Author P.O.V
Di sebuah sekolah ternama di Jakarta, di lapangan yang penuh dengan anak murid, terlihat 2 orang sedang saling berdebat.
"Hooohh... jadi kau pikir kau paling hebat di klub basket, Aninditha!"
"Ya... Dan kau akan memotret diriku untuk tugas sekolah, Shania!"
"Sudah kubilang. Lebih baik memotret orang lain daripada dirimu! Satu lagi, panggil aku Gracia!!"
"Blah blah blah. Bodo amat...." ucap Anin sambil pergi menuju kelasnya. Gracia yang melihat itu hanya kesal sambil bergumam sendiri.
Semua murid di SMA 48 Jakarta sudah tahu bahwa Aninditha Rahma dan Shania Gracia adalah rival. Mereka selalu berdebat jika bertemu, kapanpun dan di mana pun. Tak ada yang mau mencampuri urusan mereka, jika ada, maka orang itu akan terlibat masalah dengan guru bahkan Anin dan Gracia.
Sebenarnya Anin dan Gracia adalah teman sejak kecil karna orang tua mereka begitu dekat, namun karena suatu kejadian, akhirnya mereka menjadi rival sejak SD, SMP, bahkan SMA.
Brakkk!
"Buset, Gre. Itu pintu masih dicicil loh," ujar Kevin teman Gracia.
"Anin lagi ya?" Tanya Gabriel.
"Gak usah ngomongin dia, Gabriel,"
"Saya cuman nanya doang, emang gak boleh nanya ya, Gre?"
"Boleh. Tapi jangan ada nama 'Anin' dipertanyaanmu."
"Gre. Mau sampai kapan kamu sama Anin jadi rival? Mau sampai kapan?" Gracia yang mendengar itu spontan mendekati Shani.
"Ci Shani tahu apa soal permasalahanku? TAHU APA?!!"
"Berita itu masih ada, bahkan para kepolisian dan detektif masih mencari tahu apa penyebab kejadian itu, Gre.." Gracia dengan amarahnya pergi dari ruangan klubnya itu dan membanting pintu. Jam pelajaran setelah istirahat sudah dimulai, tetapi Gracia tidak ada di kelasnya.
*Atap Sekolah*
Angin yang berhembus mengenai rambut Gracia dan membuatnya tenang. Tak ada suara keributan murid-murid di sekitarnya. Gracia duduk di atap sekolah, sambil mendengarkan lagu favoritnya, setelah ia terlelap, ia bermimpi dan mengulang kejadian 10 tahun lalu.
- Flashback -
Saat itu, keluarga Gracia dan Anin pergi berlibur bersama ke suatu tempat. Gracia dan Anin juga masih kelas 2 SD. Sampai saat perjalanan pulang....
"Libur telah tiba.... Libur telah tiba...., hore hore hore!" Anin bernyanyi dengan lantang sampai seisi mobil tertawa renyah mendengar Anin bernyanyi.
"Libur telah tiba ndasmu, 2 hari lagi kita masuk sekolah" ucap Gracia sinis namun tak menoleh sekalipun, ia hanya memandang ke arah jendela.
"Iii... Kok kamu sewot gitu sih, Gre?"
"Siapa juga yang sewot, aku cuman sinis"
"Sama aja!"
Tin... Tin...
"AYAH AWAS!" pekik Gracia sambil menunjuk ke arah depan. Ayah yang mendengar teriakan Gracia langsung membanting stir ke arah kanan untuk menghindari mobil yang ada di hadapannya itu. Namun karena malam hari, ayah Gracia tidak menyadari bahwa disisi kanan adalah pembatas jalan yang di bawahnya sungai dengan debit volume air yang banyak. Alhasil, mobil bagian depan hingga tengah hampir terjatuh ke bawah, untung saja ban mobil belakang menyangkut di pembatas jalan sehingga membuat mobil tergelantung.
