Prolog

283 10 0
                                        

Selamat berdosa ria, kawan.


--------



      "Rio! " Seorang gadis dengan wajah polos menghampiri pemuda bernama Rio tersebut. Sang pemilik nama hanya ngangkat alisnya heran.
"Napa, Na? " gadis bernama Neina itu berlari ngebut kearah Rio.
"Gue.. Gue..  Mau ngomong! " kata Neina.  Rio yang merasa dirinya dalam bahaya pun langsung mundur.
"Sori aja nih, Na.  Gue buru-buru. " Rio yang orangnya gak suka repot dan malas mulai kabur. 
"RIO! PLEASE LAH!" merasa dikejar, Rio mulai mempercepat larinya. 
  Aksi kejar-kejaran itu berlangsung lama,  hingga bel memisahkan mereka. Tapi Rio tau, penderitaannya akan berlangsung lagi saat istirahat ke-dua. 

"Neina cewek sinting,  tampang polos jiwa beringas." kesal Rio yang mulai masuk ke kelasnya.  Beruntung,  ia dan Neina tak satu kelas. 
Saat pelajaran pun Rio tak tenang, ia kadang memikirkan apa yang mau Neina, yang notabene temannya dari saat masih janin itu bicarakan ke dia. Mau nyatain perasaan? Gamungkin. Nyuruh dia jagain kucing lagi? kayaknya enggak. Nguruh bayar hutang?  Kayaknya iya deh... 

PLAK!  tiba-tiba ada kapur sukses mengenai dahi tak bersalah Rio. Tak lain dan tak bukan, itu adalah Bu Bekti. Salah satu guru doyan bercanda. Iya,  bercanda. Pake kekuatan lagi. 
"Rio, ngapain bengong?  Bacain rangkuman bab 4!" titah Bu Bekti dengan nada ngebanyol ke dia. 
Murid lain bersorak mengejek untuk Rio. Sedangkan Rio hanya berkata 'te-he'
"Ngapa yo? Mikirin bakal ada yang nagih utang? " celetuk salah satu sohib Rio yang duduknya agak jauhan dari dia. Abriel. 
"Anjay! Tau aja! " seketika seisi kelas tertawa dan tak lupa Bu Bekti ikut. 


Tapi sayang. Istirahat kedua sudah terbit! 
Dengan sigap, Rio kabur ke kantin dan berbaur ke kerumunan bocah lain yang kelaparan. 

"Tch!" Beberapa kali kaki Rio terinjak. Dan saat sudah kesal, dia memutuskan untuk muter balik, namun sayang. Ia ditabrak manusia yang tidak dikenal dan sukses membuatnya kesal untuk kesekian kalinya.
Akhirnya ia menyerah dan berbalik, sialnya lagi...  Ia terdorong dan tak sengaja menabrak siswa lain. 

"Eh?!" Siswa itu terpojok dengan Rio di depannya. Bisa kita bilang 'kabe-don'
Sementara pikiran Rio yang kacau, siswa yang jadi korban Rio itu pun cuma mandang dengan watadosnya. Rio jadi salting dan akhirnya mengakhiri aksi 'kabe-don' tersebut.
"Sori! Gue teraktir lu batagor seporsi deh!"
"Eh..  Engga usah..  Cuma kaget doang kok. Tapi boleh juga! " suara dan gerak-gerik cowok itu membuat Rio kaget dan terpesona. Sepertinya tak ada lagi cowo suci dan imut sepertinya di dunia ini.

"... Er...  yuk. " mereka jalan barengan ke warung batagor. 
"Bang! Satu!" ucap Rio.
"Kok satu? lu engga? " tanya cowo tampang polos itu.
"Udah. Selow... " Rio rada-rada khawatir..  Dikira dia mau bilang 'kok satu? Mana cukup?' dan dompetnya bisa-bisa asma mendadak.
  
    Setelah menikmati seporsi batagor gratisan, cowok tak dikenal itu mulai nanya ke Rio. 

"Lu ngapain? kok bisa nabrak?"
"Lagi kabur dari nenek gombel----- ANJIR DIA KESINI!" Rio menemukan Neina sedang lari-lari jijay nyemperin dia. 
"SO-SORI! UDAH GUE BAYAR KOK.  D-DADAH!" seketika itu juga terdengar suara "RIO! AKU KAN BELUM SELESAI NGOMONG!"
Aksi kejar-kejaran yang sempat tertunda tadi mulai start lagi.  Sementara cowok tak dikenal itu cuma nyipitin matanya yang coklat sambil bilang "aneh."


