Pov. Rindu
"Udah gue bilang, kita udah selesai.. jangan kejar gue lagi"
"Itu lo kan yang bilang? Sebelum gue bilang selesai ya berarti belum selesai. Karena apa? Dulu gue yang bilang start!"
"Terserah, lo egois, lo jahat! Jangan pernah muncul lagi di depan muka gue? Gue benci sama lo!"
Gadis itu pun berlalu, dan di ikuti oleh kekasihnya yang tetap menjalankan motornya dengan pelan.
Ya cinta, tidak lebih egois dari seorang lelaki. Walau kenyataannya cinta itu egois.
Pagi yang cerah, sudah di suguhi dengan drama sinetron dua remaja SMA.
Ah berasa nonton ftv pagi. Aku terkekeh lirih.
Gue Rindu, hari ini gue sudah menjajakan kaki di kelas 11 semester akhir. Dengan menggunakan seragam putih abu abuku masih terpekur hampir frustasi menunggu mellody yang belum juga menampakan batang hidungnya.
07.00 belum juga berangkat, terlambat sudah, setiap hari.. mungkin ini sudah dinamakan rutinitas.
"Otw du" kubaca lagi bbm dari mellody 15 menit yang lalu.
Otw. Kata menyebalkan yang setiap hari jadi sarapan pagiku. Bagaimana tidak? Setiap hari aku di jejali oleh pesan ini dari mellody.
Otw yang menurutku sudah dijalan berarti diartikan masih dandan oleh mellody. Setiap pagi juga aku selalu ngedumel ga jelas soal ketidak displinannya, tapi apalah dayaku.. omonganku selalu ia tanggapi dengan cengiran kudanya.
Suara motor mattic mellody terdengar dari tikungan komplek, ya karena jarak rumahku dan tikungan tidak terlalu jauh. Sampai aku hafal suara motornya pula. Memang kental sudah ikatan batin di antara kami. Bagaimana tidak? Sejak balita kami bersahabat, bisa? Ya karena Ibu kami juga bersahabat. Sahabat turunan bisa di bilang.
Terlihat cengiran kudanya di depan gerbang rumahku.
Dengan kerudung putih dan seragam putih abu abunya, mellody menggugah kedongkolanku lagi. Setiap pagi.
Aku menghembuskan nafasku sebal, menggendong tasku dan menghampirinya.
"07.00 du, ontime kan?" Ucapnya dengan melirik arlojinya.
"Tetap aja di, kita telat lagi" aku mendengus kesal
"Iyaaa, sorry du" ucapnya dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan muka.
"Sorry sorry tiap hari, ga disiplin banget sih di. Tau dah ah capek gue ngomong terus tiap pagi ga pernah di dengerin" aku masih ngedumel sambil menaiki boncengan motor mellody.
"Okeeee" respon mellody dengan kekehan lirihnya.
"Yaudah yuk berangkat" sambungnya lagi
"Tau ah" kulihat dia terkekeh lagi melihat muka sebalku dari spion motornya. Kulipat kedua tanganku di depan dada mataku melotot dan alisku bertemu menanggapi tingkahnya.
"Jalan di" ucapku ketus.
"Iya neng"
Lalu ia menghidupkan stater motornya, lalu berlalu menjajaki jalanan menuju ke sekolah kami tercinta.
Beginilah setiap hari. Setiap pagi, sepanjang perjalanan kesekolah, selalu di isi oleh perdebatan kecil kami. Aku ngedumel lalu di balas dengan kekehannya. Tak sekalipun dia membalas ocehanku. Beginilah memang mungkin sudah ditakdirkan kami untuk saling melengkapi.
Mellody Rianty Hasyim.
Seorang gadis cantik jelita, dengan body langsing dan kulit putihnya. Tidak terlalu tinggi namun juga tidak terlalu pendek.
Suaranya yang halus selalu meluluhkan emosiku setiap hari, ga pernah disiplin dalam melakukan apapun, kecuali dalam shalatnya.
Perfectsionis, veminim dan cerdas.
Makannya banyak banget, tapi ga pernah gemuk. Beruntunglah dia.
Anak sulung dari Bapak Hasyim rojali dan Ibu Inayah hasyim rojali.
Dialah mellody Rianty Hasyim. Bukan hanya sahabat ku dari bayi, tapi dia karibku lebih dari itu, kakak ku lebih dari itu, kadang juga jadi ibu dan adik ku lebih dari itu.
Dia sahabat ku, yang tak pernah sempurna bila tanpa kekuranganku.
DI ! Aku memanggilnya Di, panggilan sayangku dari kecil, karena dia juga memanggil ku Du !
YOU ARE READING
Mellody Rindu Zakaria
Teen Fiction"Rindu, seperti duri dalam setangkai mawar. jika terlalu lama di genggam akan perih di rasa. Sesak jika terus dirasa. Sampai kapan rindu ini akan berujung jika mulut tak berucap. Oh inikah? Dia yang Maha membolak balikan hati" M Zakariya Hardiyansy...
