Istanbul, 23 september 2015
"seharusnya aku tidak mengulangi kesalahanku dengan mempercayainya lagi"
"bodoh, dasar bodoh"
"aku tidak bisa tetap disini"
"aku harus kembali ke Indonesia." celotehku
Sambil terus berjalan dibawah ribuan bintang yang menghiasi langit hitam itu. Entah kemana kakiku membawaku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sungguh tidak ingin berada disini lagi.
Kulihat ada kursi putih didepanku, berjarak 5 meter dari tempatku berdiri. Aku memutuskan untuk beristirahat dan duduk di kursi itu.
Duduk di kursi ini membuatku teringat kembali akan dirinya. Ya, ramazan. Dua kali kamu menyakitiku dengan menghianatiku, tapi kenapa tidak ada yang berubah dengan perasaanku ini? Aku tetap mencintaimu. Batinku
Tiba-tiba kurasakan air mata melintasi kedua pipiku. Tidak hanya setetes, air mata itu mengalir derasnya, tak sanggup lagi terbendung sampai membuat nafasku sesak.
Tiba-tiba seorang pria datang dan duduk di sampingku. Dengan cepat aku langsung menghapus air mataku.
"mau air?" tanya pria asing itu sambil menyodorkan sebotol air meneral
"tidak terimakasih" jawabku seadanya
Masih sambil menghapus air mata di wajah dan leherku yang membuat mataku menjadi sembab.
"kamu mau tissue?" tawarnya lagi sambil menyodorkannya ke arahku
Aku mengambil 3 lembar tissue yang ditawarkannya itu dengan enggan.
"terimakasih"
"sama-sama"
Diam masih menyelimuti kami. Aku sungguh sedang tidak ingin berbicara pada siapapun. Aku ingin sendiri. Tapi bagaimana aku mengatakannya pada pria asing ini.
"apa yang terjadi? Mengapa kau menangis?"
"hmm, tidak apa-apa"
"ok, aku mengerti jika kamu tidak mau menceritakannya padaku. Oh iya kita belum kenalan. Kenalin, nama aku Danish. Nama kamu siapa?" sambil mengulurkan tangannya
"adel" jawabku seadanya tanpa merespon jabatan tangan pria asing itu.
Pria asing yang bernama Danish itu pun langsung menarik kembali jabatan tangannya.
"hmm ok. Nama yang bagus"
Mendengar itu aku hanya diam. Aku benar-benar ingin sendiri. Mengapa dia terus menggangguku.
"Di jam segini, kenapa kamu masih disini? Bahaya loh wanita secantik kamu malam-malam begini belum pulang"
Wtf. Aku merasa ketenanganku telah dikacaukan oleh pria ini. Aku pun memutuskan untuk pergi dan berjalan meninggalkannya.
"hei, adel. Kau mau kemana?" tanya nya sambil mengikuti langkahku
"aku mau pulang" jawabku
"baiklah, aku antar ya?" tanyanya lagi
"tidak usah, terimakasih" jawabku, sambil terus mempercepat langkahku.
Tak kudengar lagi suara pria asing itu. Mungkin dia sudah pergi. Syukurlah, akhirnya aku bisa bebas dari pria itu. Tiba-tiba...
"Tin.. Tin.." suara klakson mobil
Akupun menoleh ke arah sumber suara. Ternyata masih belum puas juga pria itu menggangguku. Aku pun terus mempercepat langkahku tanpa menghiraukannya.
"adel. Ayo aku antar. Bahaya kalau kamu pulang sendiri" ajaknya
"aku bilang aku bisa pulang sendiri" jawabku kesal
"Baiklah, aku akan terus mengikutimu sampai rumahmu. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian"
Aku sama sekali tidak menghiraukannya dan terus berjalan entah kemana kakiku membawaku.
Tiba-tiba..
"hei! Apa yang kau lakukan! Turunkan aku, aku mohon turunkan aku!" teriakku sambil terus berusaha turun dari gendongannya
"Sssttt.. Dasar wanita keras kepala. Apa susahnya duduk diam disini? Niatku baik, aku tidak ingin ada hal buruk terjadi padamu" jelasnya sambil meletakkanku dimobilnya
Aku hanya diam. Pasrah dengan segala yang terjadi. Aku bisa saja membuka pintu mobil ini dan langsung melarikan diri, tapi aku tidak melakukannya. Aku terlalu lemah untuk berlari, dan kuyakin usaha ku itu juga akan nihil, pria itu pasti akan melakukan hal yang sama lagi.
"sekarang katakan, kemana aku harus mengantarmu?" tanyanya
"central apartement" jawabku pasrah
"baiklah" seketika itu juga mobilnya melesat menuju tempat yang kesebutkan tadi
YOU ARE READING
Why Are You So Far?
Romance"setidaknya kita masih menatap langit yang sama dan menginjak bumi yang sama" Kalimat itu yang selalu terngiang di otakku. Ya, guna membuatku merasa dekat denganmu. Tidak perduli seberapa jauh jarak memisahkan kita. Tidak perduli apa yang dikatakan...
