1st : She Gave Me A Smile

35 3 1
                                        

       Menyesap secangkir Espresso ditemani potongan Strawberry Cheese Cake sambil memandangi suasana dari dalam café, sepertinya mulai menjadi kebiasaanku beberapa minggu terakhir ini, seusai pulang kerja dan mengistirahatkan pikiranku dari kepenatan berkas dan meeting yang tak akan ada habisnya di kantorku.

"Sepertinya kau tak bosan menikmati kepadatan jalan raya di sore hari, ya?" Aku menoleh ketika mendapati seorang wanita berparas manis tak kalah manisnya dengan cake yang sedang kunikmati saat ini, kulihat ia tengah sibuk menata rapi beberapa cake dan cookies pada bagian rak - rak yang berjejer tak jauh dariku.

"Entahlah, hanya menghitung berapa banyak kendaraan bermotor yang bertambah setiap harinya," Jawabku tanpa berniat memutus pandangan mataku darinya, hidung mungil dan bibir tipis menghiasi wajahnya yang oval sangat kontras dengan mata kelabu miliknya, terkadang aku bertanya - tanya bagaimana bisa orang Indonesia tulen seperti dirinya memiliki iris mata yang berbeda dengan kebanyakan masyarakat di negara ini. Seakan menyadari tatapanku ia pun menolehkan wajahnya dengan senyuman yang mengembang ke arahku.
Aku yakin saat ini aku lebih terlihat seperti bocah SD yang ketahuan menyontek oleh gurunya pada saat ulangan, buru - buru mengangkat cangkir kopiku dan menyesapnya perlahan, setidaknya cara itu yang paling ampuh menyembunyikan kegugupan yang tiba - tiba melandaku.

Uhuk... uhuk...

Sialnya aku lupa memeriksa kembali isi kopiku dan sekarang aku harus menanggung resiko tersedak ampas kopi yang mengendap pada dasar cangkir, oh Tuhan.... sejak kapan seorang pria berkharisma yang selalu menyibukkan diri dengan tumpukan berkas tiap harinya beralih menjadi si bodoh - tersedak ampas kopi - hanya karena seukir senyuman, lelucon apalagi setelah ini (?)

"Are you okay ?" suara lembut menginterupsi pemikiranku tentang efek samping dari sebuah senyuman, aku mengangkat wajahku dan menemukan si pemilik senyuman ternyata sudah berada di sampingku, jari - jari tangannya mengusap pelan punggungku mencoba meringankan kerongkonganku yang mulai terasa gatal. Seolah memahami keadaanku, dia memanggil seorang pelayan dan memintanya mengambil segelas air minum, tak perlu waktu lama pelayan tersebut kembali dan menyerahkan segelas air minum pesanannya kepadaku yang segera kuteguk.
Melihat caraku meminum air lebih terlihat seperti orang yang berhari - hari belum menyentuh air, dia terkekeh sebentar seraya melepas apron nya dan menggeret kursi di hadapanku.

"Ku harap kau tak kan tersedak lagi jika caramu meminum air seperti itu," Dengan jarak sedekat ini aku dapat melihat lesung pipit di sebelah kanan wajahnya yang sedang menahan tawa. Aku terpesona beberapa saat memandangi senyumnya, seseorang yang biasanya hanya dapat kulihat dari jauh, berlama-lama memandang wajahnya serta mengaguminya dalam diam kini menatap balik padaku. Ya, alasan utama mengapa aku sering kemari adalah wanita di hadapanku ini.

Olivia Ananta,

Pemilik caffé Bene

"Terima kasih untuk pertolongannya, coba tadi kau tak menolongku bisa dipastikan besoknya kau akan melihat kabar di headline news dengan judul 'Seorang pria lajang ditemukan mati setelah tersedak ampas kopi' cukup tragis bukan?" candaku sambil menormalkan detak jantungku yang tak beraturan sedari tadi.

"Astaga! khayalanmu tinggi sekali," ujarnya di sela - sela tawa renyahnya.

"kuanggap itu sebuah pujian, Nona."

"Hei, kau tak perlu memaggilku 'Nona' aku tidak semuda itu, ya..." balasnya memperingatiku. "panggil saja Oliv," lanjutnya sambil mengulurkan tangannya ke arahku.

