Terkadang aku memiliki sebuah pemikiran seperti, apakah yang wanita idaman pikirkan jika mereka mampu mendapatkan semua pria tanpa harus berusaha? Hanya dengan sebuah kedipan mata gatal, manjur untuk membuat mereka semua merasa diinginkan. Sedangkan wanita lainnya, yang mana tidak terpedulikan keeksistensiannya karena dianggap tidak indah untuk dipandang, harus memendam banyak rasa yang sebenarnya sangat ingin untuk diutarakan kepada pria yang mereka kagumi.
Aku sendiri, sebenarnya tidak jelek namun juga tidak se-famous sahabatku di kalangan mahasiswa dan mahasiswi. Aku ingin keberadaanku di anggap oleh semua orang dan juga seseorang yang aku kagumi. Tetapi, sulit bagiku untuk menemukan sebutir emas di dalam palung.
Beginilah kehidupanku, menjadi sebuah bayangan. Hingga, keyakinanku berubah bahwa suatu hari akan ada waktunya dimana aku dapat dikenal oleh semua kalangan.
"Elen! Apa kau mendengarkanku?" Sampai-sampai aku lupa jika Aidan mengajakku berbicara daritadi.
"Apa? Aku lupa."
Aidan menghela nafas berat sambil memejamkan kedua matanya, mungkin dia lelah.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Katanya di iringi nada kesal.
"Aku ingin tahu apa rahasia Chloe hingga ia dapat menembus penonton sebanyak 5000." Tak habis-habisnya aku memikirkan seorang Chloe yang mana adalah teman dekatku dahulu kala saat masih duduk di sekolah menengah atas. Jangan ditanya, dia sangat populer di kalangan mahasiswa ini.
"Jangan terlalu di pikirkan, kau yang akan menjadi selanjutnya." Ia terkekeh pelan. Aidan sangat gemar meledekku, disaat aku sering kesal dan serius. Tapi, Aidan selalu ahli dalam membuatku tenang meski ia tidak menyandang sebuah status denganku sejak kecil. Hanya sebuah pertemanan erat sejak kecil, sekecil butiran debu.
"Whops! Dia sedang kemari."
Chole melangkah layaknya model kesana kemari untuk membagikan selembaran kartu undangan. Seperti pesta? Wanita itu sangat bangga memiliki sekumpulan para wanita yang disebut squad. Berisikan orang-orang cerminan dirinya yang sangat hobi untuk pergi berbelanja maupun ke salon. Dia telah berubah jauh sekali sejak hari pertama menginjakkan kaki di kampus ini. Ibaratkan seperti semut yang harus terbang ke planet Juputer namun bermula dari Merkurius.
Disamping itu, Chloe tak jarang mengadakan perayaan pesta. Seperti kelahiran anjingnya barunya, mendapat nilai B di kelas matematika maupun hal yang paling sepele adalah saat ia mampu untuk menahan nafsu berbelanja selama empat hari. Kemudian, mengadakan pesta bersama sekumpulan sahabat wanitanya.
"Ele! Aku mengundangmu pada acara Halloween-ku yang ke.."
Ia berhenti sejenak untuk berpikir seraya mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada dagu lonjong itu. Dahinya sedikit mengernyit, ciri khas darinya yaitu sering melupakan hal yang dianggap semua orang keren, padahal dirinya sendiri mampu melakukan semua itu. Hanya saja menurutnya tidaklah penting.
"Ke 9? Mungkin? Atau ke 17? Tidak, ah, lupakan. Datang saja ya."
Setelah memberikan kartu undangan berwarna hitam, ia berlelang begitu saja untuk menghampiri lainnya. Sebuah pesta kecil menurutnya dapat menampung hingga 100 orang. Mungkin untuk pesta Halloween akhir tahun ini ia akan mengundang seluruh penontonnya yang berjumlah 5000 orang dengan sederet artis juga sebagai bintang tamu seperti Justin Bieber, Calvin Harris ataupun Taylor Swift. Uang bukan apa-apa baginya.
"Aku tidak yakin kau akan datang, karena kau payah dalam hal wanita. Jujur saja, selama 19 tahun ini aku baru tiga kali atau empat kali melihatmu teroleskan make up?" Aku meliriknya kesal, mengapa ia selalu berkata jujur dan benar? Mengatakan betapa payahnya diriku dalam hal ini. Terakhir kali aku berdandan, adalah saat pergi ke ulang tahun Aidan. Dimana tanganku menggambar eyeliner dan berakhir tebal, sangat tebal. Dengan eyeshadow coklat gelap yang tidak kontras dengan dress hijauku serta heels berwarna merah. Aku pergi dengan terburu-buru dan berakhir tawaan.
