6

453 67 2
                                    

Alain menyumpah sekali lagi saat mengunci pintu kamarnya, mengeluarkan komputer jinjing yang tersambung pada kamera keamanan yang di pasang sembunyi-sembunyi olehnya - yang tidak ada seorangpun tahu kecuali dirinya dan Tarry - untuk mengecek keadaan lorong di semua bagian rumah, sebelum mengganti bajunya dengan kaus dan celana hitam, memakai topeng ski dan memasang sarung tangan. Memeriksa sekali lagi tampilan di layar komputer jinjingnya sebelum mematikan lampu kamarnya agar siapapun yang melihat lampu kamarnya akan berpikir bahwa dirinya sudah tertidur lelap seperti bayi. Alain menarik turun topeng ski hitamnya untuk menyembunyikan wajahnya, mengambil tali karmantel statis berwarna hitam dari bawah lemari sebelum mengikatkan tali itu di pengait yang di pasangnya di balik kotak saklar lampu - untuk menyamarkan - dan mulai memanjat turun dari jendela kamarnya, ke tiga lantai di bawah lantai kamarnya karena beberapa hari yang lalu saat pertama kali kedatangan tunangannya dan pengawalnya, Tarry sudah menjelaskan padanya bahwa pengawal pria yang dibawa oleh tunangannya adalah seorang gadis. Dan dari penjelasan Tarry jugalah, Alain tahu bahwa gadis itu berada di kamar tiga lantai di bawah lantai kamarnya, benar-benar di bawah jendela kamarnya. Itu terlalu mudah dan ini bukan cerita dalam film-film yang penuh dengan kebetulan.

Alain melompat untuk menjejak dinding di depannya, membantunya turun ke bawah saat dengan perlahan mengulur tali dalam genggamannya. Ia menahan pergerakannya, merapat pada dinding agar menyatu dengan kegelapan dinding luar yang tidak terkena cahaya lampu taman saat mendengar seseorang membuka pintu balkon di kamar bawah kamarnya. Alain menyumpah dalam hati karena kebetulan terjadi disaat mendesak seperti ini, tunangannya memilih saat ini untuk keluar ke balkon. Gadis itu memakai baju tidur satin tanpa mengenakan apapun di dalamnya sehingga Alain bisa melihat puncak gelap payudara gadis itu namun yang ada di pikiran Alain hanya bahwa gadis itu pasti akan sakit jika terlalu lama di balkon, tidak sama sekali membayangkan bagaimana rasa kulitnya seperti saat Alain melihat gadis dua dolar yang saat itu membuatnya bertekad ingin tidur dengan seorang gadis, tapi gadis itu adalah dia, walaupun Alain sama sekali tidak mengenal gadis itu atau apakan gadis itu pelacur yang bersih. Alain hanya ingin dia. Hanya itu dan tidak ingin dengan gadis lain.

Alain mengedarkan pandangan saat merasakan sesuatu mengenai lengannya dan hampir saja mendesis kesal saat melihat Tarry melongok dari balkon kamar Alain, memergokinya bergelantungan di luar. Alain mengangkat salah satu tangannya yang bersarung tangan untuk memberi isyarat pada Tarry ke arah balkon kamar tunangannya. Tarry menunduk untuk melihat ke bawah sebelum mengangguk setelah memberi isyarat tangan pada Alain agar naik kembali ke atas, tapi Alain tidak bisa melakukannya sekarang. Gadis dua dolar itu ada di dalam rumahnya sekarang dan Alain harus tahu maksud gadis itu berada di sana. Alain sangat tidak percaya dengan kebetulan. Tidak mungkin kebetulan gadis itu ada di kota yang sama dengan kota tempatnya melakukan pertunjukan boneka, tidak mungkin kebetulan juga gadis itu menjadi pengawal tunangannya yang akhirnya memertemukan mereka kembali. Gadis itu pasti tahu bahwa Alain tidak benar-benar idiot seperti yang selama ini di perankannya di rumah - bahkan Alister saja tidak tahu. Terutama Alister - dan karena itulah Alain harus mencari tahu siapa dan apa sebenarnya gadis itu. Gadis manis yang menggairahkan tapi juga penuh tipu daya.

