Chapter 1

62 5 2
                                        

(Nayong POV)

“Ireona nayong-ah”

“Ireona” Seseorang menepuk bahuku. Oh demi Dewi Fortuna, aku ingin tidur lagi. Beberapa menit kemudian tepukan itu berhenti. Tapi kini berganti menjadi silaunya sinar matahari yang mengganggu. Oh Dewa Ra(Dewa Matahari), mengapa kau tidak lelah memancarakan sinarmu? Ku urungkan niatku untuk tidur kembali, lalu mengerjap-ngerjapkan mata.

“Yak! OH SEHUN!”

Bagaimana bisa ia tertidur tepat didepanku? Apa ia melihat wajah anehku?

“Bibi aku pergi sekolah dahulu bersama Sehun!” Teriakku lantang. Dengan tergesa-gesa, aku berlari sambil memakan rotiku yang ada di mulut, membiarkan rambutku terurai dan mengambil tasku yang tengah menganggur di atas meja. Hari ini aku telat sekali, bagaimana bisa aku bangun se-telat ini?

Ku berlari sambil membuka pintu rumahku dengan satu tendangan keras. Ah~Iya, hati-hati saja jika kau ada masalah denganku, kepalamu bisa patah dengan satu pukulan telak dariku. Dengan tanggap, aku langsung melompat masuk kedalam mobil Sport Sehun. Mobil yang sudah lama jadi sasaranku dan mobil yang setia mengantarkanku pulang ke rumahku dengan selamat. Aku tidak peduli jika mobil itu lecet maupun rusak sedikit pun, Justru aku senang melihat kesengsaraannya. Bukan karena aku tidak menyukai mobil ini, tapi aku hanya senang saja jika Sehun marah-marah karena mobil kesayangannya ini aku hancurkan.

“Ya! Kau ingin membuat Mobilku rusak eoh?” Ujarnya dengan nada sinis, ia memegang stir dan menatapku seperti yang ia lakukan tadi di kamarku. Tatapan yang menurutku hangat namun terbesit sedikit menakutkan. Aku mengangguk senang sambil memunculkan deretan gigi putihku padanya. Ini kebiasaanku untuk tersenyum renyah setiap saat kepada si pemilik rambut hitam itu.

“Ini panas, bisakah kau menutup mobil ini?” Ia hanya diam. Menatapku lama tanpa berkutik sedikitpun, Ya! Kau kira aku patung ornamen? Ku cubit kedua pipinya dengan keras dan tidak lama kemudian m0bil ini tertutup sempurna. Aku tertawa melihat pipinya yang merah akibat cubitanku. Ia hanya mendelik lalu menyentil dahiku tiba-tiba. “Ya!Neo paboya!” Aku mencubit tangannya dan ia mengikutiku, Tentu~ Mencubitku juga.

Mungkin semua orang yang melihatku akan menganggapku dengan Sehun berpacaran. Kedua sahabat yang dekat satu sama lain dan bahkan bibiku sendiri mengatakan kepadaku kalau aku tengah Falling In Love. Bohong jika aku tidak menyukainya akibat insiden 2 tahun yang lalu.

Aku terdiam beberapa saat lalu membisikannya sesuatu. Ku dekatkan bibirku di telinganya lalu melontarkan beberapa kata sinis. “Nanti sepulang sekolah, kau harus membelikanku Bubble Tea Ya?” Sontak aku langsung membalas sentilannya, dan tepat pada dahinya. Muncul warna kemerahan pada dahinya yang milky itu. “Ya!ini sakit” Ia mengusap dahinya lalu mencoba untuk menyentilku lagi, namun sebelum ia berhasil menyentilku, Aku menutupi dahiku darinya. Aku aman.

Aku selalu bertengkar tatkala ingin pergi ke Sekolah, entah karena barusan, entah karena aku yang merusak dashboard mobilnya dan bahkan aku pernah meninggalkan segelas bubble lalu ia marah besar seperti ibu-ibu yang berebutan tas branded dengan harga termurah. Err- maksudku omelannya yang terlalu panjang lebar dan tidak beraturan.

Ia mendekat kearahku lalu menyentil tanganku yang menutup dahiku.Apayang akan ia lakukan padaku? Sungguh, kini posisi kami sangat tidak baik dipandang. Tangannya memegang jok belakangku dan tangan kanannya yang menyentil tanganku. Bohong jika aku tidak menginginkan ini, tapi apa wajahku memerah?

“Wajahmu memerah” Tanya Sehun sambil tertawa dihadapanku. Menertawakan kebodohanku yang tidak bisa menyembunyikan rona pada wajahku dan tertawa karena aku salah tingkah setelahnya. Aku hanya malu dan mengelak ucapannya yang menyudutkan posisiku. Apa ia bisa membaca pikiranku?

Parra BellumStories to obsess over. Discover now