*-*-*-*-*-*
.
.
.



  "IYA, IYA! GUE NYERAH! APAAN SIH?!" Rio nyerah mutlak karena tertangkap, gak mau di smack down, Rio lebih memilih untuk nurut. Kekuatan wanita memang luar biasa... 
"Gitu kek..." Neina menyeringai penuh maksud. "noh baca." ia menyerahkan tumpukan kertas hvs kepada Rio.
"... Asal bukan pelajaran gue baca."
"Iya, elah. "
Setelah dibaca, Rio tak tau harus merespon apa. 
"Tunggu,  ini kan naskah drama?" tanya Rio memastikan.
"Yap!"
".. Te..  Terus?" Rio was-was.
"Gue pengen lo jadi pemeran Romeo!"
"HAH?! OGAH." Rio nolak mentah-mentah membuat pergelangan tangannya serasa mau patah karena digenggam Neina keras.
"... Bentar lagi kan sekolah kita mau ngadain pensi nih. Anak Theater pada mau buat drama Romeo Juliet.  Kebetulan tema pensi sekarang kan 'kasih'.  Nah, gue minta tolong lu jadi Romeo soalnya gada yang cocok cowonya." Jelas Neina panjang lebar, Rio cuma mengaduhkan tangannya yang sakit.
"Ish capek tau. Pulang sekolah gue mau molor aja sambil main game!" Tepis Rio.
"Riooo!!"


Setelah melalui perdebatan tak jelas, mereka berdua akhirnya pasrah dengan keadaan. Neina yang pasrah dengan nasib ekskulnya,  dan Rio yang pasrah di teman-tirikan oleh Neina karena tak mau menyanggupi permintaan nya.
"Yaudah deh, pasrah gue. Ntar jangan lupa jemput gue ke ruang anak theater." suruh Neina. 
"Hm." balas Rio

.
.
.
.
.
.
.

Setelah pulang sekolah, Rio melewati kantin untuk beli minum di koperasi. Melihat ke warung abang batagor, jadi inget pas ketemu murid yang dia tabrak. Sadar ga sadar,  pipi Rio merah.

"Ga sempet nanya namanya. Ah, sial lu Na."

Jalan dengan gontai ke arah ruang theater, Rio nyeruput minumnya nafsu. 
"NEINA,  MAEN YOK." Teriak Rio ke ruang Theater--lebih bisa disebut sebagai ruang ekskul sih.
"Rio!!" anak theater ngerubutin Rio, iya. Rio emang terkenal dan asik. Dia juga sering mampir ke ekskul sini buat jemput si Neina. Bahkan, saking seringnya,  di kolom kegiatan siswa,  ekskul yang terisi adalah Theater. Padahal ia sama sekali tak mengikuti ekskul tersebut. Bahkan nilainya A+.

"Cepet amat yo?" tanya Neina
"Yelah, gue kesini kan jalan bukan ngesot." mereka cuma ketawa. 
"Yo, lu ngapa gak jadi Romeo sih?"
"Iya nih, cocok lah cocok. Gue akui lu ganteng."
"Lu gapunya malu ini, yo." pertanyaan dengan isi yang sama mulai terlontar,  tak tahu harus bilang apa dia hanya tersenyum. "Gua gak niat. Ntar aneh gimana." Ucap Rio. 
Mereka semua hanya mengejek Rio. 

Setelah mau pulang, Rio mulai bertanya pada Neina. 

"Siapa yang jadi Julietnya, sih?"

Rio adalah siswa biasa dan normal. Cukup Tampan. Hobi sekali bermain game, godain cewe, gombal, dan menyebar ajaran mangerisasi.

"Diaz."

Tapi dia baik hati dan berprinsip teguh.  Selain itu,  dia juga pintar dalam segala bidang.  Walau bicara tak bisa, selalu selesai dengan baik. 

"Hoo, cantik?"

"Banget, unyu pula."


Tapi ada kekurangan dalam dirinya.
Terlalu blak-blakan, gampang jatuh hati, dan...


"Tuh, orangnya. Yang unyu dan polos. Cowok."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

"..... Na, gue mau jadi Romeo."

------- susah ditebak.



*-*-*-*-******


~Saya tunggu voment nya~


-ⓒYnN

PROJECT. ROMEOXROMEO(BxB)Geschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt