1. gelenyar aneh

141 12 0
                                        

      Ketukan pintu terdengar mengawali hari senin ini. Nama Rafka terus terlontar dari mulut wanita yang kini masih senantiasa berdiri didepan pintu kamar yang terkunci rapat. "Rafka, sarapan!" katanya dengan nada agak tinggi. Rafka yang telah siap dengan seragam putih abu-abunya bersikeras tidak akan keluar kamar sebelum orang yang berstatus sebagai ibunya beranjak dari depan pintu kamarnya. 

       Mendengar hari-harinya dengan bentakan-bentakan yang terlontar membuat Rafka terbiasa dalam zona dingin nan keras. Membentuk pribadi Rafka kini. Sejujurnya Rafka lelah jika berada dalam bentakan-bentakan, ia juga ingin kelembutan. Dan ia tidak yakin jika ia akan mendapatkan kelembutan dan kebahagiaan latarnya lagi.

       Setelah mendengar tidak ada suara dari ambang pintu kamar, ia segera membawa tasnya yang disangkutkan dibahu kanannya dan bersiap menghadapi kejadian yang selalu berulang setiap harinya. Rafka berdiri mengambil roti dan mengoleskan sedikit mentega dengan tas yang senatiasa tersangkut dibahu kanannya. Tidak ada perbincangan hangat diantara papa, mama dan dirinya. Papa sibuk mengoleskan mentega dan matanya terpaku pada layar laptop, mama sibuk men-scroll layar ponselnya.

       Tidak diberi tahupun, Rafka tau kejadian apa yang terjradi sebelum ia keluar kamar, papa dan mama pasti bertengkar. Itu merupakan salah satu hal yang membuat Rafka jenuh ketika berada didalam rumah. Ia fikir untuk apa rumah mewah, megah, dan besar jika isinya tidak ada kehangatan? Hanya gedung biasa fikirnya.

       Setelah menghabiskan rotinya dalam posisi berdiri, ia segera merogoh saku celana dan menggapai kunci motornya. Tanpa berpamitan atau mencium tangan orang tuanya.

       "pulang jam berapa nanti?" terselit nada amarah yang dipendam dalam perkataan papa.

       Sudah beberapa tahun terakhir tingat emosi papa tinggi, jujur saja, Rafka rindu akan kelembutan papa, selalu pergi berolahraga bersama disetiap akhir pekan, namun Rafka telah kebal dengan zonanya yang sekarang ini.

       "bukan urusan papa" Rafka segera keluar dari rumahnya dan menaiki ninja berwarna merahnya, menuju tempat dimana ia bisa sedikit merasakan kehangatan dari teman-temannya, SMA Triawangsa.

    *****

        Rafka memarkirkan sepeda motornya di Parkiran motor didekat pintu masuk. Jika melirik jam, bel masih lama akan berbunyi,06.35 tepatnya. . Rafka menyisir rambutnya menggunakan jemari tangannya. Seratus persen ia yakin, jika para siswi yang melihatnya, pasti akan meleleh ditempat. Menyusuri selasar kelas yang mulai diramaikan oleh siswa berlalu-lalang sambil membawa topi sekolah. Tepat setelah melihat topi yang dibawa oleh salah satu temannya tadi, ia baru mengingat bahwa ia tidak membawa topi, lagi.

       Rafka memasuki ruang kelasnya, dan mendapati Darna, Titan dan Fauzan sedang berkumpuk dimeja paling belakang bersama teman laki-laki lainnya. Tawa renyah terlontar dari gerumbulan laki-laki. Darna melirik kedatangan Rafka yang berdiri diambang pintu, ia hanya memperhatikan gerumbulan yang sedang berkumpul dibelakang.

       "Woi,woi Raja Baday datang! Baris woe baris" teriak Darna yang lalu memulai berdiri didepan . disambung seluruh laki-laki yang mulai berdiri di sisi kanan dan kiri Rafka.

       "Selamat datang, Raja Bohay" kata Darna sopan, lalu menundukan badanya.

       "Baday na, Baday" cela Titan yang langsung mendorong tubuh Darna yang dalam posisi menundukan badan. Sontak badan Darna jatuh tersungkur.

       Semua menertawakan posisi Darna saat ini. Dengan perlahan Darna bangkit dari posisinya dan menatap lekat-lekat mata Titan.

ANGAN.Những tác phẩm khiến độc giả say mê. Hãy khám phá bây giờ