Prolog

145 14 7
                                        

"Selamat datang untuk para siswa baru tahun ajaran 2016/2017. Selamat datang di SMA favourite kalian, SMA Dharma Bakti.—"

Hanya suara itu yang terngiang di telinga Tyan sejak ia memasuki kawasan sekolah barunya, SMA Dharma Bakti. Mutyan Nanda Prameswari itu nama lengkapnya. Seorang gadis yang dinilai tampan wajahnya.

"Kelasku di mana?" Tyan mulai bergumam dalam hati sambil melihat sekeliling sekolah. Di sana banyak kakak osis namun tidak ada seorang pun yang mendekatinya memberitahukan kelasnya. Akhirnya dia berjalan sendiri mencari di mana kelasnya.

"Gila, anak barunya cowoknya ganteng-ganteng. Aku langsung naksir sama dia nih. Haduhh.."

"Biasa aja kali, dia nggak seganteng pacar kamu."

"Jelaslah, pacarku kan udah yang paling ganteng di sekolah ini. Bagiku sih."

"Ya ampun kak, daripada mengagumi kegantenganku, mending bantuin aku cari kelasku dimana. Bingung nih, ah!" Tyan menggerutu dalam hatinya setelah ia mendengar gossipan kakak osis itu.

"Hai, Dek. Selamat datang di SMA Dharma Bakti. Adek kelas apa?" tiba-tiba saja ada seorang kakak kelas cewek yang menghampiri Tyan-Tyan tampan tepatnya-.

"Ng.. kelas 10 IPA 3. Kelasnya di mana ya, kak?" Tyan menjawab dilanjutkan dengan pertanyaan. Suaranya sangat berat, mirip seperti suara cowok tetapi lebih lembut.

"Oh 10 IPA 3. Di gedung bagian belakang, dek. Ayo, kakak anterin." Jawab kakak itu kemudian menarik tangan Tyan dengan lembut.

Tyan mengikuti langkah kakak osis cantik itu sampai ke bagian terdalam dari sekolahnya.

"Nah, ini kelas kamu. Agak jauh dari pintu gerbang emang." Ucap kakak iu setelah mereka berada di depan pintu masuk kelas 10 IPA 3.

"Oh, iya kak. Makasih ya, kak." Tyan menjawab dengan senyuman manisnya dan sepertinya kakak osis cantik itu klepek-klepek melihat senyuman Tyan itu. Buktinya, pipinya memerah dan dia tersenyum malu pada Tyan.

"Kenalin, nama kakak Reina." Kakak cantik itu menjulurkan tangannya seraya bersalaman perkenalan.

"Nama aku T.." ucapan Tyan terpotong saat walkie talkie yang dibawa Reina mengeluarkan suara.

"BBBRRRSSSKKK..... Re, kamu di mana? Ke aula sekarang!" Reina menurunkan uluran tangannya yang belum sempat Tyan jawab.

"Iya, meluncur ke sana. Tunggu sebentar." Wajah Reina seketika berubah kecewa.

"Dek, kamu masuk kelas aja dulu ya? Kakak ada kumpulan osis sebentar. Kita pasti ketemu lagi kok. Kakak permisi ya." Perkataan Reina sangat meyakinkan bahwa Tyan akan bertemu dengannya lagi.

Tyan hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Saat Reina sudah menghilang dari pandangan Tyan, Tyan memutuskan untuk masuk ke dalam kelasnya. Namun tiba-tiba saja..

BRUKKK!!!...

Ada salah satu calon teman sekelas Tyan yang memiliki gender laki-laki menabraknya hingga Tyan terjatuh "Aww!" rintihnya setelah pantatnya membentur lantai.

"Eh, maaf aku nggak liat." Ucap cowok itu meminta maaf kepada Tyan sambil menjulurkan tangannya untuk membantu Tyan berdiri. Uluran tangan itu dengan cepat digapai oleh Tyan, dan ia berhasil berdiri sambil mengusap pantatnya yang masih terasa sakit.

"Lain kali, liat-liat dong kalau jalan, pantatku sakit nih. Matamu dipake yang bener." Omel Tyan kepada cowok yang menabraknya tadi.

"Ya elah, kan aku nggak sengaja, lagian aku udah minta maaf, ditambah aku udah bantuin kamu berdiri lagi. Tapi kamu malah marahin aku. Cowok kok sensian banget." Sembur cowok itu yang mengira kalau Tyan adalah seorang cowok –karna kebetulan seragam SMP Tyan bermodel celana, potongan rambutnya juga sama seperti model rambut Shawn Mendes (penyanyi Kanada yang lagi tenar itu)-

"Yang sensian itu kamu. Udah ah, minggir aku mau masuk. PERMISIII." Tyan menekankan kata 'permisi' nya agar cowok itu menyingkir dari pintu.

Cowok itu hanya bisa menggeleng-geleng melihat kelakuan Tyan kemudian ia berbalik dan melangkah masuk.

"Sumpah, itu cowok ganteng tapi nyebelin banget deh. Hari pertamaku jangan sampe hancur gara-gara pagi-pagi aku udah ketemu sama tu cowok rese." Gumam Tyan dalam hati setelah dia memasuki ruang kelasnya.

"Cowok dari SMP mana tuh?"

"Cakep badaii!!!"

"Emak bapaknya siapa? Anaknya bisa cakep gitu!"

"Titisan dari mana tu cowok. Nggak nguatin banget cakepnya."

"Iiiiii... kece dehhhh!!!"

Baru 1 detik Tyan masuk dan duduk di kursinya, cewek-cewek di sekitarnya sudah bergossip ria menilai dirinya yang tampan itu. Tyan memilih duduk sendirian, karna jika dia duduk dengan cewek, dia tidak akan pernah ingin tahu apa yang terjadi dengan cewek itu. Jadi ia memilih duduk SENDIRI.

"Kamu duduk sendirian? Aku duduk sama kamu ya?" ucap seorang cowok yang tadi menabrak Tyan dan langsung melempar tasnya ke kursi yang ada di sebelah Tyan dan duduk di kursi itu.

"Kenapa duduk di sini? Kursi kosong kan masih banyak." Jawab Tyan dengan suara berat seperti cowok sambil menunjuk ke arah kursi-kursi yang masih kosong. "Lagian kan harusnya kamu duduk sama cowok."

"Lah? Emang kenapa? Kamu juga cowok. So, ya nggak masalah dong." Cowok itu menjawab santai sambil terkekeh kecil.

Tyan lupa bahwa dirinya di sini seperti laki-laki. Jadi, ya sudahlah, biarkan dia duduk di sebelahnya.


TBC..

YUHU INI PART BARU SETELAH DIREVISI TAPI ISI CERITA MASIH SAMA. NINIS CUMAN GANTI BAHASA JADI BAHASA YANG LEBIH MENUJU KE ARAH BAHASA SEHARI-HARI.

VOTE AND COMMENT DITUNGGU YA :)

FRIENEMY [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang