Laki laki itu terus memandang ke arah perempuan yang duduk tak jauh darinya. Tatapannya tak terbaca seolah semua rasa bersatu dalam sorot matanya.
Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu, segalanya begitu membingungkan. Setengah jam berlalu wanita itu pun bergegas pergi dari tempat duduknya akan tetapi tatapan laki laki itu tak pernah beralih barang sedetikpun.
Seina wanita yang sejak tadi diperhatikannya menoleh kearahnya. Tatapan mereka beradu dalam keheningan. Iris mata hitam perempuan itu menyiratkan kerisihan, dan dahinya pun sedikit berkerut. Namun tatapan si lelaki tetap tertuju kepadanya, seolah tak ada seorang pun yang dapat mengalihkan.
Perlahan lelaki itu bangkit mengikuti kemana arah si perempuan berjalan. Keduanya berjalan dalam keheningan dengan pikirannya masing masing.
"Seina."
Perempuan itu berhenti, tubuhnya sedikit menegang. Laki laki itu mempercepat langkahnya. Berdiri di hadapan wanita yang seolah olah telah berubah menjadi patung.
"Seina please jangan menghindar kita butuh bicara."
Seina tetap diam tak ingin mengeluarkan sepatah kata pun.
"Please katakan sesuatu Seina." mulutnya tetap bungkam, namun tatapannya masih tertuju pada laki laki itu.
Seina menunggu. Menunggu apa yang akan laki laki itu katakan. Menunggu penjelasan, apa yang sebenarnya dulu terjadi di antara mereka.
Seina ingin menangis namun terasa percuma saja. Keduanya saling diam. Dan Seina lelah dengan kebisuan ini.
"Aku ingin pulang." hanya itu yang keluar dari mulut Seina.
Seina pergi meninggalkan laki laki itu sendirian. Seperti dulu saat laki laki itu meninggalkan Seina dalam ketidak pastian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pemeran Pengganti
Teen Fiction"Ketika aku hanya menjadi penggantinya" -Arkana Diaulhaq
