Hari ini Diva datang ke studio dengan tangan penuh buku partitur musik. Diletakkannya partitur tersebut di atas grand piano hitam yang terletak di tengah ruangan. Tak lama kemudian pintu terbuka, dan masuklah kakak iparnya, Jessy, yang tengah menelepon dengan sibuknya sambil menyandang tas, terlihat kontras dengan perut besarnya. Ya, kakak iparnya kini tengah mengandung sembilan bulan, dan hanya menunggu hari untuk melahirkan anak pertamanya dan suami tercintanya, Moses. Moses adalah kakak Diva.
Tapi melihat gelagat Jessy yang sedang menelepon dengab suara tinggi, sepertinya keduanya bertengkar. Lagi. Diva geleng-geleng sambil duduk di depan pianonya, membuka tutup grand piano dan mulai melemaskan jarinya dan menekan tuts-tuts piano perlahan. Tapi suara diluar sepertinya makin memanas.
'Apa sih yang dipikirkan dua orang itu?' pikir Diva heran. 'Kerja mereka bertengkar melulu!' Entah bisa bertahan berapa lama pernikahan Moses-Jessy jika melihat mereka berdua yang kerap bertengkar seperti ini. Oke, patut Diva akui disini, kakaknya, Moses, itu adalah aktor tampan yang sedang naik daun, dan Jessy adalah pemain biola yang sering menggubah komposisi soundtrack-soundtrack drama yang dibintangi oleh Moses. Sebagai aktor, tentunya Moses bergaul banyak wanita, dan Diva mengakui kalau tabiat kakaknya itu memang sedikit, oke, bukan sedikit, dia memang flamboyan.
Diva juga harus mengakui, kalau istri kakaknya itu, tipe pencemburu parah! Jadilah mereka bisa bertengkar hingga tiga kali sehari, seperti minum obat, hanya karena hal sepele. Tapi kadang-kadang Diva bisa sedikit iri juga melihat pasangan itu, keduanya terlihat sangat mencintai satu sama lain, meski jika keduanya sudah bertengkar suka berlebihan memang, berbeda dengan kehidupan rumah tangganya sendiri.
Tak lama kemudian Jessy masuk ke dalam ruangan dengan wajah merah dan mata sembab. Pasti habis menangis. Diva geleng-geleng. Seumur hidup menikah dengan Adrian, dia menangis cuma sekali. Itu juga ketika pemberkatan pernikahan.
"Apa lagi sekarang, Kak Jess?"
Jessy mengusap matanya. "Huh! Aku lelah dengan Moses!" sahut Jessy kesal sambil mengusap matanya.
"Kenapa sih kalian?" Diva memutar badannya. "Bertengkar terus, tidak bosan ya? Ingat dong kau sedang hamil, kasihan bayimu, Kak..."
"Bilang pada Moses!" isak Jessy.
Diva geleng-geleng, inilah juga yang membuatnya malas, dua-duanya keras kepala. Baik Moses maupun Jessy. Jujur, kalau dari sudut sini, Jessy lebih keras kepala. Biasanya kalau Jessy sudah marah, pekerjaan sesibuk apa pun, Moses akan datang secepat mungkin dan meminta maaf, meski terkadang dia tidak bersalah. Ck, tipe suami takut istri.
"Sudahlah, aku tidak mau memikirkan kakakmu itu!" desah Jessy. "Lebih baik kita mulai persiapan konser tribute itu." Jessy meletakkan kotak biolanya ke meja, dan membukanya perlahan.
"Yakin, Kak?'
"Yakin." Jessy menjawab mantap. "Konser ini adalah konser tunggalmu yang pertama, Diva sayang... tentu harus di persiapkan dengan baik."
"Kakak benar." Diva berbalik menghadap pianonya.
Jessy menghampiri Diva dan pianonya, sambil membawa biola. Sesaat kemudian, biola cokelat tersebut jatuh berdentang ke bawah dengan suara keras. Diva mendongak kaget, itu adalah biola kesayangan Jessy. Apakah Jessy sebegitu marah pada Moses sehingga ia membanting biolanya begitu saja ke lantai?
Tapi Diva terkejut begitu melihat Jessy sudah membungkuk, wajahnya berkerut menahan sakit, berusaha berpegangan piano.
"Diva..." isaknya sambil meringis.
"Ke-kenapa?!" tanya Diva. "Kak, are you okay?!" tanyanya panik. "Apa yang terjadi? Kak?!" Diva berdiri dan menghampiri Jessy yang terus menangis dan memegangi perutnya.
YOU ARE READING
Turn Back Time
RomanceJika kamu dapat memutar waktu, mungkin untuk mencegah semuanya terjadi... dan berharap kau dapat memperbaiki pilihan-pilihan yang kau buat. Maukah kau??? Sekali lagi, maukah? Disclaimer : ini adalah repost dari sebuah fanfic yang aku dapat di Facebo...
