Part 1: First Love

43 2 0
                                        


Suasana kampus hari itu lebih ramai dari biasanya. Tampak beberapa mahasiswa baru memenuhi gedung kesekretariatan. Di antara semua hirup pikuk itu, seorang cowok berjalan santai dengan tas tercangklong di pundaknya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah cewek cantik yang tengah duduk di salah satu kursi taman, sibuk dengan laptop di pangkuannya.

Cowok itu tersenyum tipis, masih mengamati si cewek yang berkonsentrasi penuh pada layar datar di depannya. Lalu tanpa basa-basi ia pun duduk di sampingnya.

"Lo gak ikut rapat?" tanya si cewek, tak mengalihkan pandangan, membuat senyum si cowok berubah menjadi seringaian nakal. Ia menggeleng pelan.

"Males..." Dirangkulnya bahu si cewek hingga pandangannya teralih. Tampak jengkel. "Gue lebih suka di sini dengan gadis tercantik di dunia. Lagian," Cowok itu mendekatkan wajahnya, menegakkan sinyal-sinyal waspada si cewek. "Lagian, yang penting nanti gue ikut kegiatannya bukan rapat-rapet."

"Dasar, emang lo udah lihat semua cewek di dunia? Gombal.."

"Hehehe. Lo sekarang rajin banget, lagi ngerjain apa sih?"

Cepat-cepat cewek itu menutup laptopnya sebelum diintip cowok usil yang masih dengan santai merangkulnya. "Lo gak ada kerjaan lain selain ganggu gue, ya Tom?"

"Yah..pelit." Toma pura-pura mendesah kecewa. Ia lagi-lagi menebarkan senyum mautnya, membuat jantung si cewek kebat-kebit tak tahu sebabnya. "Habis, di otak gue cuma ada lo Sai..mau gimana lagi?"

"Alah," Sai melepas rangkulan Toma. "Alasan lo dari dulu gak ganti-ganti. Katanya playboy, kosakata lo udah beku, ya?" Dimasukkannya laptop ke dalam tas lalu berdiri diikuti Toma.

"Siapa yang playboy?" bantah Toma setengah sebel. Namun, ketika ada seorang cewek manis yang mengerling ke arahnya, Toma membalas dengan senyum lebar. "Gue kan udah tobat Sai."

"Sejak kapan?" Sai melirik tajam cewek yang tersenyum menggoda ke arah Toma. Ya ampun, nih cowok emang bawa virus, batinnya sebel.

"Sejak gue ketemu lo..."

Deg! Sai hampir tertawa. "Gombal lagi. Kemarin gue lihat lo lagi dua-duaan sama cewek, anak MIPA. Siapa namanya? Rie? Eneg gue ngeliatnya!"

"Eneg apa iri?" goda Toma, senang melihat rona merah di pipi Sai.

"Gue? Iri? Sama lo? No way!" dijeplakkannya pintu kantin dengan suara keras. Segera saja pandangan semua orang tertuju pada mereka.

Ya ampun, gue terlalu emosi. Gara-gara Toma sih, batin Sai. Tuh kan, cowok-cowok dah mulai lirik-lirik nakal gitu. Senyum-senyum...Iiih..

"Hai Sai. Makin cantik aja nih.."

"Emang," sahut Toma refleks merangkul Sai posesif. "Cewek gue. Lo lirik-lirik gue congkel mata lo!"

"Wah, sang bodyguard marah nih...takut..hahha.." Para cowok usil itu tertawa ngakak.

Namun, pikiran Sai langsung kosong saat melihat sosok itu. Di salah satu bangku di antara mahasiswa-mahasiswa baru. Mereka bertatapan.

"Kok diam Sai?" Toma mengamati wajah Sai. Ia tampak shock. "Lo lihat apa sih? Kayak ketemu setan aja.." Diedarkannya pandangan hingga menemukan sosok sama yang memerangkap Sai.

NGGAK MUNGKIN! Jerit hati Toma. Kembali ditatapnya wajah Sai, tak ada ekspresi berarti. Ia menatap sosok itu tajam-tajam, berharap ia sedang berkhayal atau apalah. Asal ini tidak nyata. "Sai." Toma menggenggam tangan Sai. Sedingin es.

"Anan." Nama itu terucap pelan, namun mengguncang Toma. "Nggak mungkin..."

"Ayo Sai, kita pergi dari sini." Didorongnya Sai melewati pintu kantin.

"Tapi Tom, itu Anan," ujar Sai lemah.

"Bukan, ia cuma mirip," kata Toma tak sepenuhnya yakin, tapi ia harus meyakinkan Sai.

"Gue pengin ketemu dia."

