Wizar selalu mengira bahwa dirinya adalah orang yang tidak mudah jatuh cinta. Namun, dengan Erika dia hanya butuh waktu 3 detik untuk menyukainya.
Wizar sudah mencari tahu bahwa cinta pada pandangan pertama bisa jadi hanya ilusi, sebab seseorang lebih mungkin mengalami cinta pada pandangan pertama terhadap orang yang dianggap menarik secara fisik, otak hanya meromantisasi pertemuan pertama dan itu bukan yang dinamakan cinta sejati karena belum ada komponen kedekatan emosional dan komitmen yang cukup jika mengacu pada Triangular Theory of Love yang dikemukakan oleh Robert Sternberg.
Cinta pada pandangan pertama memang terdengar indah, tapi sering kali cepat pudar. Dan karena itu, Wizar memilih diam. Ia simpan perasaan itu rapat-rapat, berusaha menganggapnya hanya kekaguman singkat. Ia meyakinkan dirinya bahwa itu akan padam seiring waktu, seperti api kecil yang kehabisan oksigen.
Namun, takdir berkata lain.
Pertemuan pertama itu ternyata bukanlah akhir, melainkan awal dari serangkaian kebetulan—atau mungkin takdir—yang terus mempertemukan mereka dan kelak berhasil meruntuhkan pertahanan Wizar. Perasaannya tumbuh, pelan namun pasti, seperti akar yang mencari tempat untuk bertumbuh di tanah yang tak ia sangka subur.
Kepada Erika, Wizar bukan lagi hanya tertarik, ia ingin masuk dan menjadi bagian dari hidup perempuan itu, bukan sebagai sosok yang sekadar lewat, tapi sebagai seseorang yang menetap.
Dan Erika, dengan caranya yang lembut dan hangat, seolah mengizinkannya.
Namun, ketika Wizar pikir mereka sudah cukup dekat untuk memulai hubungan yang baru, kenyataan menamparnya dengan pahit. Wizar sadar bahwa ternyata ia bukan lah satu-satunya untuk Erika. Perempuan itu tak hanya baik padanya.
Kecewa sudah jelas, tetapi ia tak bisa dan tak ingin menyalahkan Erika. Nyatanya perempuan itu tidak pernah memberi harapan palsu. Tidak pernah menjanjikan apa-apa. Hanya menjadi dirinya sendiri—tulus, terbuka, dan penuh kehangatan. Tapi justru itulah yang membuat segalanya menjadi begitu sulit, membuat Wizar berharap ada sesuatu diantara mereka.
Erika ibarat matahari, menghangatkan semua orang tanpa pilih kasih. Dan Wizar, hanya salah satu yang menerima hangatnya. Erika membuat semua orang merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Dan dalam keramaian cinta yang mengelilingi Erika, Wizar mulai merasa seperti bayangan yang berdiri di tepi.
Ada kalanya Wizar ingin berhenti dan memilih melepaskan, tetapi perasaannya pada Erika terlanjur dalam. Hingga di suatu sore, saat matahari di ufuk barat tengah mewarnai langit Yogya dengan semburat oranye, Wizar bertanya lirih pada Erika yang duduk di sampingnya.
"Apakah aku punya kemungkinan untuk kamu pilih?"
Angin laut berembus kencang, membiarkan kata-kata itu melayang di antara mereka. Tak ada yang berkata apa-apa setelah itu. Hanya debur ombak di bawah sana yang menjawab, dan senja yang perlahan meredup.
Saat itu Wizar lupa bahwa matahari selamanya tak akan pernah bisa dimiliki.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.