Seorang pemuda menatap kearah pintu kaca tersebut, dimana wanitanya tengah terbaring dengan selang-selang yang terpasang di tubuh nya, untuk ehm membantu wanitanya bertahan hidup.
Pemuda itu kemudian masuk kedalam ruangan dimana wanitanya tengah terbaring, membawa sebuket mawar yang di taruhnya di dalam vas kesukaan wanitanya. Kemudian, ia tersenyum. Karna ia sadar mau sekuat apapun ia mengubur perasaannya kepada wanitanya, kami tidak bisa.
Kenapa ia memilih bunga, karena ia tau bahwa bunga itu pertanda, simbol, jejak. Pertanda kalau kami masih mencintainya. Simbol perasaannya untuk nya. Jejak perjalan kami menunggunya untuk kembali disisi kami.
"Udah dua tahun, ya. Udah dua tahun kaya gini, kamu terbaring disini, sementara aku melanjutkan segala yang belum aku capai," Oliver bermonolog.
Tak peduli bahwa yang mendengar monolog nya hanya suara mesin pendeteksi detak jantung sekalipun, ia melanjutkan.
"Oliver," panggil seseorang. Aku tahu siapa dia. Teman terbaikku, salah satu orang yang menunggu dia bangun.
Aku menoleh. "Nathan," sapa ku. "Udah lama sampai?"
Nathan tersenyum. Ia melirik kearah vas bunga, dan menaruh bunga aster di vas bunga miliknya, membuang yang lama. Bunga itu nampak indah jika disandingkan berdua.
Aku menoleh kearah Nathan, bingung mengapa pertanyaan ku tak dijwab nya. Namun tiba-tiba Nathan mulai berbicara, "Udah lama banget kita nunggu Bianca buat bangun, Ver. Tapi gue gak mau nyerah, gua masih siap nunggu Bianca. Tapi satu hal yang gua minta dari lu, Ver, tolong, disaat gue nanti gak bisa jagain Bianca lagi, gak bisa nungguin Bianca lagi, tolong jagain dia buat gue. Seperti yang selama ini kita janjiin."
Seperti yang selama ini kita janjiin. -Ah, kata itu, aku tersenyum miris. Janji. Kata yang selalu kami ucapkan saat waktu itu-ah, tak baik mengulang masa lalu, toh tak akan ada yang berubah. Lagipula dengan mengulang masa lalu, Bianca tak akan tiba-tiba terbangun dan kembali melaksanakan janji-janji kami bersama dulu.
Tapi, lagi, Oliver hanya bisa mengangguk.
"Gue janji Nat." -ah, janji lagi.
------------
Pagi ini, Nathan memulai hari dengan mengendarai Jeep nya menuju sekolahnya. Walaupun daerah ibukota macet, namun ia tetap melajukan mobilnya, sambil mendengarkan cuap-cuap penyiar radio. Ia memasuki gerbang sekolahnya dan segera menuju lapangan parkir. Setelah siap memarkirkan mobilnya, ia segea menuju ke kelasnya.
"Pagi Nat,"
"Pagi Nathan,"
"Pagi Nat, makin tampan deh,"
"Pagi Nat,"
"Pagi Nathan baby, kemana aja kamu?" Nah, yang tadi itu berasal dari Gaby, salah satu fansnya. Memang selalu mengakui bahwa Nathan adalah pacarnya, padahal bukan. Nathan berusaha mengabaikan sapaan dari Gaby dan langsung pergi menghampiri Oliver.
Ya, dan sapaan-sapaan lainnya yang memenuhi gendang telinganya pada pagi hari itu di sepanjang koridor.
Diujung koridor, ia melihat ada Oliver yang sedang mengobrol dengan teman satu tim futsal nya. Segera saja ia melangkahkan kaki menuju Oliver dan menyapa teman baiknya itu.
