Aku terbangun dengan posisi sakit di leherku.
"Sial,leherku."
erangku sebal,sambil memegang leher yang semoga bisa lebih baik jika begini.
Seingatku aku tidak bisa tertidur tadi malam,mondar mandir dan ahirnya memilih tidur di meja belajar.Aku memang punya kebiasaan aneh jika tidak bisa tidur,bukan memium obat tidur atau semacamnya.Hanya saja aku lebih nyaman dengan tidur di meja belajar.Akibatny aku sudah terbiasa pegal pegal.
Pagi ini aku harus meninggalkan rumah dan berpindah tempat tinggal ke sebuah sekolah politik ber-asrama.Jika aku bisa menolak "sungguh jika bisa ok" itu suatu yang mustahil.Faktanya aku tidak pernah tertarik dengan dunia politik,tolong di garis bawahi TIDAK TERTARIK.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketika kecil aku tak pernah tau apa sebenarnya pekerjaan orangtua ku,yang aku tau hanya mereka pergi pagi-pagi sekali dan pulang lebih sering ketika aku sudah tertidur.
Kata suster Anna,aku sering mengigau dengan mengucap beberapa kata seperti,
"Bunda,alin kangen,"
"Bunda bunda,jangan pergi"
dan seterusnya.Fakta ini aku ketahui ketika suster Anna bercerita padaku saat membantu mengemasi barang ku yang akan ku bawa ke asrama.Tapi,kebiasaan mengigau itu sudah hilang ketika aku masuk SMP,dan aku yakin itu karena aku sudah tak ambil pusing dengan kehadiran orangtuaku.
Masa kecilku di hiasa banyak kenangan sedih,bagaimana tidak jika setiap pengambilan raport saja yang mengambil sekertaris ayah, bukan ayah sendiri atau paling tidak bunda.aku sempat berfikir saat kelas 3 SD jika aku mungkin saja bukan anak kandung mereka,sebenarnya karena desakan teman teman yang selalu bertanya kenapa aku tidak pernah sekalipun di jemput orang tua ku.
Bukan berarti ayah dan bunda tidak baik padaku,mereka sangat baik walau kami hanya bertemu di rumah beberapa jam.Hanya saja kenapa aku tidak pernah berlibur ke taman bermain seperti teman teman ku yang selalu pamer bahwa ahir pecan mereka baru saja mengunjungi ancol atau ke bali untuk berlibur,aku iri sangat iri.Tapi aku tidak ada nyali untuk bertanya,ahirnya aku menyerah dan tak pernah lagi berpikiran tentang hal hal yang tak penting.
Masa SMP ku tidak ada perubahan besar,ayah dan bunda masih sama sama sibuk tapi aku tau ternyata mereka adalah seorang politikus.Menurut pelajaran PKn,politikus adalah sesorang yang terlibat dalam hal politik yang bernanung dalam sebuah partai.Tahun ini aku mendapat kabar dari bunda bahwa ayah akan mencalonkan diri menjadi seorang Gubernur Bandung aku tidak tau apakah itu hal baik atau bukan,tapi aku mendoakan ayah semoga berhasil.
Setelah menjadi seorang gubernur ayah semakin tidak punya waktu untuku apalagi memikirkan aku yang sebentar lagi akan menjalani unjian nasional SMP.Tanpa ku duga ayah menjemputku dari sekolah,menungguku di dalam mobil.
Di jalan ayah berkata
"Alin bisa pelajarannya?apa mau minta les tambahan,bilang sama ayah."
Tatapan ayah masih sama,hanggat dan tegas.
"Alin bisa kok yah"
Tak bisa ku sembunyikan senyumku dari ayah,aku sangat bahagia waktu itu,betapa tidak pernah lagi aku berbincang seperti ini dengan ayah.
"Ayah yakin Alin anak pintar.Alin ayah sudah ada pilihan SMA terbaik untuk alin,bunda juga sudah setuju tidak usah mencemaskan apapun dan fokus UN.Ayah inggin nilai paling bagus dari putri ayah,bisa?"
Entah mengaa pembicaraan ayah kali ini lebih serius dari pada saat aku akan masuk SMP,aku hanya membalas dengan anggukan dan senyum yang lenyap saat waktu ku bersama ayah telah habis dan aku harus masuk ke rumah,meninggalkan ayah yang akan pergi lagi entah urusan orang dewasa apalagi yang beliau kejakan.
Beberapa bulan ini benar-benar berlalu bagai mimpi saja,tau-tau aku sudah selesai ujian nasional dan akan segera masuk SMA.Aku memilih setuju dengan sekolah pilihan ayah,aku sudah terbiasa menurut dari kecil dan enggan memilih memberontak karena buang bang energi.
Ayah ternyata alumni dari sekolah ini,memang aneh karena di ijazah ayah lulus dari SMA 1 Jogjakarta.Ternyata ada rahasia di setiap kelulusan dari sekolah ini.
Mereka harus keluar sebelum ujian nasional.
YOU ARE READING
October
Teen FictionApa ya jadinya,jika kamu di masukan ke dalam sebuah sekolah menengah atas politik.Sekolah paling rahasia di negaramu yang hanya bisa di masuki anak-anak para politikus. Alin anak seorang calon presiden merasakannya,mempelajari sesuatu yang bukan min...
