"NADAAA!!! BANGUN GAK LO! GUE GAK MAU YA TELAT CUMA GARA-GARA NUNGGUIN LO MANDI! BANGUN"
Aku bangkit dari tidur ku, setelah mendengar suara bak kaleng rombeng yang bisa memecahkan gendang telinga bagi siapapun yang mendengar suara itu.
"Iyah, gue udah bangun" kata ku dengan suara yang juga lantang. Aku turun dari ranjang ku, kaki ku arahkan kearah kamar mandi.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00, dan itu bukan jam yang tepat untuk seorang siswi mandi. So, aku cuma cuci muka dan gosok gigi. Abis itu, pakai seragam, dandan, dan turun kebawah untuk sarapan.
"Pasti gak mandi lagi" tebak Mamah saat melihatku turun dari tangga.
"Ya gitu deh, Mah" jawab ku lalu segera menyambar sandwich yang ada di meja makan.
"Yaudah buruan, Gitar udah nungguin tuh. Kasian kan, dia telat mulu gara-gara kamu" kata Mamah. Selalu aja kata-kata itu yang keluar dari mulut Mamah.
"Iyah, Mah" ucap ku. Aku mencium tangan dan pipi Mamah ku, lalu berjalan keluar.
"Kamu udah nyiapin baju? Tadi ayah kamu telfon Mamah, nagih kamu" Aku melirik Mamah sebentar, ada raut kesedihan di wajahnya.
"Entar aja, udah mau setengah 8 mah. Nada berangkat" pamit ku lalu segera masuk ke mobil Gitar.
🎵🎵🎵
Gitar menghentikan mobilnya tepat diparkiran sekolah. Kami datang tepat waktu, berkat Gitar yang tiba-tiba berubah menjadi pembalap dijalanan tadi, untung saja aku sudah terbiasa.
"Waktunya pindah ya?" tanya Gitar. Aku melirik kearahnya sambil tersenyum miring.
Okey, aku rasa ini waktunya perkenalan. Namaku Aluna Nada, sebenarnya dibelakangnya masih ada 1 kata lagi yaitu, Melodi. Tapi, karna aku gak terlalu suka dengan nama itu. Aku lebih memilih memperkenalkan nama ku dengan 2 suku kata dari nama ku.
Okey, next. Aku siswi kelas XI di SMA Kusuma Bangsa, gak terlalu pinter tapi manis. Well, kalian pasti nanya kenapa aku harus nyiapin baju dan pergi sama ayah ku?
Fyi, Ayah dan Mamah itu udah cerai dari aku kelas 1 SMP. Dan mereka membuat kesepakatan kalau aku harus tinggal 1 bulan dengan Ayah, dan 1 bulan dengan Mamah. Kebayangkan betapa capek nya aku?
Oh iyah, aku juga mau ngenalin Gitar sama kalian. Sebenernya aku punya banyak sahabat. But, because there are only Gitar here. I will introduce him first.
His name is Gitar Anggara Fahlevi, panggil aja Gitar. Sahabat aku dari SD sampe sekarang. Alarm terampuh selama aku 1 sekolah dengannya. You know what i mean lah ya?
Dia tinggi, gak ganteng-ganteng banget, pujaan siswi Kusuma Bangsa, pinter, ketua basket pula. Ah, aku iri padanya.
"Heh! Gak masuk" aku tersadar dari lamunanku, lalu segera menengok ke arah Gitar.
"Eh, iyah. Yaudah sana, lo juga masuk" kataku sambil nyengir ke arahnya.
"Jangan banyak ngelamun dong, Nad. Gak usah dipikirin, ntar sore gue bantuin lo beresin pakaian. Bye" katanya lalu segera berbalik arah.
Sebenarnya kelas Gitar dan aku berbeda 4 kelas, aku di kelas XI'5 dan Gitar di kelas XI'1. Jika dari tangga sekolah, kelas Gitar ada di Ujung tangga. Sementara kelas ku, kita harus berjalan sedikit lebih jauh dari tangga sekolah. Tapi Gitar tetap bersikukuh untuk mengantarkan aku sampai didepan kelas, Dia Aneh!
