayla menirukan gaya pak Pur yang sedang membentaknya. Walaupun sama sekali tidak mirip.
"Ya maklumin dah, orang tua. Kalo gitu, gue bisa balik dong sekarang".
"Eits, ga bisa gitu aja. Lo harus anterin berkasnya pak Pur ke rumahnya. Baru boleh balik".
"Gini deh, gue anterin lo sampe rumah pak Pur aja. Gue buru-buru banget nih, gimana?". Tawar Tyan.
"Oke deh".
**
Nasib malang Kayla sepertinya belum berakhir. Saat semua sudah selesai dan ia berniat pulang, ponsel nya kehabisan baterai. Ia tidak bisa memesan Taxi atau gojek. Di tambah lagi, di daerah rumah pak Pur jarang ada angkutan umum yang lewat. Apalagi, sekarang sudah lewat jam sembilan malam. Sudah hampir tidak ada lagi angkutan umum yang lewat.
Kayla sudah benar-benar lelah, dan perutnya terus mengeluarkan bunyi. Cacing di dalamnya sudah tidak bisa di ajak damai lagi. Rasanya, ia ingin memakan apapun yang ada di hadapannya. Tapi, Kayla masih cukup normal untuk tidak melakukan hal itu.
Kayla mengusap-usap lengannya, dingin. Tahu bigini, ia pakai sweater dari rumah. Ah iya, sebagai seorang yang bekerja di majalah fashion, Kayla dituntut untuk selalu tampil modis, kapanpun, dimanapun. Itu salah satu peraturan perusahaan jika mau bekerja di Flo Magazine. Atau mungkin juga, itu berlaku di semua perusahaan majalah fashion.
Seperti hari ini, Kayla terlihat cukup modis dengan kemeja pink dan blue midlength skirt. Di lengkapi Wedges warna hitam.
Kayla terus berjalan sambil menunduk. Ia menendang kecil kerikil-kerikil di tepi jalan.
Sampai akhirnya, sepasang sandal-yang Kayla yakini sandal lelaki-tepat berada di hadapannya. Pandangannya terus naik hingga ia bertatapan langsung dengan lelaki itu.
Kayla menatapnya selama tiga detik sebelum ia menoleh ke arah lain, tak percaya.
Kayla kembali menoleh saat lelaki itu mengeluarkan satu kata yang sukses membuat jantungnya berdebar cepat.
"Hi!".
◎◎◎
(Bonus pict)
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.