Angin menelisik bergesekan dengan pucuk pucuk cemara, rasa sesak kembali muncul, Lolita menghela nafas panjang, "Arya, kamu lihat aku kan sekarang ?" bisiknya nanar sembari memandang bintang yang paling terang, "Canopus namanya," kata Arya waktu itu.
***
"Ta kalau nanti aku nggak bisa nemenin kamu ke bukit ini lagi, kamu jangan sedih apalagi nangis", kata Arya suatu saat
" Kamu ngomong apa Ya? Kamu bakal nemenin aku terus, nggak usah ngomong aneh aneh oke ? " sahut Lolita pilu,
Bagaimana tidak sosok Arya yang selama ini nampak kuat,ceria,dan selalu semangat ternyata harus dihadapkan pada kenyataan bahwa jantung -nya tidak senormal Lolita, Mama, ataupun Papa -nya.
"Waktu aku nggak lama Ta. Lihat deh Ta, itu Canopus bintang paling terang, aku pengen jadi bintang itu jadi bisa ngawasi kamu, Mama, Papa." ucap Arya antusias
Lolita tersenyum lirih hatinya perih, bagaimana bisa orang seaktif Arya harus memiliki jantung yang sangat lemah, jika boleh memilih ia ingin menjadi jantung Arya, lelaki yang begitu ia sayangi itu.
***
Siang itu sepulang sekolah Lolita nampak kusut, Arya hari ini alfa, berkali kali ia menelfon laki laki itu namun hanya operator yang menyahut. Marah, khawatir bercampur jadi satu Arya itu benar keras kepala, berkali kali Lolita menegurnya karna jarang mengakifkan ponsel -nya. Lalu tadi ia menelfon Tante Ami , Mama- nya Arya tapi, katanya Arya berangkat sekolah seperti biasa, jadilah dua perempuan berbeda usia itu panik.
"Ah, iya Bukit Bintang " pekik lolita, tanpa mengganti baju seragamnya ia berlali menuju bukit yang biasa ia kunjungi bersama Arya.
Tiga puluh menit baru lah Lolita sampai di sana, nafasnya tersengal, namun ia lagi lagi kecewa, Arya tidak ada disana, pikiran Lolita begitu berkecamuk, bagaimana kalau Arya kenapa kenapa ? bagaimana kalu jantungnya kambuh ?
" Aku tunggu disini sebentar deh,siapa tau nanti Arya kesini." guman Lolita.
Sepuluh menit, lima belas menit, bahkan sampai satu jam tidak ada tanda kalau Arya bakal datang, dengan langkah gontai Lolita berjalan pulang.
Pukul 16.45 barulah ia sampai di depan rumah, Lolita baru saja hendak membuka gerbang namun terhenti saat terdengar suara lirih memanggilnya,
"Lolita."
Lolita meneloh, betapa terkejunya ia melihat Arya yang begitu pucat,
"Arya, kamu kemana aja aku khawatir." pekik lolita
Arya tersenyum, "Aku kangen kamu Ta," ucap Arya tiba-tiba menubruk tubuh Lolita. Menelusupkan kepala nya di leher gadis itu, menghirup aroma shampo bercampur keringat milik sahabat selama hidupnya, sebanyak yang ia mampu.
Lolita tertegun jantungnya marathon, Arya memeluknya ?
"Ar.. Arya kamu kenapa ? " tanya Lolita ragu.
" Aku sayang sama kamu lolita, aku kangen seharian nggak ketemu kamu. " sahut Arya parau
Lolita gugup, rasa yang selama ini ia pendam terbalaskan. Lolita mengeratkan pelukannya.
"Aku lebih sayang sama kamu Ya, aku lebih kangen sama kamu, aku khawatir sama kamu Arya, kamu tadi ngilang, aku telfon hp kamu nggak aktif, Mama kamu bilang kamu berangkat kaya biasa, tapi kamu nggak dateng, aku cari kamu ke bukit kamu juga nggak ada." ujar Lolita tersedu.
