Prolog dari Hidupku

16 1 1
                                        


Ayah, apa kau membenciku?

Menengoklah, aku ada di belakang punggungmu...

Mengapa kau tidak mau melihatku Ayah?

Aku hanya dapat melihat belakang punggungmu dari kejauhan..

Apa yang harus aku lakukan agar membuatmu melihatku?

Ayah, apakah kau tidak mendengar panggilanku?

Aku berkali-kali memanggilmu..

Tidakkah kau ingin memelukku?

.

Pergi.

.

A-ayah?

.

Aku tak ingin melihatmu.

.

Mengapa ay—

.

Kau telah membunuhnya.

.

Siapa?

.

Dia mati karena kau.

.

Siapa yang telah kubunuh?

Siapa yang mati karenaku?

Mengapa.. aku tidak pernah melihat mama?
.
.
.

06 Juni 2026

"Morning, Talitha..." Hordeng jendela tersibak. Secercah cahaya berebut masuk untuk memberi kehangatan pada pagi hari di ruangan yang dingin itu.

"Hei, apa kau tidak mau melihat bagaimana aku sekarang?." Bagaimana dia sekarang? Pffttt... Kacau bak anak itik buruk rupa yang tersungkur di salju. Mana mungkin istrimu mau melihatmu, Pak...

Monitor masih menampakkan detak jantung normal. Apa yang kurang? Ia sudah membaik, tapi tak kunjung nampak bola mata yang kerap menatapnya dengan lembut. Ah, ya. Penampilannya kacau. Mungkin sedikit ciptaran air akan membuatnya lebih keren dan istrinya mau membuka matanya. Hm, pikiran yang konyol.

"Su-Sultan.."

"Talitha?!."

"A-ah.. bagaimana kabar proyekmu?." Senyum lebut membuat Sultan, yang kini berada tepat disamping ranjang terpaku.

"A-aku baik-baik saja." Talitha terkekeh.

"Aku menanyakan proyekmu, kalau kau lupa. Dari penampilanmu menunjukkan bahwa kau tidak baik-baik saja. Aku sudah mengetahuinya. Jadi aku bertanya proyekmu." A-Ahahaha... Sultan menggaruk belakang kepalanya. Kadang ia berpikir, kau itu istriku atau dosenku?!.

"Proyeknya sudah sempurna. Aku bertambah yakin jika suatu saat nanti bumi memiliki masalah dengan alamnya, manusia dapat menyesuaikannya sehingga tidk adanya kepunahan di muka bumi." Sultan menjelaskan dengan semangat.

"Tanamkan di diriku." Talitha menarik nafas panjang.

"Tanamkan benda itu di tubuhku, Sultan."

"A-Apa maksudmu? Meskipun telah sempurna, aku belum menguji coba alat itu!."

"Kalau begitu, jadikan aku yang mencobanya pertama kali."

"Talitha!"

"Sultan, kau tahu aku akan mati, bukan?. Aku pernah bersumpah bahwa aku akan menjadi istrimu hingga kau meninggal. Bukan hingga sepanjang umurku. Ini demi kebaikan kita bersama. Aku ingin terus ada disisimu hingga kau tiada. Karena kurasa umurku tidak lama lagi, aku sangat memohon padamu agar kau menjadikanku android..." Tangan kurus Talitha terulur menyentuh lengan Sulthan. Senyum hangatnya tak pernah pudar. Dan situasi dan kondisi apapun. Sultan menatapnya nanar. Ia tidak pernah menyangka bahwa isrtinya akan melakukan sesuatu yang tidak pernah sekalipun terlintas dipikirannya. Tentu saja, selama ini ia hanya memikirkan bahwa ia mencintai istrinya dan berusaha agar ayahnya mau menerima istrinya dengan kondisi fisik yang lemah. Penyakitnya telah menguasai sepertiga tubuhnya.

Heart Rate #0606Stories to obsess over. Discover now