Sore masih di perbatasan petang, mobil yang dikendarai om Pras akhirnya berhenti di sebuah rumah mewah berpagar tinggi, yang berada di kawasan perumahan elite Jakarta.
Perjalanan dari desaku ke Jakarta memang membutuhkan waktu yang cukup lama, pasalnya letak desaku begitu terpencil.
Jalan yang becek dan penuh lumpur membuat akses kendaraan menjadi sedikit sulit.
Mataku mengamati rumah ini cukup lama, dari bawah sini aku bisa melihat rumah ini memiliki tiga lantai, dengan dinding berwarna puttih gading, memberikan kesan tersendiri bagi setiap orang yang melihatnya.
Hatiku bertanya-tanya, benarkah aku akan tinggal di sini?
Sungguh, aku tak pernah menyangka akan tinggal di rumah sebesar ini. Membayangkannya pun tidak pernah. Om Pras sepertinya orang yang sangat baik, aku menyukai caranya bersikap. Berbeda dengan ayahku.
Aku sangat membenci ayahku. Ya, ayah kandungku. Menurutku dia tak pantas disebut sebagai seorang ayah, karena gelar itu terlalu tinggi untuknya. Anggap saja aku anak durhaka, tetapi perilaku ayah terhadap keluarga membuatku begitu membencinya.
Mana ada seorang ayah yang memaksa anaknya bekerja? Mana ada ayah yang menjual anaknya sendiri? Itu gila bukan. Bahkan ayahku juga pernah menjual ibuku pada pria bandot yang ada di desaku. Hatiku sakit bila harus mengingat hal itu lagi.
Seorang ayah seharusnya bekerja mencari nafkah dan menjaga istri serta anaknya, tetapi ayahku tidak pernah melakukan hal itu. Justru ia sering memaksa ibu dan juga kakakku bekerja menjadi wanita malam, lalu uangnya ia gunakan untuk bermain judi. Aku heran, mengapa ayah tetap bermain judi padahal ia selalu kalah dalam perjudian itu.
Itulah mengapa aku pernah mengatainya 'bodoh'
Sekarang aku berada di tumah besar ini, karena ibu dan kakak perempuanku telah tiada. Meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Tentu saja ayahku adalah penyebabnya. Ia menyerang mereka dengan pisau belati ketika otaknya berada dalam pengaruh alkohol. Aku amat terpukul dengan kejadian itu.
Saat itu aku sedang bekerja di kedai kopi, aku baru mengetahuinya setelah salah seorang tetanggaku memberitahuku. Saat itulah duniaku seakan hancur, aku tak lagi memiliki semangat hidup, dan lagi-lagi itu karena lelaki bernama Wisnu Wardana, yang tak lain adalah ayahku sendiri. Aku sudah tak peduli dengan lelaki itu lagi, biarkan saja dia mmembusuk di penjara. Kuharap ia segera menyesali perbuatannya.
Tepat lima hari setelah jasad mereka dikuburkan, om Pras datang ke rumahku, ia berniat mengajakku tinggal di rumahnya. Aku tak punya pilihan lain, om Pras adalah keluarga satu-satunya yang kumiliki saat ini. Meski ia hanya sepupu jauh ibuku, Ariyani.
"Alesha, ayo masuk"
Aku tersentak dari lamunanku, om Pras menegurku karena aku masih berdiri mematung di depan pintu.
"Ah, iya om" kataku dengan tersenyum. Akupun memasuki rumah itu sambil menyeret koper usangku ke dalam rumah, tetapi baru beberapa langkah ada tangan seseorang meraih koperku.
"Biar bibi banyu ya non," seorang wanita paruh baya berkata padaku. Melihat tubuh wanita itu aku jadi teringat dengan ibuku, aku yakin pekerjaannya di rumah ini banyak sekali, aku tak ingin menambah bebanya lagi. Lagipula aku bisa membawa koperku sendiri.
Aku ingin menarik koper itu kembali, namun gerakanku terhenti karena ucapan om Pras.
"Biarkan bi Ani yang membawanya, Ale"
"Bi, letakkan letakkan di kamar pojok lantai dua ya!" Perintah om Pras dengan ucapan yang santun.
"Baik tuan" bi Ani kemudian membawa koperku menaiki tangga menuju lantai dua.
Selang beberapa detik setelah bi Ani pergi, om Pras kembali bersuara.
"Maya...!" Seru om Pras entah kepada siapa itu. Aku memperhatikannya menengok ke kiri dan ke kanan. tak berapa lama, kulihat seorang wanita muda berjalan mendekat dari arah belakang.
"Ada apa tuan?"
"Dimana nyonya dan anak-anak?" Tanya om Pras langsung.
"Nyonya baru pulang arisan, mungkin sekarang sedang mandi. Kalo den Jafar sama Javier ada di kamarnya" kata wanita itu menjelaskan. Om Pras menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya.
"Ale, mandi dan istirahatlah. Nanti om akan mengenalkanmu pada keluarga om" ujar om Pras padaku.
"Iya, om" balasku lembut.
"Mari non saya antar" ucap wanita muda itu menawarkan diri.
Akupun berjalan ke arah tangga diikuti wanita itu dibelakangku, kemudian aku menghentikan langkahku agar bisa berjalan berdampingan dengan pelayan itu.
Aku ingin menanyakan beberapa hal kepada wanita itu, aku ingin tahu tentang keluarga om Pras. Kuharap mereka sama baiknya dengan om Pras. Jujur, aku belum pernah bertemu dengan mereka sama sekali.
Banyak informasi yang kudapatkan dari wanita ini, dia bilang om Pras memiliki tiga orang anak. Dua laki-laki dan satu perempuan. Aku tak sabar ingin bertemu dengan mereka.
Cerita yang dikatakan Maya benar-benar membuatku hanyut. Entahlah, aku seperti tak bisa berhenti untuk tak menyimaknya. Keluarga om Pras adalah keluarga yang sempurna, menurutku. Miris hatiku ketika membandingkannya dengan keluargaku sendiri.
Entah karena aku melamun, atau terhanyut dengan penjelasan Maya, aku tak sengaja menabrak seseorang saat kakiku baru saja menapak di lantai dua.
PRANG!!
Suara pecahan itu terdengar menggema, aku sampai terjengit karena terkejut dengan yang baru saja terjadi.
"K-kau?!" Seorang lelaki menuding wajahku dengan matanya yang memerah. Dari suaranya, aku bisa menyadari jika ia sedang menahan kemarahannya.
❤❤❤
Hai readers...😊 malam ini aku bawa cerita baru untuk kalian.
Eh, sebenarnya enggak baru sih, soalnya cerita ini udah pernah aku publish di akun aku yang lain. Karena aku gak bisa log in ke akun aku itu, jadi aku tulis ulang ceritanya disini...
Gak apa apa ditulis ulang, lagian baru tiga part☺
Maaf buat readers yang nungguin cerita ini. Maaf ya karena aku PHP.in terus hehehe...
Vote dan komentar ya untuk lanjut😉
Love you all...
KAMU SEDANG MEMBACA
Callously
RomansaAlesha. Itu namaku, aku tak punya nama panjang, itulah yang tertulis pada akta kelahiranku. Ibuku bilang, ayahku yang memberikan nama itu padaku. Aku merutuki hidupku, kenapa harus lelaki biadab itu yang menjadi ayahku, kenapa bukan orang lain saja...
