Na(m)pak

29 2 2
                                        


-Aku hanya seorang dokter, Arumi. Tidak banyak yang aku tau darimu. Tapi untuk menjawabnya, Sastra punya banyak kata untuk mendiskripsikanmu-

***

Ruang seluas enam belas meter persegi itu lengang. Dinding dan langit-langitnya berwarna putih. Tingginya tak lebih dari lima meter. Di dalam sana hanya ada dua perabot. Satu kursi lipat yang diduduki dokter cantik berusia dua puluh lima tahunan. Dia memakai jas putih dan kemeja biru didalamnya. Satu lagi sofa pendek memanjang abu-abu gelap. Seorang lelaki lelaki berusia dua puluh tahunan bersandar, setengah terbaring di sana. Dia terpejam. Kepalanya dikelilingi belalai yang entah apa fungsinya.

Dokter cantik itu masih menatapnya. Sekali lagi tatapan itu penuh misteri dengan tanda tanya besar. Bagaimana tidak. Pria dua puluh tahunan ini ada di hadapannya, membuat meja kerjanya penuh dengan cacatan medis yang berisi tentang lelaki itu. Seminggu terakhir, seluruh perhatian sempurna untuk lelaki itu.

Mesin berdesing. Proses yang entah apa namanya itu sudah selesai. Dokter cantik itu membantu melepas bando logam yang ada di kepala lelaki itu.

"Bagaimana?" Dokter cantik itu bertanya, antusias.

Lelaki itu hanya menggeleng. Gerakan yang sulit diartikan. Di antara kabar baik dan buruk. "Katakan."

Lelaki itu mulai membuka mulutnya untuk bicara. Ini adalah kali pertama lelaki itu bicara pada orang lain setelah hampir sebulan terisolasi di ruang hampa tanpa teman bicara. Ya. Semua karna dokter ini.

"Berantakan. Rumah itu terlihat pengap" , lelaki itu mulai bicara.

"Hanya itu?" , dokter cantik merubah ekpresinya, kecewa.

"Tebing dan pepohonan yang rindang. Terik panas yang menyentuh angka empat puluh derajat celcius pun tak terasa panasnya" tambahnya.

Dokter itu membuka catatan yang digenggamnya. Meneliti. "Ya. Itu tempat yang kau anggap paling menyenangkan di dunia ini, bukan?" , lelaki itu mengangguk riang.

Waktu berjalan terlalu cepat bagi lelaki itu. Untuk mengenang masa-masa menyenangkan selama hampir dua tahun hanya dengan 3600 detik. Ya. Cahaya itu terlalu cepat membawanya pergi. Tak sempat tinggal lebih lama. Belum sempat melangkahkan kaki, cahaya itu sudah menyedot tubuh lelaki itu, memindahkan ke tempat lain.

"Mengapa ingatanku harus diperbaiki?" tanya lelaki itu beberapa menit kemudian.

"Agar kami sedikit mudah menyembuhkanmu." Itu jawaban terbodoh yang pernah lelaki itu dengar.

Apa yang salah tentang dirinya. Sekarang ia sehat, terlihat segar bugar, tak ada cacat sedikit pun, fisik kekarnya juga bisa menjamin bahwa dirinya sehat dan baik-baik saja.

"Tapi tidak untuk mentalmu" seru dokter itu karna muak mendengar lelaki dua puluh tahunan itu membantah.

Suasana lengang. Mereka saling terdiam. Dokter cantik itu sibuk menggoreskan tangannya pada layar tablet dua inci untuk analisis, sedangkan lelaki itu memilih diam. Seperti biasanya.

***

"Aku tidak tau bagaimana bisa ayah menariknya dari desa terpencil lalu memberiku beban untuk menangani kasus ini. Ini kasus pertamaku. Berat." Gadis itu mendesah untuk kesekian kalinya. Ayahnya diam seribu bahasa, fokus pada bacaannya. Koran dengan berita terkini itu jauh lebih menarik daripada keluh kesah anak semata wayangnya.

Beberapa puluh menit kemudian, Dr. Alik menoleh, berpaling menatap anaknya. "Kau pasti bisa menyelesaikan ini, sayang"

Dokter itu menggeleng manja. Ia selalu manja di hadapan ayahnya. Berbeda dengan kebiasaannya di rumah sakit yang terkenal menakutkan. Ya. Kesan pertama karyawan rumah sakit setelah mengenali dokter cantik itu. Menakutkan.

NampakWhere stories live. Discover now