"Dia bukan Anan. Sai.." Toma menyentuh pipi Sai yang kini basah oleh air mata. "Lo denger gue. Ia hanya mirip."

"Ta-tapi," Sai terisak.

Ya Tuhan, Toma meraih Sai ke dalam pelukannya. Tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan rasa gelisah dalam hatinya. Rasa yang makin tak terbendung ketika melihat sosok mirip Anan itu berjalan tak jauh dari mereka.

Sosok itu menatapnya sama tajamnya.

"Tom," Sai memberontak tiba-tiba dari dekapan Toma. "Gue harus ngomong sama dia."

"Sai?!"

Terlambat. Tangan Toma tak sanggup menggapai Sai, tak sanggup mencegah langkah cepat dan teguh milik Sai. Langkah yang berlari lurus dan tak tergoyahkan ke sosok itu.

Sosok Anan. Kekasihnya...

"Sialan," umpat Toma, tak yakin apakah ia harus menyusul Sai atau diam melihatnya. Tidak! Toma menggeleng tegas. Dulu ia pernah membiarkan Sai pergi ke pelukan Anan dan melihatnya hancur! Tidak lagi..."Sai!"

"Lepas Tom!" Sai menarik tangannya dari genggaman Toma. "Tom!"

"Dia bukan Anan Sai," Plis...Sai ngerti dong, pinta hati Toma. "Dia orang lain."

Sepertinya Sai tetap tak mengerti atau tak mau mengerti. Sosok itu hanya diam menatapnya. Dengan mata itu. Ya Tuhan, ia ada si sepanku. "ANAN!"

"Anan udah mati SAI!" bentak Toma emosi. Secepat nafsu amarah datang secepat itu pula penyesalan datang begitu melihat mata Sai yang beralih padanya. Mata yang penuh luka dan kekecewaan. "Maaf Sai," ucap Toma pelan.

Terdiam, Sai kembali beralih pada sosok yang masih diam mengamati. Sosok itu masih di tempatnya ketika Toma merangkul Sai menjauh.

Menyerah...

Sepanjang perjalanan pulang, baik Toma maupun Sai tak ada yang berbicara. Suasana ini sungguh ganjil mengingat mereka tak pernah kehabisan bahan untuk sekedar berdebat tak penting.

Sudah hampir dua tahun Toma mengenal Sai. Jatuh cinta padanya, patah hati dan setia menanti. Setia menjadi pendamping meski tanpa ikatan. Ikatan adalah hal yang selalu Sai hindari karena rasa sayang Toma yang begitu besar tak pernah mau dimengertinya.

Oh, Toma benar-benar memahami kenapa Sai belum mau membuka hati untuknya. Karena Anan, cowok yang disukainya. Satu-satunya cowok yang benar-benar merenggut hatinya itu telah tiada. Telah pergi dengan cara yang menyisakan rasa bersalah pada Sai. Dan rasanya itu tak akan hilang dengan mudah.

Sialnya, ada cowok yang mirip sekali dengan Anan. Seperti orang yang benar-benar sama, hanya saja cowok itu tak memakai kaca mata.Yah, itu tak berpengaruh, pikir Toma pahit sembari melirik Sai yang duduk melamun di sampingnya.

Sai masih memikirkan cowok itu...Toma ingin sekali menjerit. Tapi, lidahnya terasa kelu.

Tak sampai setengah jam kemudian, Toma menepikan mobil civi hitamnya di parkiran kost. Tak berkata apa pun, Sai keluar dari mobil dan berjalan ke kamar kostnya.

"Sai?" Panggilan Toma menghentikan langkah Sai, namun tak mengalihkan pandangan hampanya.

"Gue pengin sendiri Tom."

Tanpa daya Toma memandang punggung Sai yang menghilang di balik pintu.

"SIAL!" umpatnya lalu meninju setir mobil. "OUW!" Duh, malah tangan gue ikutan sakit.

Dari balik jendelan Sai mengintip mobil Toma berjalan lambat keluar dari komplek kost. Menghela napas, Sai melempar tubuhnya ke atas kasur lalu meraih buku tahunan SMA-nya. Dibolak-baliknya setiap halaman sampai mendapati foto Anan. Satu-satunya foto Anan yang ia miliki. Wajah yang hari ini hadir lagi dalam hidupnya.

"Anan," bisik Sai pelan. "Apa kamu bawa dia untuk aku Nan?"

Kenangannya bersama Anan terasa berputar lagi. "Nan, gue sayang banget sama lo. Kenapa lo pergi? Kenapa lo tega?"

Tangis Sai mulai membanjiri pipinya. "Anan..apa kamu bawa dia untuk aku Nan?"

ΩΩΩΩΩ

My Lovely PlaygirlStories to obsess over. Discover now