Arya melepas pelukannya, menatap mata Lolita dalam ibu jarinya mengusap air mata Lolita, lalu tersenyum.
"Thanks Ta, udah sayang sama aku, udah perhatian sama aku, udah khawatir sama aku." ucap Arya lirih dan tulus. Arya semakin pucat, tapi ia masih saja tersenyum.
Arya mendekatkan jarak diantara ia dan Lolita, sepersekian detik bibirnya telah mengecup bibir Lolita, hanya sebentar karna setelah itu Lolita begitu panik, Arya ambruk sambil mencengkram dadanya kuat kuat. Setelah itu rasanya begitu cepat. Lolita sampai tidak sadar sekarang Arya berada di dalam sana. ***
Satu jam tiga puluh lima menit kemudian Lolita masih termangu di depan ruangan Unit Gawat Darurat, seorang dokter keluar dengan raut wajah yang tidak tebaca, Lolita paham.
" Pukul 18.30 ,kami sudah berusaha semampu kami,tetapi Tuhan lebih menyayanginya, " ucap dokter Iwan iba.
Lolita terisak kencang, baru kali ini ia dicintai begitu dalam, bahkan sampai mati oleh seorang laki-laki, Arya.
Mama dan Papa Arya yang baru saja tiba shock, anak tunggal mereka pergi. Ami menangis tidak kuasa menahan kesedihannya, anak yang begitu ia rawat telah pergi, anak yang begitu ia banggakan telah beristirahat. Sedangkan Bayu -Papa Arya ia nampak terpukul sekali, anaknya yang selalu ia lindungi sudah menyerah, anaknya yang selalu ia ceritakan kepada bawahannya serta rekannya telah pulang kerumah sang Kuasa.
Lolita masuk kedalam ruangan itu, terlihat sosok yang telah ditutupi kain putih, hatinya begitu perih, dengan kasar ia menghapus air matanya mendekati jasad Arya,membuka kain yang menutupi wajah damai kekasih hatinya, ia usap pelan wajah dingin Arya, ia kecup seluruh bagian wajah Arya,keningnya kedua matanya, pipinya, hidungnya, lalu berakhir di bibir Arya.
" I love you Arya, you're my best friend ever, istirahat yang tenang ya Arya, inget Lolita bakal selalu sayang Arya," Lolita kembali terisak pelan.
***
Disini Lolita sekarang Bukit Bintang, kemarin setelah pemakaman Arya Lolita seperti mayat hidup, tak mau makan . Ayah Bundanya sampai bingung. Dan tadi saat rumah sepi barulah Ia kesini.
Duduk di atas tanah yang biasa ia duduki bersama Arya, Lolita mendongak menatap bintang, lalu menemukan bintang yang paling terang, "Itu kamu kan Arya, kamu udah bahagia ya sekarang? Aku belum bisa bahagia Ya, tapi aku nggak bakal sedih lama-lama kok Arya, " ucap Lolita tersenyum namun cairan bening itu masih lolos dari matanya. Lalu ia mengusap air matanya ia bangkit dari sana, Lolita sadar semua pasti akan mati begitupun Arya, dirinya juga pasti akan mati, Lolita hanya perlu belajar mengikhlaskan Arya. Lolita juga berjanji akan berkunjung ke mari untuk melihat Arya lewat bintang yang paling terang itu, Canopus.
End
Maaf masih amatiran 😀 kata-katanya emang rancu, tata bahasanya nggak sesuai EYD tapi ini karya sendiri, kalau ada yang sama atau mirip mohon maaf😊
Cerita pertama saya, menerima kritik dan saran kok 😀
YOU ARE READING
Canopus
Short StoryDitinggal pergi orang terdekat? Sahabat, Soulmate ? Hancur . Begitupun Lolita.
