Jalanan di Jakarta selalu padat di siang hari. Tak terkecuali hari ini. Bunyi klakson berulang kali terdengar, asap kendaraan menyatu dengan udara yang terasa panas seperti biasa. Tidak ada yang menyukai kemacetan, begitu pula dengan Angela. Gadis keturunan Tionghoa itu kini berada dalam taksi di tengah kepadatan lalu lintas. Ia berulang kali melirik jam di dashboard, gelisah sepanjang perjalanan sambil sesekali berdecak kesal. Supir taksi sesekali melirik Angela dari balik kaca depan, ikut gelisah melihat tingkah Angela.
Sejak gadis itu duduk di dalam taksinya, ia tak bisa duduk tenang. Angela memang tidak mengatakan apa-apa atau menyuruh supir tersebut untuk bergerak lebih cepat, tapi dari kegelisahannya, supir itu tahu ada sesuatu yang sangat mendesak dari gadis itu. Apalagi Angela kini tengah mengenakan gaun pengantin berwarna gading yang sangat cantik. Rambutnya digelung rapi dan dihiasi bunga-bunga kecil. Make up di wajahnya masih terpoles senpurna. Semua orang yang melihatnya pasti tahu bahwa ia adalah seorang pengantin yang akan menikah hari ini. Dan apapun yang membuatnya lari dari pernikahannya sendiri pastilah sangat penting, bisa jadi hal itu adalah sesuatu yang mungkin bisa mengubah jalan hidupnya.
Dua jam perjalanan, akhirnya Angela sampai di tujuan yaitu Bandara Soekarno Hatta. Setelah menyerahkan sejumlah uang yang sejak tadi digenggamnya dan hanya satu-satunya yang ia bawa, tanpa mempedulikan kembalian ia bergegas keluar dari taksi. Angela tahu mungkin ia sudah terlambat. Tapi tentu saja ia masih berharap keberuntungan akan berpihak padanya.
Angela berlari menuju tempat check in pesawat, berusaha menemukan orang yang dicarinya. Sepatu hak tinggi yang ia kenakan membuat langkahnya sedikit terhambat. Tanpa pikir panjang ia melepas sepatu itu dan menentengnya. Sebagian besar orang di bandara memperhatikannya, tentu saja karena penampilannya saat ini. Apa yang dilakukan seorang pengantin di bandara? Apakah ada pemotretan pre-wedding atau sejenisnya? Begitulah kurang lebih pemikiran mereka. Angela tak peduli, ia harus segera menemukan orang yang dicarinya meskipun ia masih samar-samar dengan ingatannya akan rupa orang tersebut.
Berulang kali Angela salah memanggil orang tapi ia tidak menyerah. Ia yakin tidak salah tempat karena ia ingat dengan jelas apa yang tertulis pada surat yang ia terima dua jam sebelum pemberkatan di Gereja tadi. Sekitar lima jam yang lalu Angela sudah pasrah bila pada akhirnya ia harus menikah dengan orang yang tak dicintainya, tapi ternyata ada seseorang yang memberinya jalan keluar. Angela tak tahu siapa yang memberikan surat itu melalui kakaknya. Tapi kalau memang itu adalah satu-satunya kesempatan yang ada, maka ia tak takut mengambil resiko. Sekarang atau tidak sama sekali. Walaupun pada akhirnya ini bukanlah jawaban atas penantiannya, setidaknya ia sudah mencoba.
Angela hampir putus asa. Ia tak mungkin masuk ke ruang tunggu boarding untuk melanjutkan pencariannya tanpa tiket dan passport. Ia juga tidak membawa uang untuk membeli tiket pesawat yang sama. Tapi ternyata Angela memang tak perlu masuk ke ruang boarding. Dari kejauhan matanya menangkap sosok seorang pria yang samar-samar dikenalnya dari samping. Pria itu baru saja keluar dari sebuah cafe menuju pintu masuk boarding. Segera saja Angela berlari menghampiri pria itu yang kini tengah membelakanginya.
"Pak Win." Panggilnya. Namun ternyata suaranya tak cukup keras untuk bisa didengar oleh pria itu. Angela sangat gugup. Jantungnya berdetak cepat. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum memanggil lebih keras.
"Pak Win!"
Pria itu menghentikan langkahnya, begitu pula orang-orang di sekitar. Mereka begitu penasaran pada hal yang tak biasa terjadi di bandara. Seorang pengantin yang penampilannya sudah mulai lusuh karena berlari sana-sini di area bandara. Angela tak peduli akan penampilannya, pun pada orang-orang di sekitarnya. Pikirannya hanya tertuju pada pria di depannya yang entah mengapa membutuhkan waktu lama untuk sekedar menoleh.
"Pak Win." Panggilnya lagi, berharap ia tak salah orang.
Angela memang tidak salah orang. Selama beberapa saat pria itu akhirnya menoleh. Matanya sedikit melebar mendapati sosok Angela di hadapannya. Jantung Angela semakin cepat berpacu. Ya, benar. Dialah orang yang telah ia nantikan selama belasan tahun. Orang yang selama ini menjadi alasannya untuk menolak ajakan kencan pria-pria yang mendekatinya, alasannya menolak lamaran dari kekasihnya dulu, juga alasan mengapa ia lari dari pernikahannya hari ini.
Selama beberapa menit mereka saling bertatapan. Angela mencoba mengatur perasaannya yang membuncah dalam hati meskipun gagal. Waktu telah mengubah garis-garis wajah pria itu. Tapi bagi Angela, tatapan matanya masih sama, masih bisa membuat hatinya berdebar. Jantung Angela yang perlahan kembali tenang. Senyuman pun merekah di bibirnya.
"Di mata Pak Win, apakah aku sudah cukup berani untuk meraih apa yang kuinginkan?"
***
YOU ARE READING
Fall for You
RomanceSekian lama, aku tak tahu lagi perasaan apa yang masih mengganjal di hatiku. Masihkah ini cinta atau hanya penantian akan sebuah kepastian?