Aku duduk dibangku ku, merasakan banyak sekali pasang mata yang mendelik garang ke arah ku. "Siaga 1, Nad"
Aku melirik ke teman sebangku ku, dia Aleandra Grabiella. Panggil dia Alea, sahabat ku semenjak aku sekolah disini.
Dia cantik, putih, sama denganku, gak terlalu pintar banget. Tapi lumayan buat diajak susah pas dihukum guru. Wkwkwk:v
"Udah biasa, Le" kataku.
"Selamat pagi Anak-anak" bersama dengan jawabanku, guru matematika pun masuk. Aku benci Matematika
🎵🎵🎵
Bel istirahat baru saja berbunyi. Dan satu lagi fakta tentang aku, aku termasuk siswi yang tidak suka pergi ke kantin. Kalo kata temanku sih, aku itu cewek ter-mager di sekolah ini. Aku sih gak terlalu perduli dengan ucapan mereka, aku tidak mau susah payah berdesakan dengan puluhan murid disekolah ini hanya untuk mendapatkan es.
"Gitar mana, Nad?" aku melirik kebelakang. Dia Terresa, panggil dia Terre. Fans fanatiknya Gitar.
Penampilannya? Enggak banget deh pokoknya. Roknya sangat minim untuk ukuran seragam SMA, bajunya di crop dan ngepas sekali di pinggang, dandanannya menor, rambut berwarna dan digerai. Dibelakang dia, ada sekitar 3 orang yang berpenampilan sama dengannya.
Aku mengedikkan bahuku, lalu kembali pada buku yang sedang aku baca.
"Nada, gue lagi ngomong sama lo" Terre menggebrak meja ku, aku mencoba menahan emosi ku.
"Kalo gue ngegedikin bahu gue, itu artinya gue gak tau" kata ku dengan nada yang malas.
"Lo kan yang selalu bareng sama dia, masa iya lo gak tau dia kemana" katanya lagi.
"Lo tau kan gue gak sekelas sama dia! Jadi kalo udah dikelas masing-masing, ya gue gak mungkin tau dia kemana! Jadi mending lo cari deh tuh dia, dan jangan ganggu kegiatan gue" kata ku dengan emosi yang sudah tidak tertahankan lagi.
"Berani banget lo ngomong keras didepan gue" dia menjambak rambut ku, membuat aku reflex menjambak rambutnya juga.
Ah, sebenarnya aku benci perkelahian. Tapi dia yang memulai duluan kan? Kami terus bergulat satu sama lain, tanganku bahkan tidak bisa diam sekarang.
Aku merasa semakin banyak orang yang mengerubungi kami. "NADA, TERRESA BERHENTI SEKARANG JUGA!"
Terre segera melepaskan tangannya dari rambutku, begitupun dengan aku. Sial, rambutku berantakan dan banyak yang rontok.
"Ikut saya ke ruang BK sekarang!" titah Pak Fardan. Aku hanya menurut aja, mengikutinya menuju ruang BK. Ah, perkenalan yang tidak baik bukan? Tolong bagi kalian yang membaca ini, jangan meniru adegan diatas. BERBAHAYA!
🎵🎵🎵
A/n: hay, tuh dengerin kata Nada. Jangan tiru adegan diatas:'v btw, project baru nih yey. Hmm, belom tau ini bakalan dikerjain sendiri atau nanti kolaborasi lagi. Ceilah:v
So, gimana? Seru? Vote sama koment ditunggu ya:) terimakasih;)
YOU ARE READING
Symphony
Teen Fiction'Anehnya, dari sekian banyak orang, kenapa harus lo?' - Nada ------------------------------------------------------------- 'Kecil berteman, gede jadi pacar' - Gitar ------------------------------------------------------------- CINTA datang karena te...
