PROLOG

21 3 0
                                        

Jalan setapak di antara berbagai jenis liana di lantai hutan mulai samar terlihat, berkurangnya sinar matahari pertanda hari mulai petang. Tak terlihat lagi aktivitas Owa-owa berayun atau sekadar berdiam di tajuk hutan. Mungkin ini sebab mengapa Leon mengajak kedua anaknya pulang, sangat erat ia menggandeng putranya berusia tujuh tahun dengan tangan kanan dan putri kecil yang ketika itu baru berusia lima tahun di tangan kiri.

Kala itu anak laki-laki Leon menggunakan baju overall, lebih dikenal dengan nama baju kodok, sedang asyik memainkan bola kasti yang baru saja dibelikan ayahnya, sesaat ia melempar-lempar bola itu, kadang memukul-mukul ke pinggang, kadang pula menendangnya. "Dru, biar ayah yang ambil bolanya!" Teriak Leon ketika bola menggelinding di jalanan atau terlempar oleh Dru. Sebentar-sebentar Leon melepaskan genggaman untuk mengejar bola dan mengambilnya kembali, sementara Dru hanya tertawa-tawa melihat Leon berlari mengikuti arah menggelindingnya bola. "Iii...tu iii...tu ayy..yah" dengan susah payah ia mengatakannya.

Putri kecil berambut pendek tebal dijepit pita yang ketika itu memakai baju lengan panjang berwarna merah dipadukan dengan jegging biru pendek sangat kontras dengan kulit putih pucatnya, bernama Zein, ia hanya mengamati sambil sesekali ikut tertawa melihat ayahnya berlari mengejar bola.

Waktu berlalu cukup lama, jalanan semakin gelap, sepi, pepohonan pun mulai lelap tersapu angin sepoi-sepoi yang meniupkan hawa aneh tidak mengenakkan. Bola kasti Dru sudah mulai lusuh karena terjatuh, menggelinding, hilang di antara semak-semak, benar-benar hilang. "Ayah tidak bisa menemukan bolanya, Dru. Sudah sangat gelap di dalam hutan," kata Leon sambil terengah-engah begitu muncul di antara pepohonan di pinggir hutan. Raut wajah Dru kesal, sambil melompat-lompat dan berputar melampiaskan.

"Dru..." satu langkah Leon menggapai Dru berusaha mendekap tubuhnya agar tenang, menghentikan kekesalannya, meski sia-sia. "Dru... besok kita ke sini lagi untuk cari bola itu sampai ketemu. Ini sudah malam, percuma, kita tidak bisa mencari di tengah kegelapan." Dru tetap tidak bisa diam, berteriak dan berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Leon hendak berlari menuju hutan.

"Dru!" panggil Leon setengah berteriak. "Okay! Ayah cari bola itu sekarang. Tapi Dru harus janji tidak boleh nangis," Leon membelai punggung Dru. "Dru di sini saja jaga Zein, kalau takut, Dru bawa Zein pulang ke rumah jangan mampir kemana-mana. Janji?" Jari kelingking Leon dan putranya berpaut sebagai tanda perjanjian.

Leon melangkah berani ke dalam hutan menerobos semak belukar. Sebaliknya, Zein menatap kepergian ayahnya sendu, jantung berdetak lebih kencang diselimuti rasa takut, seolah ia tak akan menatap wajah ayahnya lagi untuk waktu yang lama..

Bukan tentang Leon, Dru, Zein sekalipun... meski mereka adalah korban, itu saja tidak cukup membuat kisah ini. Ada suatu kekuatan Maha dahsyat dan belum banyak orang tahu tentang hal itu. Bayangkan sebuah magnet ketika dihadapkan pada sisi yang berbeda, betapa besar energi tarik menarik muncul. Bagai lingkaran—setan yang saling berhubungan, mengikat, menutupi keinginan terpendam, ketika keraguan justru menjadi daya tarik, dan kebenaran tidak lagi relatif.

BELUDRUDonde viven las historias. Descúbrelo ahora