"Err...shh.. Aduh," erang Gracia. Pelipis kirinya dipenuhi darah. Gracia menoleh ke arah Anin. Ia melihat Anin sedang mengotak-ngatik handphone ayahnya.
"Anin! Disaat seperti ini kamu malah main hp! Yang benar saja!"
"Berisik! Kau telepon polisi dan rumah sakit. Aku akan menemukan barang untuk memecahkan jendela belakang."
"Tapi, Anin...."
"LAKUKAN SAJA, GRACIA!" bentak Amin lantang. Dia sedang diburu perasaan cemas, Anin tak ingin meninggal di umurnya yang masih belia.
Ayah dan ibu Gracia juga Anin pingsan. Mereka sudah tak tahu lagi harus berbuat apa.
"Aku sudah telpon polisi. Mereka akan datang kurang lebih 27 menit lagi. Sekarang harus apa?" pekik Gracia khawatir. Mendengar itu, Anin menarik kerah kemeja Gracia kasar.
"Bantu aku cari alat untuk memecahkan jendela belakang." Gracia mengangguk cepat lalu mecari alat untuk memecahkan kaca.
"Gre..." lirih ayah Gracia. Anin dan Gracia yang mendengar itu menoleh ke arah kemudi.
"Ayah..." Gracia berusaha melewati orang tua Anin yang duduk di tengah.
"Jangan.. Jangan kesini, Gre."
"Tapi Ayah..."
"Ayah menyimpan palu disini, kau bisa menggunakan ini untuk selamat dari sini." Ayah Gracia memberikan palu yang akhirnya di sambar oleh Anin dan langsung di lemparkan ke arah jendela. Alhasil, kaca jendela itu pecah.
"Gre, ayo!" panggil Anin sambil mengambil ancang ancang untuk melompat.
"Gak. Aku gak akan pergi tanpa keluargaku" lirih Gracia, lalu meneteskan air matanya.
"KAU INI GILA YA?!"
"Ya, aku gila."
"Gre, kalau kau menarik ayahmu kesini, mobil ini akan jatuh karena ada pergerakan dari dalam!"
"BERISIK! Memangnya kau ini siapa?!"
"Kau ini keras kepala ya!" karena kesal. Anin menarik lengan kiri Gracia sekuat tenaga saat ia melompat. Alhasil, Gracia yang panik pun ikut terseret lalu melompat hingga mendarat di jalanan yang beraspal itu. Tak lama kemudian, mobil yang Gracia dan Anin tumpangi jatuh ke sungai dan tak ditemukan mayat dan bangkai mobil itu.
- END OF FLASHBACK -
Semilir angin dan bunyi bel pulang sekolah membuat Gracia membuka matanya. Matanya sembab karena menangis saat bermimpi tentang kejadian itu, 5 menit kemudian Gracia beranjak dari tempatnya lalu pergi menuju kelas.
*Lapangan*
"Bolos pelajaran apa aja gue?" batin Gracia sambil berjalan gontai, Anin yang melihat Gracia berjalan gontai pun langsung menghampirinya.
"Ciee... Yang bolos 3 pelajaran.." goda Anin.
"Berisik."
"Awas, bentar lagi ulangan akhir semester loh, terus ulangan kenaikan kelas. Jangan sampai kamu gak naik kelas Gracia."
"Cih." Ucap Gracia kesal. Anin yang mendengar itu pun langsung pergi.
"Entah sampai kapan aku dan dia bermusuhan, rasanya aku berhutang nyawa pada Anin." batinnya sambil menuju ke kelas.
- TBC -
Fanfict pertama😅 sebenarnya fanfict ini bikinan temen, saya publish tanpa seizin dia😅 tapi kalau mau protes atau apapun, protes nya ke dia aja ShafiraMI😅 terima kasih sudah membaca😊
YOU ARE READING
Rival !
FanfictionBaca aja kalau menarik... Maaf kalau banyak typo atau kesalahan lainnya. Semoga kalian suka dan.... Happy reading ^o^