"Ardi," balasku sambil menjabat tangannya yang sangat pas di dalam genggamanku. Oh Tuhan... bisakah Engkau menghentikan waktu sekarang juga, aku tidak ingin melepaskan tangannya. Kumohon...
Namun sayangnya doaku tak pernah terkabul karena pada akhirnya ia duluan yang melepaskan tangganya dari genggamanku.

"Tapi kurasa kau memang masih terlihat muda. Makanya aku memanggilmu 'Nona'..." Kulihat ia tersenyum merona ketika aku mengomentarinya seperti itu.

"Hmm... biar kutebak pasti umurmu pasti 20 tahun, am right?" lanjutku berusaha menebak - nebak usia wanita muda nan cantik di hadapanku ini.

"Sayangnya perkiraanmu meleset, kalau kau bertemu denganku 6 tahun yang lalu dan mengatakan hal yang sama seperti itu mungkin aku akan salut padamu." Sambil menompang dagunya dengan tangan kirinya, ia tersenyum remeh padaku.

"Lagipula aku sudah tidak berada di masa itu lagi," gumamnya walau masih terdengar olehku.
Hah! kurasa jika ada yang melihat tampangku saat ini, dengan mata melotot dan mulut yang menganga beberapa centi mereka akan mengatakan bahwa aku terlihat seperti orang blo.on. Sungguh tak dapat kupercaya bagaimana bisa dengan umur yang mendekati 30 tahun ia masih terlihat seperti seorang mahasiswi baru. Padahal tadi aku ingin bertanya padanya sesuatu yang berhubungan tentang kuliah seperti "Apakah kau baru pulang kuliah?" atau semacamnya

"Kenapa kau menatapku seperti itu." Mungkin ia mulai menyadari ekspresi terkejutku yang lebih terlihat seperti orang dungu. Memalukan sekali...
Aku pun langsung menegakkan punggungku sambil tersenyum kikuk dan menatap ke arah lain. Hingga tiba di suatu titik semuanya mendadak sirna, kegrogian yang melanda, senyum yang awalnya masih terukir di wajah beserta semua harapanku seketika lenyap semua entah kemana.

Aku hanya bisa tersenyum kecut menatap emas putih yang melingkar di jari manisnya. Sekarang aku mengerti apa yang diucapkannya barusan tentang ia yang sudah bukan masanya lagi. Memang sungguh miris membayangkan nasib diriku saat ini, belum sempat aku memperjuangkannya, namun apalah dayaku segala sudah terlalu terlambat untuk mengejar cintanya, bahkan mengharapkan dirinya berada di sisiku merupakan hal yang paling mustahil. Aku juga bukanlah seorang pria bodoh tak dapat memperhatikan perut yang mulai membuncit di balik dress chiffon yang ia kenakan meski tidak kentara tapi tak mengesampingkan fakta bahwa wanita yang kucintai dalam diam sedang mengandung seorang bayi yang tak lama lagi hadir di dunia ini.
Aku mengembuskan perlahan napas beratku, mengapa dulu aku tak menyadarinya sejak merasakan ada benih-benih cinta yang mulai tumbuh dan kini telah mengakar dalam hatiku. Walau sempat terbesit dalam benakku untuk merebutnya dari suaminya, tapi mana mungkin aku tega memisahkan calon anaknya dari sang ayah. Meski sampai hari ini aku belum pernah bertemu suaminya aku takkan memilih jalan pintas seperti itu, setidaknya untuk saat ini.

Dulu aku selalu menganggap konyol setiap orang yang berkata 'cinta tak harus memiliki' dan lucunya sekarang aku termasuk bagian dari mereka bahwa jika kita mencintai seseorang maka tak harus dengan memilikinya tapi dengan menjaga dan melindunginya diam - diam juga bisa termasuk kategori cinta bukan?, mungkin hal ini yang paling bisa kulakukan saat ini.

***

Haloha!
I'm newbie in here, so i'm sory if there are mistakes.
Ditunggu ya kritik sarannya, tenang aja yang pedas jg gk masalah, lagian aku  orangnya suka makan yang pedas-pedas jd gk ngaruh (?)
Yah segitu ajalah salam sapa nya 😊

Thanks a lot for reading this chapter...

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Nov 10, 2016 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

She Will be LovedHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora