The First Day

40 7 0
                                        

" Aduh " terdengar suara perempuan yang sedang meringis kesakitan karena terdorong oleh seseorang yang menabraknya. Kelihatannya hanya rok panjangnya saja yang mulai agak kasar karena terkena tanah yang disertai bebatuan kecil yang mengenai lutut perempuan itu. tak hanya dengkul saja yang agak terasa sakit, telapak tangan yang menahan tubuhnya pun berdarah akibat terkena tanah.

" maaf gak sengaja" ketus seorang pria yang menabrak perempuan itu. kelihatannya dia adalah siswa di sekolah ini dan merupakan anggota osis. sebab terlihat dari jas almamater yang digunakannya, berwarna biru dongker serta logo osis yang menghiasi jas itu. laki-laki itu langsung berlari dan tak menghiraukan perempuan yang ditabraknya.

" hmm" suara halus serta hembusan melepas napas yang cukup melegakan sepertinya. dia hanya bisa menatap punggung laki laki yang menabraknya tanpa melihat wajahnya. ya maklumlah hal seperti itu terjadi karena saat ini Nahda tengah mengikuti MOS disekolah barunya yang bernama SMA Puja Bangsa.

Dia baru 2 hari tinggal di Jakarta dan langsung mengikuti MOS di sekolah barunya. nahda tidak terlalu senang mengikuti kegiatan MOS karena harus mengenakan pakaian yang aneh-aneh seperti memakai topi yang terbuat dari bola plastik dan dibelah dua lalu diberi tali plastik agar tidak mudah terlepas. memakai kalung yang terbuat dari tali rapia yang tergantung permen, mengenakan name tag yang terdiri dari 4 huruf sehingga Nahda menuliskan namanya dengan Nada, serta menggunakan tas plastik untuk setiap harinya.

bisa dibilang ini pertama kalinya Nahda mengikuti MOS sebab semasa SMP dia sekolah di Pesantren dan di Pesantren tidak ada yang namanya MOS. Nahda yang mengenakan jilbab berwarna putih yang cukup besar serta mengenakan pakaian putih biru hanya dapat memanyunkan mulutnya kedepan. dan dilihatlah telapak tangannya yang mulai terasa perih dan langsung meniup-niup telapak tangannya.

" Lo abis jatoh ya... sini gue bantuin " terdengar suara laki-laki yang sangat asing bagi Nahda. Bola mata Nahda pun langsung tertuju kepada suara itu. dan ia pun merasa bingung harus berbuat apa dan bagaimana harus menjawabnya, sebab ada uluran tangan yang sedang berayun didepan wajahnya.

" makasih... " nahda berdiri dengan mengangkat badannya tanpa memperdulikan tangan laki-laki yang berayun didepan wajahnya. Laki laki itu menatap bola mata Nahda yang begitu bening sangat lama. Nahda pun langsung menundukkan kepalanya. dan laki laki itu pun tersadar dari lamunannya dan langsung mengepal tangannya karena ternyata bantuannya dihiraukan.

ternyata laki laki itu mengenakan atribut yang sama dengan Nahda yaitu memakai topi bola serta kalung permen dan tak lupa mengenakan nametag yang bertuliskan nama panggilan yang hanya terdiri dari 4 huruf yang tertra dengan nama RIVA. kemudian Rival pun menaikkan setiap sudut bibirnya dan melihat ke arah Nahda lagi " kenalin nama gue Rival nama Lo " Nahda pun menjawab masih dengan wajah yang tertunduk

" namaku Nahda makasih atas bantuannya" dengan nada yang begitu lembut. kemudian Rival pun melirik ke tangan Nahda yang sedang terluka
" tangan kamu luka tuh.. ayo ke  UKS " Nahda yang mendengar itu merasa kaget dan berkata dalam hati " hah... kenapa dia ngerubah cara ngomongnya.." sambil tersenyum dan menaikkan wajahnya Nahda mengatakan " oh nggak kenapa kenapa kok ini cuma luka kecil aja, lagian luka sekecil ini aja masa harus dibawa ke UKS " kemudian Rival pun menjawab dengan nada khawatir

" tapi bisa aja tangan lo eh maksud gue mmm aduh maaf maksudnya entar tangan kamu infeksi" Nahda pun tersenyum manis setelah melihat tingkah Rival yang menurutnya lucu dan langsung menjawab " kamu enggak usah ngomong kaya aku juga aku bisa paham ko.. kalo gak nyaman enggak usah di paksain " dan tersenyum kembali. melihat Nahda tersenyum Rival pun tersenyum dan menggaruk garuk kepalanya serta matanya agak tertutup sedikit. Rival dan Nahda pun tertawa bersama. Rival pun mulai untuk berbicara.

" Lo kelompok berapa? " pertanyaan itu pun masuk kedalam telinga Nahda dan Nahda pun mulai tertawa lagi.

" looh emang ada yang lucu ya..? " tanya Rival heran...

" enggak ada sih cuma cara ngomong kamu beda lagi... jadi lucu aja..." jawab Nahda dengan senyumnya yang begitu manis.

" ooh itu Rival kira Nahda ketawa kenapa " jawab Rival dengan cara bicara yang berbeda. Sontak Nahda pun kembali tersenyum.

" kalo aku di Kelompok delapan, kalo kamu " ucap Nahda dengan suara lembut miliknya.

" kelompok empat.. oh ya kamu dari sekolah mana? " usaha Rival untuk memperpanjang percakapannya dengan Nahda.

" aku dari pesantren Al Hidayah, kalau sekolahnya di MTs 1 Cilegon " jawab Nahda untuk menghilangkan rasa keingintahuan Rival

" jauh amat... emang di Banten gak ada SMA apa? " kaget sembari membuka mulutnya lebar lebar yang membuat Nahda kembali tertawa.

" biasa aja.. responnya nggak usah kaya gitu juga kali, aku baru pindah ke Jakarta 2 hari lalu. dan aku langsung sekolah ke sini" pemaparan Nahda kepada Rival yang terlihat begitu penasaran.

" entar dulu kamu baru dateng dua hari yang lalu, trus kamu tahu peralatan MOS dari mana? soalnya peralatan inikan di kasih tahunya 2 minggu yang lalu waktu aku dateng ke sini buat daftar ulang dan pendaftarannya juga udah berakhir 2 minggu yang lalu. trus siapa yang ngedaftarin kamu? kamu pindah ke Jakarta alesannya apa?" begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Rival hingga bel sekolah pun berbunyi menandakan kegiatan MOS berlanjut.

" Maaf ya kayaknya kita ngobrolnya cuma sampai sini Assalamu'alaikum " suara Nahda yang begitu lembut membuat Rival bengong.

" wa..alaikum... salam." Jawab Rival terbata bata.

TIMESWhere stories live. Discover now