"Ar, ikut cheers satu-satunya kesempataan lo dapetin perhatian Dean!" Ucap Candy pada Arl sahabatnya dengan semangat '45. "Lo harus berjuang dong! Kapten basket popular macem 'Fandean Pamungkas' itu mesti dijemput. Fansnya dia meluber cuy. Saingan lo banyak. Nggak bisa diem aja, pasrah, nunggu keajaiban," tambah Candy dengan pikiran positifnya yang mengebu-gebu.
Arl hanya menatap ke depan, yakni si Dean yang sedang bertanding basket. Ia malas mendengar kata-kata sahabatnya itu.
"Ar...ar...Helloww," ucap Candy menyadarkan Arl dengan melambai-lambaikan tangannya tepat diwajahnya. Berharap mendapatkan perhatian Arl.
"Hmm, iya iya," ucapnya malas serendah nada do, tanda Arl sudah bosan dengan nasihat Candy yang beribu kali ia ulang. Arl sampe hafal benar dan malas mendengarkan. Ia sangat cerewet seperti ibu-ibu kompleks tukang gosip.
"Oke. Kalo gitu besok kita ke tempat les dance tempat sepupu gue. Dia bisa bantu buat luwesin badan lo yang kaku badai. No complain ya, Say!" Katanya cerewet, memang khasnya.
"Apa? No! Andwee! N-gg-ak, Can! Titik." Arl langsung pergi dari lapangan indoor SMA Kennedy tanpa menghiraukan Candy selaku karibnya.
"Haduh, Tu-tu, Ted, temen lo kepala batu banget. Serba salah. Dibantu salah, ga dibantu apalagi..." keluh Candy pada Teddy mengenai sahabat mereka yang gemar makan es krim magnum white almond.
Teddy pun hanya membenarkan kacamata kotak besarnya yang merosot dan mendengus, lalu berkata, "sabar aja deh, nanti kalau Dean udah resmi jadian sama Joyie juga dia kelabakan. Ujung-ujungnya galau. Kita lagi yang repot," sambil menepuk-nepuk bahu Candy. Mereka berdua kembali fokus melihat pertandingan basket yang dikapteni Dean melawan tim Dalfha dari SMA Liberty, yang lumayan tangguh untuk dikalahkan.
.
.
.
.
.
Come back, with new story 🙏🏼
