[Normal POV]
Semua anak mempunyai mimpi, tapi terkadang butuh perjuangan yang sangat keras untuk menggapai mimpi tersebut.
Bukan karna mimpi mereka yang terlalu banyak, hanya saja jalan menuju mimpi pasti tidaklah lurus.
Mereka adalah anak-anak di pedalaman yang mempunyai mimpi besar. Mimpi yang tak kalah hebatnya dengan anak di Ibukota.
Dibawah terik matahari, mereka berlari. Tawa mereka seperti surganya kebahagiaan.
"Aku mau jadi presiden!" ucap salah seorang anak.
"Apa bisa? Kita saja untuk sekolah susah."
"Aku yakin, aku bisa!"
"Kalau aku ingin menjadi dokter!"
Itu lah yang mereka selalu ucapkan. Itu lah cita-cita mereka.
Walau mereka hanyalah anak-anak, tapi impian mereka sungguhlah besar. Dan usaha mereka untuk menggapai mimpi itu sangatlah kuat.
Meski keadaan mereka sangat memprihatinkan, mereka tidak pernah putus asa. Mereka yakin, suatu saat mereka akan menjadi orang yang berguna untuk bangsa dan Negara.
Mereka tinggal di sebuah pedalaman yang masih kurang perhatian dari Pemerintah. Jangankan untuk bersekolah, untuk makan saja mereka harus mencari sesuatu di hutan.
Mereka hanya tinggal di sebuah gubuk yang sudah reyot, dan memakai pakaian yang sudah lusuh.
Hari ini, anak-anak sudah berkumpul di padang rumput.
Bukan untuk bermain, melainkan untuk belajar.
Di desa mereka, tidak ada sekolah bertingkat yang memiliki kelas banyak dan dilengkapi meja dan kursi.
Yang mereka bisa gunakan adalah padang rumput tempat para ternak berkumpul. itulah sekolah mereka. Walau panas sudah mulai datang, mereka tetap semangat. Menjalani proses untuk menjemput impian mereka.
Beberapa hari lalu, ada seorang guru sukarelawan yang datang untuk mengajar.
Mendengar itu anak-anak sangat bahagia dan bersemangat. Walau mereka hanya belajar di padang rumput, dibawah terik matahari dan dengan fasilitas seadanya.
Mereka tetap bersemangat. Sungguh anak yang luar biasa.
Mereka yakin, walau dengan fasilitas terbatas mereka akan bisa mewujudkan mimpi mereka.
"Wah ternyata anak-anak sudah berkumpul ya," ucap seseorang yang baru saja datang. Itu adalah guru sukarelawan.
"Ayok pak kita belajar!"
Mendengar semangat anak-anak yang luar biasa, Pak guru pun dengan senang hati mulai memberikan pelajaran. Pak guru itu memang baik. Rela mengajar walau tak dibayar. Ia sadar, bahwa semua anak itu mempunyai hak mendapatkan pendidikan untuk masa depan mereka.
"Anak-anak di kota itu enak ya? Bisa bersekolah di gedung bertingkat. Kita saja cuma dipadang rumput," ucap salah seorang anak.
"Kita tidak boleh mengeluh, nak. Buktikan pada mereka, walau kamu belajar dengan fasilitas terbatas, kamu juga bisa mewujudkan impian kamu!" tegur pak guru.
"Maafkan saya, pak guru."
Mereka pun belajar dengan sungguh-sungguh.
Meski sinar matahari sudah mulai membuat mereka kepanasan, mereka tidak berhenti belajar.
Selesai belajar, anak-anak itu pergi ke hutan. Untuk mencari kayu bakar dan juga bahan makanan.
Mereka makan dengan mengandalkan bahan makanan yang tersedia di hutan.
"Kapan kita makan enak ya?"
"Nanti. Kalau kita sudah jadi presiden."
"Sudah, jangan mengeluh!"
Mereka terus mencari, hingga malam menjelang mereka pun pulang kerumah.
Ibu dan ayah mereka sudah menunggu di dalam rumah. Mereka memberikan senyuman ketika anak mereka pulang.
Di dalam lubuk hati mereka,mereka ingin sekali anak mereka menjadi anak yang berguna untuk bangsa. Dan bisa merubah negeri ini menjadi lebih baik.
"Makan dulu nak!"
Mereka semua makan dengan lahapnya. Walau makanan mereka tidak seenak makanan di kota besar, mereka tidak pernah mengeluh.
Mereka selalu bercerita penuh kebahagiaan. Dan tak lupa memberikan perhatian untuk anak mereka.
Anak memang sudah seharusnya mendapat perhatian dan dididik dengan baik. Agar menjadi anak yang berguna.
Walau terkadang tangisan terdengar di malam yang gelap. Keringat yang bercucuran dari kening mereka pun adalah rasa lelah yang tak terucap.
Pernah di suatu ketika pak guru bertanya pada dirinya sendiri.
"Apakah kalian pernah bilang baik-baik saja, yang padahal kalian sudah berdiri di ambang kehancuran?"
Dan tanpa disadari, pertanyaan pak guru sudah selalu terjawab dari senyuman yang terukir di sudut bibir anak-anak itu.
Suatu ketika terdengar kabar bahwa di kota telah terjadi musibah. Anak-anak itu sedih dan ingin sekali membantu. Tapi apa yang mereka punya? Mereka sadar mereka tidak bisa memberikan bantuan apapun.
Sekarang saja mereka bisa menyaksikan musibah itu dari televisi yang ada dikantor kepala desa.
Hanya doa yang bisa mereka berikan.
"Ayo kita doakan teman-teman kita!" ucap salah anak.
Mereka semua pun berdoa agar para korban diberikan ketabahan.
"Kalau aku jadi Presiden, aku akan membuat negeri ini bebas dari musibah!" Ucapan anak itu sangat bersemangat. Semakin membuat para orang tua yakin, bahwa impian mereka bukanlah main-main.
Sungguh bangga orang tua mereka.
Orang tua mereka tersenyum. Dan tak terasa air mata jatuh dengan bebasnya, entah karna apa.
Padahal jika dilihat dari berbagai manca negara, kota mereka lah yang termasuk kota memprihatinkan.
Namun dengan semangat juang yang tinggi mereka tersenyum dan bersama-sama membangun desa kecil mereka agar bisa menjadi suatu desa yang layak di kunjungi.
Mereka selalu berjabat tangan dalam kondisi apapun. Bersatu mereka memperjuangkan hak.
Hak yang seharusnya memang mereka dapatkan dari pertama kali mereka melihat dunia.
Semoga negeri ini menjadi negeri yang indah. Dan semoga mereka adalah anak-anak penerus bangsa. Yang akan menganggakat drajat bangsa.
-mimpi masa depan-
******
Tugas kedua dari officialWGC dan disini aku berkolaborasi bareng @ALIENZ_SevenSins
Semoga bermanfaat :)
YOU ARE READING
Future Dreams [Cerpen]
Short StorySemua memang diawali dari mimpi. Mimpi yang besar dan keyakinan penuh untuk mewujudkannya. "Apa bisa? Untuk sekolah saja kita susah." "Aku yakin bisa!" -- Di cerita ini aku kolaborasi dengan @ALIENZ_SevenSins dengan POV yang berbeda. Cover by : @Var...
![Future Dreams [Cerpen]](https://img.wattpad.com/cover/90677505-64-k926740.jpg)