Tap... Tap... Tap...
Andrea melangkahkan kakinya ke sekolah dengan riang. Andrea yang hobi sekolah merasa senang lantaran hari ini adalah hari pertama sekolah setelah libur semester yang membosankan selama kurang lebih sebulan.
Andrea terkenal sebagai murid teladan dan cerdas .Bahkan saking cerdasnya, selama liburan ia mengisi waktunya untuk mengisi buku soal-soal kimia dan fisika yang paling anti dilirik oleh siswa lain. Dilirik saja udah malas, apalagi disentuh.
Saat remaja lain sedang bersenang-senang bareng teman-teman mereka, Andrea lebih memilih mencorat-coret buku soal matematikanya. Hanya sesekali ia pergi ke toko buku dan kafe untuk menyegarkan pikirannya. Menurutnya, hiburan itu gak terlalu penting, lebih baik waktunya ia gunakan untuk menata masa depannya yang cemerlang. *Tssaahh...*
Wajar bila pihak sekolah sering mempercayakannya untuk mengikuti banyak olimpiade. Dan dari sekian banyak olimpiade yang diikuti paling tidak ada satu medali atau piala yang dia berikan untuk sekolahnya.
****
Gerbang besar dengan tulisan SMA PELITA BANGSA sudah di depan mata. Andrea bergegas memasuki sekolahnya dan melihat daftar kelas dan nama di papan pengumuman. Tangan dan matanya bergerak mencari namanya. Dapat! ANDREA AKHSA TANUWIJAYA di kelas XI IPA 1.
Andrea berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah lumayan ramai. Kemudian menaiki tangga melewati kelas-kelas, dan berhenti di kelasnya. XI IPA 1 tertulis di tiang pintu kelasnya. Belum sempat Andrea menapakkan kaki ke lantai kelasnya, Ajeng teman baiknya di kelas X sudah menyerbunya. Ternyata mereka berdua sekelas!
“Andreaaa... Kangen guee. Lo kok susah amat sih dihubungin? Emang selama liburan lo kemana aja sih?” Ajeng langsung membanjiri Andrea dengan pertanyaannya.
“Yaelah, jeng. Belom juga duduk udah ditanya begituan aja. Lagian lo kan tau kalo gue liburan kemana. Paling jauh juga Cuma ke toko buku.” Andrea memutar bola matanya.
“Iya-ya. Lo kan cewek culun. Mana ngerti sama yang namanya dunia remaja masa kini. Mainannya aja buku. Wakakakak” Ajeng mencibir dan tertawa. Andrea memasang muka datar bahkan hampir terlihat seperti -_-
“Bodo, ah. Sebahagia elu aja.” Andrea melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Kepalanya celingak-celinguk mencari tas Ajeng, bermaksud supaya mereka duduk sebangku.
“woy, Jeng. Mana tas lo? Kok gak ada?”
“Itu tuh. Yang warna biru. Di tengah tengah itu.” Ajeng menunjuk sebuah tas biru cerah.
“Behh... Pantes gua gak ngeliat, orang tas baru.”
“Hehehe” Ajeng menyengir dan menampakkan deretan giginya yang rapi.
Bel sekolah berdering tiga kali. Tanda masuk sekolah. Tak lama kemudian seorang guru masuk diikuti oleh seorang cowok.
“Bapak ucapkan selamat datang kembali bagi kalian. Semoga setelah selama kurang lebih satu bulan kalian libur, kalian semakin semangat belajar. Ingat! Ilmu itu mahal harganya. Jangan kecewakan orang tua kalian yang bersusah payah menyekolahkan kalian! Mengerti?” Nasihat pak Adit-wali kelas baru kami- dan serempak semua murid menjawab “iyaa paakk”. “Dan untuk kelas ini, kalian kedatangan teman baru. silakan perkenalkan diri dahulu.” Pak Adit mempersilakan.
YOU ARE READING
An's Love Letter
Teen FictionAndrea said: Gua benci Raka! Selalu aja ketenangan gua diganggu dia. Kenapa anak baru itu harus masuk di kelas gua sih? Gua juga gak suka Dika! Nyebelin, gak tau diri, sok ganteng lagi. Dihh... Mau muntah kalo liat dia! Tapi kenapa ada aja yang buat...
