Aku menggenggam buku Tosca-ku erat. Kembali mengenang serpihan kisahku dengannya. Mengenang masa dimana aku masih bisa bercengkrama dengannya. Namun, kini ia telah pergi dan tak mungkin kembali. Yang bisa aku lakukan hanya memandang nisannya sambil menahan tangisku. Dia Runako Arsenio. Dia sahabat sekaligus cinta pertamaku.
Semua terjadi begitu cepat, hingga aku merasakan kehilangan yang mendalam. Kepergiannya masih menyisakan penyelesalan tiada akhir dalam hidupku.
***
Hari pertama sekolah sebagai murid pindahan bukanlah hal yang buruk bagi Luna. Apalagi saat Luna tahu ia satu sekolah dengan sahabat masa kecilnya Runa. Namun, pada saat seharusnya Runa menjadi pemandu di sekolah baru bagi Luna, ia malah menghilang.
Luna menggerutu pelan sambil menyusuri sekolah barunya.
"Sial!" umpat Luna. Tanpa sengaja seorang lelaki menabraknya. Hampir saja ia terjatuh, jika saja lelaki itu tidak menahan bahunya. Ketika Luna sudah bisa menjaga keseimbangannya ia mendongak melihat lelaki itu dengan wajah sebalnya.
"Maaf, gue buru-buru." jawab lelaki itu tergesa-gesa.
Luna hanya terdiam ketika seseorang itu berlalu melewatinya begitu saja. Betapa bodohnya Luna tidak melihat badge nama lelaki itu. Luna penasaran siapa lelaki yang menabraknya tapi bel masuk memaksanya untuk melupakan sejenak tentang lelaki itu dan masuk ke kelas barunya. Kalau tidak salah mengingat, ia berada di XI MIA 6. Luna sedikit berlari menuju kelasnya itu.
***
Aku masuk ke kelas tepat waktu. Setelah aku masuk, bu Sherina masuk dan pelajaran pun dimulai dengan lancar. Biologi adalah pelajaran favoritku walaupun aku masih belum terlalu bisa beradaptasi dengan guru baruku, tetapi aku masih bisa mengerti dengan berkonsentrasi. Namun, tiba-tiba seseorang membuka pintu dan mencuri konsentrasiku.
Lelaki itu. Kenapa ia disini? Bukankah diawal pelajaran ia tidak ada? Aku melihatnya meminta maaf pada bu Sherina, lalu duduk diseberang bangku Runa yang berada di depanku.
Dengan penasaran aku menyenggol lengan Laras teman sebangkuku dan bertanya, "Ras, dia itu siapa bukannya tadi'gak ada ya?"
"Oh itu, Dia Axel. Biasalah, dia emang sering telat. Namanya juga ketua OSIS. Pasti sibuk."
Aku hanya terdiam, mencerna kata-kata Laras barusan. Dia ketua OSIS. Aku baru paham apa yang baru saja Laras katakan. Dia ketua OSIS dan tadi pagi aku bertabrakan dengannya? Bukankah itu sebuah kebanggaan?
Bel istirahat telah berbunyi. Runa berbalik menghadap ke arahku, dan menyerahkan bekal kepadaku. Aku jadi ingat dulu saat SMP ia sering membawakan bekal untukku.
Aku menyukainya. Bukan pada bekal yang ia bawa, tapi pada si pembawa. Jujur, aku menyukainya sejak SMP. Namun, ia tak pernah tahu. Aku juga tidak berniat memberitahunya karena aku takut jika bertepuk sebelah tangan.
Semua perlakuannya padaku terkadang membuatku bingung. Kadang ia memberikan harapan tapi kadang ia memupuskannya begitu saja.
Ketika aku makan bersama Runa, tiba-tiba Axel datang mengagetkan kami.
"Maafin gue, nabrak lo tadi pagi." ujarnya.
"Iya 'gak masalah kok, lagian bukannya tadi udah minta maaf?"
"Iyasih tapi tadi kan gue buru-buru. Ngomong-ngomong lo siswa pindahankan?"
"Iya, Lo ketua OSIS-kan?"
"Ya gitulah. Kenalin nama gue Axel." Axel mengulurkan tangannya.
"Luna, salam kenal."
Aku mengulurkan tanganku membalasnya dan tersenyum padanya. Sepanjang obrolan tadi Runa hanya melirik kami dan kembali makan dengan tenangnya. Apakah tak pernah terbesit rasa cemburu dihatinya? Ingin rasanya menanyakan itu padanya. Namun, apa ada daya, ketakutanku lebih besar daripada nyaliku, yang mampu aku lakukan hanya menuliskannya di buku Tosca ini. Buku yang kutulis tentangnya.
YOU ARE READING
Tosca
Teen FictionApa yang akan kalian lakukan, jika bertemu lagi dengan cinta pertama. Bahagia? Namun, tidak bagi Luna semua itu terasa semu. Saat ia tahu cintanya tak mungkin berbalas apakah ia sanggup bertahan?
