*11 Tahun yang lalu...
Seorang gadis sedang berdiri di atas balkon sambil menatap langit-langit malam.
Gadis tersebut sebenarnya sedang tidak memandangi indahnya bintang,tetapi dia sedang menangis dalam diam karna meratapi kebodohannya.
Dia terus meruntuki dirinya yang sangat bodoh dalam berfikir.
Bukan berfikir dalam pelajaran atau semacam nya tetapi bodoh dalam berfikir untuk masa depannya yang sudah dia hancurkan begitu saja karna kebodohannya itu.
Setelah sekian lama dia menangis dalam diam dan tak hentinya meruntuki kebodohannya,
Dia beranjak dari tempat yang sejak tadi dia singgahi untuk menangis.
Dia juga keluar dari kamarnya.
Saat dia ingin berjalan lebih jauh lagi dari pintu kamarnya dia terhenti di suatu pintu yang letaknya tepat berada disamping kamarnya.
Pintu itu sedikit terbuka.Dia mencoba mengintip kedalam untuk melihat apakah ada orang didalam kamar itu.
Tampak ada seorang anak kecil berusia 5tahun yang sedang asyik bermain boneka sambil berbicara sendiri seakan boneka-boneka yang dipegang anak kecil itu bisa berbicara dan bergerak selayak nya manusia.
Gadis itu tetsenyum melihat tingkah adik yang sangat dicintainya itu.
Gadis itu berjalan masuk menuju kamar yang bernuansa serba pink tersebut.
aktifitas anak kecil itu terhenti, sepertinya dia menyadari kedatangan seseorang.
Dia menoleh ke arah dimana gadis tadi melangkah menuju kearahnya.
Senyumnya langsung mengembang saat tau siapa yang datang.
"Kakak!Ada pa kaka ke cini?." Suara nya has seperti anak kecil yang baru belajar bicara,tampak pada kalimat yang dia ucapkan masih terdapat kata yang salah.
Gadis itu mendekat sambil tersenyum kearah anak kecil itu yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri, lalu dia duduk disamping adiknya.
"Engak ada apa-apa kok, kakak cuma kangen aja sama Rain."
Anak kecil yang bernama Rain tersebut mengernyit bingung karna mendengar ucapan kakaknya itu.
"Kaka angen cama Lein?kan tadi pagi kita main baleng kak, gimana kaka bica angen ama Lein kalo tadi balu aja ketemu."
Gadis itu tersenyum lalu mengusap lembut dengan penuh kasih sayang kepala adiknya itu.
Sebelum gadis itu menjawab pertanyaan adiknya, dia sempat menggeleng pelan.
"Enggak Rain, Kaka akan selalu kangen sama Rain, kaka bakal kangen sama bawel nya Rain, lucunya Rain, omongan Rain, centil nya Rain, cengeng nya Rain, teriakan Rain, ketawanya Rain, pokoknya kakak akan selalu kangen sama kamu Rain.Akan.Pasti.Selalu.". Ucapnya sambil menahan tangis.
Terdapat perasaan pilu yang tak dapat digambarkan dalam setiap kata yang dia ucapkan.
"Lein gak ngelti kaka omong pa.. padahal kalo kaka mau ketemu Lein,kaka inggal panggil Lein aja, nanti Lein bakal nyampelin kakak, telus kalo kaka pengen liat Lein ketawa...
Rain sempat menjeda kata-kata nya sendiri dan dia mengkerutkan wajahnya tampak sedang mencerna perkataan kakaknya.
Gadis itu tersenyum melihat kebingungan yang tersirat di wajah lucu adiknya itu, baginya kebingungan adiknya itu malah membuat adiknya semakin manis dan lucu.
YOU ARE READING
"Story of Rain"
Teen FictionSerpihan kisah dari seorang gadis yang dingin,datar dan tak tersentuh. Dia membangun sebuah dinding es yang tebal yang sama sekali tak tersentuh oleh siapapun didalam dirinya. Bahkan sahabat-sahabat nya pun tak bisa menembus dinding tersebut. Tapi t...