Alain mendesah lega mendengar seseorang mengetuk pintu kamar tunangannya yang akhirnya membuat gadis itu menggerutu saat masuk kembali ke dalam kamarnya setelah menutup pintu balkon kamarnya. Ia mengulur tali hitam dalam genggamannya untuk turun kembali dan bergerak perlahan untuk masuk kedalam balkon kamar gadis dua dolar yang pintunya tertutup namun masih ada cahaya yang keluar dari kamar itu. Alain mengintip kedalam kamar tepat saat gadis itu melepas kumis yang digunakannya dan menempelkan kumis itu dengan kesal ke tiang ranjang berukir seolah bisa mengurangi rasa kesalnya dengan hal itu. Alain tanpa sadar tersenyum melihat wajah putus asa gadis itu yang kini mengenyakkan bokongnya ke atas ranjang lalu mengeluarkan ponselnya, setelah mengacak rambut pendeknya hingga membuat rambut itu berdiri sebagian seperti landak, namun Alain yakin wajah gadis itu akan terlihat sangat imut dengan rambut landaknya.

Alain mengeluarkan alat pencongkel kecil dari saku celananya dan mulai mencoba membuka selot jendela balkon kamar itu dan hampir berteriak senang saat mendengar bunyi klik pelan, lalu suara gadis itu mulai menembus melalui cela jendela yang terbuka.

"Aku tidak mendapatkannya." Kata gadis itu murung. Mendapatkan apa?

Alain melihat gadis itu mulai berdiri dan mondar-mandir dengan tangan masih memegangi ponsel di telinganya. Lalu mulai menegang saat melihat gadis itu mulai dengan kesal membuka kancing kemejanya seolah membutuhkan kebebasan dari kungkungan kemejanya sendiri. Ya Tuhan.

"Aku ingin sekali membunuhnya. Demi Tuhan." Erang gadis itu membuat Alain mengerutkan kening. Jadi seseorang mengirimnya untuk membunuhku?

Alain membuka jendela itu lebih lebar untuk menyelinap kedalam ruangan, memanfaatkan fokus gadis itu pada percakapan di ponselnya. Alain akan melukai gadis itu jika gadis itu benar-benar di kirim oleh seseorang untuk membunuhnya, dan Alain sangat menyayangkan hal itu. Karena gadis itu adalah pembunuh bayaran yang sangat menggairahkan baginya, melebihi tunangannya - siapa nama tunangannya? Alain bahkan lupa untuk bertanya dan tidak peduli dengan nama gadis itu.

Alain mendekat dan sangat yakin dirinya akan berhasil menyeragap gadis itu, saat gadis itu bahkan tidak menoleh saat Alain sudah berada satu rentangan lengan darinya akibat langkah Alain yang teredam oleh karpet di dalam kamar itu, dan walaupun tidak ada karpet di sana, Alain mampu bergerak tanpa suara karena kebiasaan Alain untuk bertahan hidup dari ancaman-ancaman yang datang tanpa henti untuknya. Alain sudah terbiasa menghindar dari bahaya, tapi kini dirinya sadar sudah menghampiri bahaya dengan mendekat pada gadis itu. Walaupun Alain masih ragu dengan kemampuan gadis itu, tapi Alain rasa dirinya tahu gadis itu bukan seorang profesional karena seorang profesional akan menyadari ada seseorang yang menyelinap di belakangnya walaupun tanpa melihat posisi penyusup di dalam ruangan itu. Seorang profesional selalu memiliki insting yang kuat dan terlatih, tapi gadis yang membelakanginya ini bahkan masih berbicara - atau menggerutu - pada seseorang di seberang telepon. Tapi siapa yang mengirimkan seorang gadis tidak terlatih untuk membunuhnya? Jika aku ingin tahu, aku hanya perlu bertanya langsung padanya.

Alain mengulurkan tangan dengan cepat dan mencekal tangan gadis itu untuk memelintir agar menjatuhkan ponsel yang masih di pegang gadis itu, lalu berniat mengakhiri panggilan itu saat sadar semua rencananya hanya tinggal rencana karena kepalanya membentur lantai dengan keras.

SAD ADVENTURE : invincibleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang